6 September 2020 - 08:26
Transformasi Asia Barat, 6 September 2020

Transformasi Asia Barat sepekan terakhir diwarnai oleh sejumlah isu penting di antaranya mengenai kunjungan presiden Prancis ke Irak.

Menurut Kantor Berita ABNA, Selain itu, penegasan parlemen Irak tentang penarikan pasukan AS dari negaranya, laporan PBB yang menunjukkan  Arab Saudi menggunakan bom terlarang di Yaman, pernyataan militer Lebanon bahwa Israel harus keluar dari seluruh wilayahnya, statemen PLO bahwa Palestina menjadi korban ambisi pemilu Trump dan jet tempur Arab Saudi keliru membombardir pasukannya sendiri di Yaman.

Prancis mengambil langkah diplomatik selama sebulan terakhir untuk meningkatkan perannya di Asia Barat dalam bentuk kunjungan presiden Emmanuel Macron ke Lebanon dan dilanjutkan ke Irak.

Kedatangan Emmanuel Macron secara resmi disambut oleh Presiden Irak, Barham Salih, dan Perdana Menteri Mustafa al-Kadhimi, serta Ketua Parlemen Irak Mohammed al-Halbousi di istana Kepresidenan Irak untuk membahas situasi di negara ini dan kawasan.

Lawatan Macron ini menjadi kunjungan kedua seorang pejabat tinggi Prancis ke Irak selama sepekan terakhir. Sebelumnya, Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly mengunjungi Irak pada Kamis (27/8/2020) dan berbicara dengan para pejabat tinggi di Baghdad dan daerah otonomi Kurdi Irak.

Tampaknya, di tengah semakin berkurangnya peran Eropa dalam transformasi kawasan Asia Barat di tengah dominasi peran Amerika Serikat, Prancis berniat untuk mengambil peran tersebut.

Ledakan besar di pelabuhan Beirut pada 4 Agustus 2020 membuka jalan bagi intervensi nyata Prancis dalam perkembangan di Lebanon dengan dua kunjungan Macron baru-baru ini dan presentasi rencana untuk melakukan perubahan mendasar di negara Arab itu.

Sekarang, presiden muda Prancis, yang tampaknya ingin memainkan peran yang lebih besar di Asia Barat, mengambil kesempatan untuk melakukan perjalanan ke Irak demi membuka jalan bagi peningkatan pengaruhnya.

Prancis termasuk salah satu mitra militer dan senjata terbesar rezim Ba'ath Irak, dan memainkan peran signifikan dalam mempersenjatai Saddam menyulut perang delapan tahun yang dipaksakan terhadap Iran.

Kini, Prancis, yang memiliki peran kecil di kancah ekonomi dan militer Irak karena kehadiran dominan AS berupaya meningkatkan pengaruhnya di negara Arab ini.

Parlemen Irak: Penarikan Pasukan AS Harus Dijalankan !

Para wakil fraksi parlemen Irak kembali menekankan penentangan keras terhadap berlanjutnya kehadiran pasukan AS di negaranya.

Perwakilan dari berbagai fraksi di parlemen Irak menyatakan perlunya menjalankan agenda rencana penarikan pasukan Amerika dari negaranya, yang telah disetujui oleh parlemen Irak awal tahun ini.

Pada 5 Januari 2020, parlemen Irak menyetujui rencana penarikan pasukan AS dari negara Arab ini.

Mohammad Karim, anggota fraksi Sadiqun mengatakan, "Negosiator Irak harus mendesak Washington supaya tidak mencampuri urusan internal Baghdad dan menghormati kedaulatan Irak dan menarik pasukannya, sehingga Irak tidak menjadi medan perang,".

Ahmed al-Assadi, seorang anggota faksi Fatah di parlemen Irak, mengatakan pihaknya telah mengingatkan Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi  mengenai penentangan rakyat Irak terhadap berlanjutnya kehadiran pasukan AS di negaranya.

342/