Menurut Kantor Berita ABNA, Sekretaris Jenderal Hizbullah, Lebanon menyebut rezim Zionis Israel sebagai bahaya bagi Lebanon dan Palestina. Ia mengatakan, "Seluruh negara Muslim hari ini disibukkan dengan masalah internal negaranya dan melupakan bahaya Israel."
Sayid Hassan Nasrullah menambahkan, "Apa yang diinginkan Amerika Serikat dan Israel bukan hanya menghapus masalah Palestina dan pertempuran melawan penjajah Israel dari daftar prioritas, lebih dari itu mereka ingin ketika kita mengatakan kalimat Palestina, masyarakat akan menolak untuk mendengarnya."
Menurut Nasrullah, sungguh disayangkan banyak kalangan yang mengira masalah serangan Israel ke Lebanon adalah masalah utama kehadiran warga Palestina di Lebanon, akan tetapi setelah keluarnya Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dari Lebanon, Israel masih tetap bercokol di negara itu. Mereka melakukan banyak kejahatan di Lebanon dan bermaksud membangun pemukiman-pemukiman di Lebanon Selatan.
Sekjen Hizbullah menegaskan, "Jika tidak ada gerakan perlawanan, Israel akan terus menduduki Lebanon, pasalnya Tel Aviv ingin menjajah Lebanon dan sama sekali tidak menghendaki kebaikan serta perdamaian bagi kelompok manapun."
Terkait masalah Suriah, Nasrullah menuturkan, "Arab Saudi sedang memerangi Suriah dari setiap sudut, namun hari ini petinggi Riyadh memahami bahwa setelah para teroris kembali ke Saudi, negara itu akan terancam bencana."
Berkenaan dengan disahkannya undang-undang untuk mencegah perginya para pemuda Saudi untuk berperang di Suriah, Sekjen Hizbullah mengatakan, "Di Saudi orang-orang yang memprovokasi para pemuda untuk pergi berperang di Suriah mulai digugat dan ini telah berubah menjadi sebuah kebijakan resmi."
Di dalam pidatonya Nasrullah juga memperingatkan jika para teroris berhasil menguasai wilayah-wilayah perbatasan Suriah maka Lebanon akan menjadi medan tempur.
Mengapa para pemberontak Suriah merasa ketakutan pemilu di Suriah digelar, tanya Nasrullah, karena mereka tahu posisi suara rakyat, dan sekarang mayoritas rakyat Suriah tahu siapa yang akan mengganti posisi pemerintahan di negaranya sekalipun tetap mengkritik.
"Rakyat harus tahu bahwa Hizbullah akan meraih kemenangan dalam perang ini, masalahnya hanya waktu saja," tandasnya.