11 April 2021 - 13:51
Pesan Ayatullah Zanjani untuk Para Penuntut Ilmu

Intinya, seorang penuntut ilmu, tidak boleh lepas dari kegiatan-kegiatan keilmuan."

Menurut Kantor Berita ABNA, ulama marja taklid Syiah di Qom Iran Ayatullah al-Uzhma Syubairi Zanjani menghimbau masyarakat muslim untuk hari-hari terakhir bulan Sya'ban memanjatkan doa kehadirat Allah swt dan bertawassul melalui para Maksumin as agar umat manusia segera terhindarkan dari bahaya penyebaran virus Corona. 

Ketika ditanya, mengenai apa kewajiban umat Islam di masa sulit seperti saat ini, Ia menjawab, "Kita yakin Allah swt memberikan taufik, pertolongan dan kekuatan kepada para tim medis kita dan berharap agar masalah wabah virus ini bisa segera selesai. Kewajiban kita dalam kondisi sulit ini, adalah memperbanyak doa dan bertawassul kepada Maksumin as."

Ayatullah al-Uzhma Syubairi Zanjani berkata, "Maksumin as adalah individu-individu yang dekat dengan Allah swt. Sepanjang sejarah, umat Islam Syiah bertawassul melalui Maksumin as dan banyak rintangan yang alhamdulillah telah teratasi. Hari ini kewajiban kita adalah juga berdoa dan bertawassul. Khususnya di bulan Ramadhan, bulan yang dijadikan Allah swt sebagai bulan doa dan pengampunan."

Mengacu pada ketidakmungkinan mengadakan upacara publik karena penyebaran korona, Yang Mulia mencatat: "Saat ini, karena keadaan, majelis umum tidak disetujui oleh beberapa ahli, ini tidak berarti menjauhkan diri dari doa dan permohonan." Orang harus mencoba mengikuti secara pribadi apa yang ditekankan oleh para Imam (as).

Terkait dengan kondisi yang tidak memungkinkan untuk menyelenggarakan majelis-majelis doa berjamaah,  disebabkan pandemi, Ayatullah Zanjani mengatakan, "Saat ini sebagai petunjuk dan himbauan otoritas kesehatan, maka perkumpulan-perkumpulan harus dihindari dan dibatasi. Namun bukan berarti doa kita tinggalkan. Kami menghimbau kepada masyarakat luas, agar tidak meninggalkan doa dan ibadah. Beribadahlah dengan cara-cara yang memungkinkan dan tetap sesuai dengan protokoler kesehatan."

Lebih lanjut, Ayatullah Zanjani menyebut keikhlasan dan ketulusan niat untuk dekat dengan Allah swt adalah syarat terkabulnya doa. Ia berkata, "Seorang Muslim harus memperhatikan keridhaan Allah swt. Sebisa mungkin lakukanlah segala sesuatu sesuai syariat dan yang disukai Allah swt. Terkadang ibadah dan doa rumit untuk dipahami. Sebab jika apa yang kita minta terkabul, itu tidak selalu berarti bahwa ibadah kita diridhai Allah swt. Ibadah kita harus merujuk kepada syariat, dan sejauh mana kesungguhan kita menyesuaikannya dengan syariat Allah swt."

Ayatullah al-Uzhma Syubairi Zanjani dengan mengacu pada tugas berat ulama dalam melakukan bimbingan pada umat, mengatakan, "Para pemuka agama juga harus mempertimbangkan hal ini. Mari kita lihat apa yang paling efektif dalam membimbing umat. Mari kita angkat isu-isu yang memang relevan dengan kondisi kekinian dan bukan isu-isu yang tidak jelas pengaruhnya terhadap pembinaan umat. Janganlah menyibukkan ummat dengan menimbulkan masalah-masalah syubhat dan berpotensi menjadi bahan perdebatan. Pastikanlah yang kita kerjakan adalah untuk mengejar keridhaan Allah swt dan Imam Zaman afs. Masalah akhlak dan ahkam syar'i harus selalu menjadi perhatian kita untuk semakin dipahami dan diterapkan dengan baik di tengah-tengah masyarakat." 

"Perbanyaklah membaca Alquran di bulan Ramadhan, dan bersungguh-sungguhlah untuk selalu membantu kesulitan mereka yang kekurangan. Barangsiapa mukmin yang meringankan beban mukmin lainnya maka itu adalah sebesar-besarnya ibadah. Yang mampu bantulah mereka yang miskin, untuk juga bisa menikmati ibadah di bulan Ramadhan dengan baik dan penuh khidmat."

Pada bagian akhir penyampaiannya, Ayatullah Zanjani berpesan kepada para ulama dan orang-orang yang berilmu dengan menyebutkan bulan Ramadhan adalah momen terbaik yang bisa dimanfaatkan untuk memperkuat keilmuannya. Ia berkata, "Tradisi para ulama terdahulu untuk meningkatkan keilmuannya adalah menseringkan melakukan diskusi ilmiah. Para santri dan pelajar harus menghidupkan tradisi ini. Dengan bimbingan ulama atau guru, rajinlah berdiskusi. Melakukan diskusi ilmiah tidak membutuhkan kondisi khusus. Pembahasan ilmiah tidak terbatas pada waktu dan tempat, bisa dilakukan kapan saja dengan suasana santai sekalipun. Kondisi sekarang menyulitkan untuk melakukan pengajaran secara konvensional. Maka perbanyaklah melakukan tahkik dan berdiskusi dengan memanfaatkan semua media yang ada. Intinya, seorang penuntut ilmu, tidak boleh lepas dari kegiatan-kegiatan keilmuan."