Menurut Kantor Berita ABNA, Selain itu tentang pertemuan antara menlu Iran dan Irlandia membahas masa depan JCPOA, pernyataan menteri perminyakan Iran mengenai kegagalan Trump mencegah ekspor minyak Iran, rencana produksi 30 ribu megawatt listrik bertenaga nuklir, target memproduksi 25 juta dosis vaksin Corona, kesiapan Iran membantu Irak menangani terorisme, dan angkatan darat Iran menggelar manuver militer di pantai Makran.
Hadapi Biden, Iran Siap untuk Situasi Apapun
Kepala Staf Kepresidenan Iran Mahmoud Vaezi, mengatakan sikap pemerintahan Biden pasti akan berbeda dengan perilaku pemerintahan Trump dalam berurusan dengan Tehran.
Vaezi dalam wawancara eksklusif dengan Iran Press, Rabu (20/1/2021), menuturkan Trump mengadopsi sikap ekstrem terhadap Iran selama empat tahun terakhir dan juga memiliki perilaku yang tidak rasional terhadap para tetangga Amerika, Eropa, dan Asia.
"Perilaku Trump tidak sejalan dengan diplomasi politik. Atas alasan ini, perilaku pemerintahan Biden akan berbeda," tambahnya.
Vaezi mengatakan pemerintahan Biden mulai menjabat malam ini dan Tehran sedang menunggu untuk melihat bagaimana pendekatan pemerintahan baru AS di hadapan Iran.
"Iran siap menghadapi situasi apapun dan hal yang penting bagi Tehran adalah pencabutan sanksi dan normalisasi kondisi untuk hubungan Iran dengan dunia sehingga dapat dengan mudah mengekspor produknya ke pasar dunia," tegasnya.
Dia menandaskan bahwa Iran juga harus bisa mengimpor kebutuhan pokok dan memiliki hubungan perbankan yang normal seperti di masa lalu.
Menlu Iran dan Irlandia Bahas Masa Depan Perjanjian Nuklir JCPOA
Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, mengatakan implementasi penuh perjanjian nuklir JCPOA bergantung pada pencabutan sanksi.
Hal itu disampaikan Zarif dalam pembicaraan via konferensi video dengan Menteri Luar Negeri Irlandia, Simon Coveney pada Rabu (20/1/2021).
Sebelum ini, pemerintah Irlandia menyatakan akan berusaha untuk mempertahankan perjanjian nuklir 2015 yang dicapai antara Iran dan kekuatan utama dunia.
Sejak awal, jelas Zarif, Iran telah memenuhi semua kewajibannya berdasarkan JCPOA. Namun, setelah Amerika Serikat keluar dari perjanjian ini dan juga ketidakmampuan Eropa untuk melaksanakan kewajibannya secara penuh, Iran memilih mengurangi komitmennya sesuai dengan Pasal 36 JCPOA.
Dia juga mengucapkan selamat kepada Irlandia karena terpilih menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB periode 2021-2022.
Menlu Iran menegaskan bahwa AS dengan menjatuhkan sanksi ilegal khususnya dalam beberapa tahun terakhir, telah melanggar ketentuan Piagam PBB dan perjanjian internasional, dan ini telah merusak multilateralisme.
“Diharapkan kepada semua negara, terutama anggota Dewan Keamanan PBB untuk melakukan upaya konstruktif demi perdamaian dan keamanan internasional,” imbuhnya.
Zarif menilai Iran dan Irlandia memiliki pandangan yang dekat dalam banyak isu penting regional seperti, masalah perlucutan senjata dan bantuan kemanusiaan kepada rakyat Yaman dan Suriah.
Dia juga menyambut baik langkah pemerintah Irlandia untuk membuka kembali kedutaannya di Tehran.
Sementara itu, Simon Coveney juga memandang hubungan antara Iran dan Irlandia sangat penting.
Dia mengatakan kedutaan Irlandia di Tehran dan di beberapa negara lain ditutup dalam beberapa tahun terakhir karena masalah keuangan dan sekarang kami berusaha untuk membukanya kembali secepat mungkin.
Zanganeh: Trump Gagal Cegah Iran Ekspor Minyak
Menteri Perminyakan Iran, Bijan Namdar Zanganeh mengatakan Donald Trump gagal menekan ekspor minyak Iran ke titik nol meskipun telah melakukan upaya total.
Hal itu disampaikan Zanganeh pada acara pembukaan pameran minyak, gas, dan petrokimia Iran ke-25 di Tehran, Jumat (22/1/2021) seperti dilaporkan IRNA.
"Musuh berusaha menekan ekspor minyak Iran ke titik nol, namun bukan hanya gagal melakukan itu, ekspor produk-produk minyak kami justru mencapai angka tertinggi dalam sejarah," ungkapnya.
Zanganeh menjelaskan bahwa di tengah pandemi virus Corona, Iran tetap melakukan ekspor minyak dengan menjaga protokol kesehatan, dan gangguan musuh tidak mampu menciptakan hambatan di bidang ini.
"70 persen dari peralatan yang dibutuhkan oleh industri minyak Iran juga diproduksi oleh perusahaan-perusahaan dalam negeri," ujarnya.
Iran Siap Produksi 25 Juta Dosis Vaksin Corona
Kepala Komite Ilmiah Satgas Penanganan Covid-19 Iran, Mostafa Ghanei mengatakan Republik Islam sedang melaksanakan rencana produksi 25,5 juta dosis vaksin Corona oleh perusahaan dalam negeri.
"Situs UNICEF telah memperkenalkan Iran sebagai salah satu negara produsen vaksin Corona," ujarnya di Tehran, Rabu (20/1/2021).
"Dari sembilan perusahaan Iran yang memproduksi vaksin Corona, tiga vaksin berada dalam fase uji klinis, dan vaksin bersama Institut Pasteur Iran dan Kuba juga siap menjalani uji klinis," jelasnya.
Soal alasan Iran memilih Kuba untuk memproduksi vaksin Covid-19, Ghanei menuturkan sistem kesehatan Kuba dari segi kesetaraan menempati urutan pertama di dunia dan negara tersebut adalah salah satu kekuatan dunia di bidang kedokteran.
"Di masa lalu, Kuba juga bekerja dengan Iran untuk mengembangkan vaksin hepatitis B, dan kedua negara memiliki rekam jejak yang baik dalam hubungan politik dan diplomatik," tegasnya.
342/