Menurut Kantor Berita ABNA, setiap tahun, Pemimpin Besar Revolusi
Islam Iran mencanangkan slogan baru yang diumumkan di awal tahun. Kali ini,
memasuki tahun baru Persia 1393 Hs, Ayatullah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei dalam
pesan khusus Nouruz menamakan tahun ini yang dimulai 21 Maret 2014, sebagai
"Tahun Ekonomi dan Budaya dengan Tekad Nasional dan Manajemen Jihad."
Rahbar dalam pesannya menyerukan kepada para pejabat Iran untuk memfokuskan
terhadap masalah ekonomi dan budaya. Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa kedua
sektor tersebut harus menjadi prioritas yang memerlukan partisipasi rakyat
secara luas.
Terkait penamaan slogan tahun ini yang sedikit mengulang tahun
sebelumnya, pemimpin besar Iran mengungkapkan urgensi penggunaan pengalaman di
masa lalu dalam pengambilan keputusan di masa depan. Mengenai kualitas
tercapainya slogan "Epik Politik dan Ekonomi" di tahun 1392 Hs,
Rahbar mengungkapkan bahwa epik politik telah tercapai dengan kualitas yang
membanggakan seperti partipasi tinggi rakyat dalam pemilu dan berbagai keputusan
politik lainnya. Mengenai masalah ekonomi, Ayatullah Khamenei mengapresiasi
sejumlah langkah pemerintah di bidang ini, tapi epik ekonomi di tahun lalu
berjalan tidak sesuai harapan. Untuk itu tahun ini, isu ekonomi kembali menjadi
slogan besar Iran di tahun 1393 Hs.
Ayatullah Khamenei juga menyatakan bahwa "ekonomi
muqawama" memberi panggung bagi para pejabat untuk merestrukturisasi
perekonomian Iran. Pada tanggal 25 Februari, Rahbar menyerukan kepada tiga
lembaga pemerintah Iran untuk serius mewujudkan kebijakan ekonomi muqawama.
Sebagai bagian dari program ini, pemerintah Iran harus mengambil tindakan untuk
meningkatkan "ekonomi berbasis sains dan produksi domestik, khususnya
dalam produk dan jasa strategis yang akan mengurangi ketergantungan terhadap
komoditas impor.
Di tahun 1392 Hs, Iran melakukan sejumlah terobosan penting
di bidang politik dengan memulai kebijakan menarik kepercayaan Barat. Hasilnya,
pemerintah Tehran di bawah kepemimpinan Hassan Rohani berhasil meredam manuver
politik Barat. Tapi tidak boleh lupa, Barat tetap menghendaki terciptanya Iran
yang lemah di bidang politik dan ekonomi. Untuk itu, meski menerima prinsip
perundingan yang telah dicapai di Jenewa antara Iran dan kelompok 5+1, tapi AS
tetap saja melancarkan kebijakan baru untuk menekan Iran.
Gelombang sanksi dan berbagai tekanan politik dan ekonomi serta
perang psikologis merupakan upaya AS dan sekutu Barat untuk melumpuhkan Iran.
Tapi rakyat dan pemerintah Iran berhasil menangkalnya di tengah eskalasi sanksi
terhadap negara itu. Hingga kini, Iran tampaknya masih menghadapi masalah
ekonomi yang perlu penanganan lebih keras melebihi sebelumnya. Untuk itulah,
pemimpin Besar Revolusi Islam menekankan kembali pentingnya penyelesaian
masalah ekonomi yang menjadi salah satu slogan utama tahun ini, selain masalah
budaya.
Nouruz
Perspektif Ayatullah Khamenei
Peringatan Nouruz dalam pemikiran para tokoh memiliki tempat
penting. Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar Ayatullah al-Udzma
Sayid Ali Khamenei juga termasuk di antara para pemikir yang memiliki pandangan
unik dan baru tentang Nouruz. Menurut perspektif Rahbar, musim semi adalah
manifestasi dari kesegaran dan keceriaan. Nouruz juga merupakan sebuah simbol
dari inovasi dan kesempatan untuk membedah hati, sebuah kesempatan untuk
menyegarkan hati dengan mengingat Tuhan.
Ayatullah Khamenei mengatakan, "Nouruz adalah sebuah media
untuk menampakkan penghambaan manusia kepada Tuhan dan ketundukan mereka di
hadapan Sang Pencipta. Perayaan Nouruz merupakan sebuah simbol inovasi,
kesegaran, dan keceriaan. Hari Nouruz juga merupakan lambang kasih sayang dan cinta
terhadap sesama, kasih sayang di antara famili, dan juga simbol untuk
memperkuat jalinan persaudaraan dan cinta di antara sahabat dan kenalan serta
sarana untuk menghapus dengki."
Dalam pandangan Rahbar, Nouruz di beberapa negara regional hanya
dirayakan sebagai sebuah hari raya kuno. Di Iran sebelum Islam, Nouruz juga
diperingati sebagai hari raya kuno yang memiliki tradisi-tradisi yang indah di
samping adanya beberapa unsur khurafat dan tahayul. Pasca masuknya Islam ke
tanah Persia, masyarakat Iran mulai memperkaya peringatan Nouruz dengan
unsur-unsur yang lebih bernilai dan mereka mengubahnya – dari sekedar sebuah
hari raya kuno – menjadi peluang untuk penghambaan dan meraih keridhaan Tuhan.
Ayatullah Khamenei menjelaskan, "Pertama, Nouruz sekarang
bagi bangsa Iran adalah mencurahkan perhatian kepada Tuhan, di detik-detik
pergantian tahun mereka akan membaca doa ‘Wahai Dzat yang mengubah tahun
dan keadaan.' Masyarakat memulai tahu baru dengan mengingat
Tuhan dan meningkatkan perhatian mereka kepada Sang Khalik. Ini adalah sesuatu
yang bernilai. Kedua, bangsa kita memanfaatkan Nouruz sebagai sarana
silaturahmi dan momen untuk menghapus dengki serta media untuk merekatkan kasih
sayang terhadap sesama. Ini adalah persaudaraan dan kasih sayang Islam itu sendiri
serta jalinan silaturahim Islami. Mereka juga menjadikan Nouruz sebagai peluang
untuk berziarah tempat-tempat suci, di mana ini semua sangat baik. Ini adalah
seni bangsa Iran dan selera warga Muslim Iran, di mana mereka mengubah
unsur-unsur yang keliru menjadi hal-hal yang baik dan benar."
Nouruz sarat dengan rahasia dan perayaan ini menandai dimulainya
musim semi yang dihiasi dengan tradisi-tradisi baik. Salah satu tradisi mulia
Nouruz adalah memperkuat tali silaturahim di antara sanak falimi dan keluarga,
di mana menurut ajaran Islam, kegiatan itu akan memperbaiki perilaku,
menyehatkan mental, memperpanjang umur, dan menambah rezeki. Pada dasarnya,
merekatkan hati satu sama lain termasuk di antara keunikan Nouruz. Orang-orang
baik tidak hanya memanfaatkan Nouruz untuk mempererat hubungan antar sesama,
tapi juga ingin meningkatkan keintiman dengan Tuhannya.
Orang-orang saleh berpetualang mencari keridhaan Tuhan dan untuk
tujuan itu, mereka bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang terhadap sesama.
Manusia-manusia berpengetahuan menganggap Nouruz sebagai fase baru dalam
kehidupannya dan pijakan untuk naik ke tempat yang lebih tinggi. Ayatullah
Khamenei percaya bahwa sangat baik bagi manusia untuk menetapkan pijakan
tertentu dalam gerakan kehidupannya, jika tidak, kehidupan akan selalu seirama
dan kehidupan yang seirama ini biasanya akan mencegah mereka untuk berinovasi
dan berkarya.
Nouruz adalah sebuah babak baru dalam kehidupan seseorang, di mana
dapat menjadi sebuah garis start untuk perubahan-perubahan baru, pekerjaan
baru, pemikiran baru, tekad baru, dan motivasi baru. Bagi seorang individu,
gerakan menuju kemajuan akan terwujud ketika ia meluangkan waktu untuk membuka
lembaran-lembaran lama. Ia harus menyingkap kesalahan dan faktor-faktor kegagalan
di masa lalu untuk mengatasinya.
Ayatullah Khamenei menaruh perhatian pada masalah tersebut dan
menilai seseorang perlu mengatasi faktor-faktor kegagalan di masa lalu untuk
memiliki sebuah gerak dinamis. Menurut perspektif Rahbar, langkah itu akan
membuka ufuk-ufuk kemajuan bagi manusia dan memudahkannya untuk melangkah maju
dan mengembangkan karir. Beliau mengatakan bahwa langkah terpenting untuk
mengatasi faktor kegagalan di masa lalu adalah memperbaiki hubungan kita dengan
Tuhan.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran berkata, "Menurut
pandangan saya, poin utama yang perlu diperhatikan (pada hari Nouruz) oleh
manusia adalah masalah hubungannya dengan Tuhan. Mereka harus berpikir baik di
tahun baru dan apa yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya telah berlalu.
Sekarang adalah sebuah babak baru dan kita harus menetapkan sebuah hubungan
baru dengan Allah Swt." Memperbaiki hubungan dengan Tuhan tentu saja akan
menyelesaikan sebagian besar dari problema manusia. Imam Ali as berkata,
"Barang siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Tuhan, maka Tuhan akan
memperbaiki hubungan dia dengan masyarakat."
Memperbaiki hubungan dengan Tuhan sama seperti merawat pepohonan
agar tumbuh dan berkembang lebih baik. Para pemilik kebun biasanya akan
memotong ranting-ranting yang sudah kering dan cabang-cabang yang tidak perlu
agar pohon leluasa bernafas dan memberikan dedaunan yang hijau. Manusia juga
perlu menghilangkan noda-noda hitam dari hatinya dan kemudian mempersiapkan
hatinya untuk menerima pancaran cahaya Ilahi. Bersama hilangnya noda hitam dari
taman hatinya, maka hati itu akan dipenuhi makrifat sebagaimana musim semi yang
penuh dengan bunga.
Ayatullah Khamenei percaya bahwa keburukan bersumber dari
dosa-dosa kita. Siapa saja yang merenungkan tingkah lakunya, ia akan menemukan
dosa-dosa itu dan ia harus berusaha untuk menghapusnya dari hati. Rahbar
mengatakan, "Manusia sudah terbiasa dengan beberapa dosa sehingga
menganggap remeh perbuatan itu. Jika manusia merenungkannya sejenak, maka dosa
itu akan ditemukan dalam perilaku dan sikapnya. Tentu saja manusia berpikir
positif tentang dirinya. Mereka jarang sekali menganggap dirinya buruk. Ini
adalah musibah umat manusia yang membenarkan pekerjaan-pekerjaannya."
Islam sangat menekankan manusia untuk bersikap teliti dalam
bertindak dan selalu mengevaluasi dirinya. Mengenai masalah evaluasi diri,
Rahbar menjelaskan, "Kegiatan evaluasi diri adalah sesuatu yang sangat
baik. Manusia harus mengevaluasi dirinya dan secara perlahan mengurangi
dosa-dosanya… manusia kadang sudah terbiasa melakukan lima hingga sepuluh dosa,
(di tahun baru) kita harus bertekad untuk menguranginya satu per satu, kita
harus menghilangkan titik kelemahan ini secara perlahan."
Berkenaan dengan perkara hati, Ayatullah Khamenei mengatakan,
"Dalam hati nurani manusia dan jiwa mereka, ada dimensi batin yang
biasanya bersikap jujur dengan kita. Meskipun lahiriyah hati membohongi kita,
namun batin hati kita akan bersikap jujur… hati memiliki sebuah dimensi batin
yang jarang sekali kita perhatikan. Jika manusia memperhatikannya, maka ia akan
menemukan dirinya telah ditelanjangi. Manusia baru sadar bahwa mereka telah
akrab dengan beberapa dosa dan menganggap remeh beberapa dosa serta tunduk di
hadapannya. Salah satu kegiatan yang bisa dilakukan di tahun baru adalah
memikirkan cara untuk mengurangi dosa."
Manusia juga dapat menyelaraskan dirinya dengan alam, memperbarui
dirinya bersama alam baru di musim semi, dan merasakan sebuah peristiwa baru
dalam dirinya. Ayatullah Khamenei berkeyakinan bahwa peristiwa besar itu dapat
terjadi pada siapa saja, tapi tentu ada syarat-syaratnya. Mengenai syarat-syarat
untuk sebuah perubahan dalam diri manusia, Rahbar berkata, "Tentu saja ada
sayaratnya jika kalian ingin menjadikan hari pertama Farvardin sebagai hari
baru dan Nouruz. Syaratnya adalah lakukan sesuatu yang akan menciptakan sebuah
peristiwa. Dimana letak peristiwa itu? Di dalam diri kalian! Jika kalian telah
memperbaiki diri, jika kalian mampu membuat mutiara kemanusiaan kalian lebih
bersinar, maka sungguh itu adalah Nouruz kalian."