13 Juni 2014 - 23:52
Iran Tidak Menolerir Kekerasan Takfiri di Irak

Presiden Iran menyatakan bahwa Republik Islam tidak akan mentolerir kekerasan dan teror oleh militan Takfiri dukungan asing dalam menimbulkan malapetaka di utara Irak.

Menurut Kantor Berita ABNA, Presiden Iran menyatakan bahwa Republik Islam tidak akan mentolerir kekerasan dan teror oleh militan Takfiri dukungan asing dalam menimbulkan malapetaka di utara Irak.

 

"Sebagai pemerintah Republik Islam Iran, kami tidak akan mentolerir [tindakan] kekerasan dan teror dan kami melawan kekerasan dan terorisme di kawasan dan di dunia," kata Presiden Hassan Rouhani pada Kamis (12/6).

 

Presiden Iran mengatakan Dewan Tertinggi Keamanan Nasional Iran (SNSC) akan meggelar pertemuan langsung untuk meninjau perkembangan di Irak setelah Daulah Islam fi Iraq wa Syam (ISIS) terus bergerak maju menyerang kota-kota di Irak utara.

 

"Mengapa kelompok ekstremis dan teroris memperlakukan orang dengan cara ini?" tanya Presiden Rouhani.

 

"Saya berharap bahwa tak seorang pun akan melihat film-film [diambil] dari tindakan biadab yang dilakukan oleh mereka (ISIS) di Irak dan Suriah. Sayangnya, orang-orang ini mengaku sebagai mujahid dan Muslim, "kata Rouhani.

 

Militan Takfiri menyerang provinsi Nainawa, Irak, dan memaksa "lebih dari 500.000 penduduk di dalam dan sekitar" Mosul, melarikan diri.

 

Laporan juga menunjukkan bahwa pada tanggal 11 Juni militan Takfiri menduduki kota Tikrit. Namun, tak lama setelah itu, pasukan Irak berhasil merebut kembali pusat kota, yang terletak kira-kira setengah jalan antara Baghdad dan Mosul.

 

Bentrokan berlanjut antara militer Irak dan militan Takfiri, yang bersumpah akan bergerak menuju ibukota.(IRIB)