Menurut Kantor Berita ABNA, ulama marja taklid Syiah yang bermukim di Irak Ayatullah al-Uzhma Sayid Muhammad Taqi Modarressi, selama pertemuan dengan sekelompok ulama hauzah ilmiah dan guru besar universitas di kota Karbala Irak, mengatakan bahwa komunitas muslim setelah Perang Salib dan Invasi Tatar mengalami penurunan dan kemunduran budaya.
Ia berkata, “Budaya masyarakat Islam bersinggungan dengan budaya Barat sejak Perang Salib. Dalam situasi ini, umat Islam mengadopsi tiga metode. Sebuah kelompok memutuskan untuk menjadi seperti orang Barat untuk kemajuan dan melupakan budaya Islam. Kelompok lain melarang diri bersosialisasi dan berinteraksi dengan masyarakat internasional dan menjadi tertutup. Kelompok ketiga percaya bahwa mereka harus mengambil keuntungan dari poin positif Barat dan menolak poin negatif.”
“Perguruan tinggi kita juga harus mengikuti metode kelompok ketiga, yaitu dengan menggunakan ilmu-ilmu modern, namun tetap harus berhati-hati terhadap aspek negatif dari budaya Barat.” Tambahnya.
“Perguruan tinggi kita, meskipun telah menghadirkan banyak elit kepada masyarakat, masih memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan.” Lengkapnya.
Ayatullah Modarresi lebih lanjut menambahkab, ”Kita harus memiliki kriteria untuk membedakan yang benar dari yang salah, poin apa yang harus dimasukkan dalam budaya kita dan aspek apa yang harus berhati-hati untuk tidak masuk ke dalam budaya kita, dan sayangnya, setelah bertahun-tahun, kita tidak sesukses yang seharusnya."
Di akhir penyampaiannya, Ayatullah al-Uzhma Modarressi menyatakan, “Batas antara hauzah dengan universitas harus dihilangkan, keduanya harus disinkronkan. Dalam kasus hukum Islam, masih harus dilihat hukum mana yang perlu diubah dan direvisi berdasarkan waktu dan tempat, dan hukum mana yang tetap dan tidak dapat diubah.”