Menurut Kantor Berita ABNA, Parlemen Irak pada Kamis lalu, memberikan mosi percaya kepada kabinet usulan Mustafa al-Kadhimi dan dengan mosi ini, ia secara resmi menduduki jabatan PM baru Irak.
Republik Islam Iran selalu mendukung kemerdekaan, kedaulatan nasional, integritas wilayah dan stabilitas politik di Irak, dan melihat konsensus dari semua arus politik Irak melalui proses demokrasi sebagai satu-satunya cara menuju penyelesaian damai perselisihan. Karena itu, Iran menyambut baik kesepakatan antara kelompok-kelompok politik di Irak, yang menghasilkan pencalonan Mustafa al-Kadhimi sebagai perdana menteri dan suara dari perwakilan rakyat di parlemen kepadanya.
Hubungan Iran dan Irak berdasarkan tiga variabel berkelanjutan yang mencakup "keamanan dan stabilitas Irak", "memperkuat hubungan keagamaan" dan "memanfaatkan semua kapasitas ekonomi".
Dari sudut pandang Iran, keamanan di Irak adalah masalah keamanan dan stabilitas untuk Iran dan kawasan. Prinsip utama dalam hubungan bilateral ini telah terbukti dalam bantuan Iran ke Irak dalam perang melawan terorisme dan Daesh (ISIS) di Irak.
Karena kenyataan ini, al-Kadhimi, dalam pertemuan dengan Iraj Masjedi, Duta Besar Republik Islam Iran di Baghdad, yang berlangsung Sabtu (09/05/2020) malam lalu, menghargai upaya Republik Islam dalam memerangi Daesh dan menganggap Iran dan Irak sebagai dua negara yang bersahabat dan bersaudara.
Komponen penting lain dari hubungan Iran-Irak adalah kepentingan agama bersama. Sambutan tulus dan hangat dari orang-orang Irak setiap tahun dalam acara Arbain kepada para peziarah Iran menunjukkan minat ini dan hubungan persahabatan yang sudah berlangsung lama antara kedua negara.
Secara ekonomi, kedua negara juga memiliki hubungan yang beragam. Keberadaan berbagai jalur penyeberangan perbatasan aktif dan Zona Bebas Arvand di sekitar Irak dan Kuwait, dengan kapasitas yang sesuai seperti transportasi jalan, kereta api, laut dan udara, merupakan hal yang sangat penting dalam pengembangan dan kelanjutan hubungan-hubungan ini. Menurut statistik yang diterbitkan, lebih dari $ 1 miliar barang, termasuk bahan kimia, perikanan dan baja yang diekspor ke Irak melalui Zona Bebas Arvand tahun lalu.
Hassan Danaeifar, mantan Duta Besar Iran untuk Irak, mengatakan bahwa hubungan antara Iran dan Irak berada pada tingkat tinggi dan bahwa ada interaksi yang baik antara kedua negara. Menurutnya, hubungan Iran dan Irak didasarkan pada proses dan kesepakatan dan kesepahaman yang sangat baik dan tepat, dan Mustafa al-Kadhimi, Perdana Menteri Irak yang baru tentu tertarik untuk melanjutkan jalan yang sama.