Menurut Kantor Berita ABNA, Khatib Shalat Jumat Tehran, Ayatullah Sayid Ahmad Khatami mengatakan, Mesir adalah tempat munculnya Kebangkitan Islam dan rakyat Muslim di negara itu merupakan para pecinta Islam di mana selama setahun ini berpartisipasi dalam berbagai pemilu untuk memilih wakil-wakil mereka. Namun sayangnya, mereka yang keluar dari Kebangkitan Islam telah bertindak buruk sehingga terjadi kudeta kembali dan para pengkudeta berkuasa.
Ayatullah Khatami dalam khutbah Jumat di Tehran menandaskan, mereka yang keluar dari Kebangkitan Islam alih-alih mengajak dunia Islam untuk bersatu, tetapi mereka justru mendukung kelompok-kelompok Takfiri pembunuh manusia. Bahkan di kancah politik, mereka menyikapi rezim Zionis Israel dengan tindakan yang bertentangan dengan slogan-slogan mereka sebelumnya. Mereka menegaskan berlanjutnya Perjanjian Camp David dan melancarkan Iranpbobia dan Syiahphobia. Demikian dilaporkan FNA, Jumat (5/7).
Lebih lanjut Khatib Shalat Jumat Tehran menuturkan, dampak dari perilaku dan pendekatan tersebut adalah turunnya puluhan juta orang ke jalan-jalan dan kudeta terjadi lagi.
Ayatullah Khatami menambahkan, kita berharap rakyat Mesir yang mencintai Kebangkitan Islam tidak mengizinkan negara mereka kembali berubah menjadi "halaman kosong" bagi rezim Zionis Israel.
Terkait pembunuhan terhadap Sheikh Hassan Shehata, ulama dan cendekiaan terkemuka Syiah Mesir oleh kelompok Takfiri pada 24 Juni, Ayatullah Khatami mengatakan, sekitar seribu orang menyerang perayaan Nisfu Syaban di rumah ulama besar ini dan Sheikh Shehata pun gugur syahid.
Khatib Shalat Jumat Tehran menuturkan, "Mereka berkaitan dengan Wahabisme, dan Wahabisme adalah buatan Inggris. Mereka di masa lalu juga menyerang Karbala, dan dengan 12.000 pasukan (berdasarkan data dengan jumlah yang paling sedikit) telah membunuh 3.000 orang. Di Suriah, mereka membunuh remaja putri di hadapan kedua orang tuanya."
Ketika menyinggung pernyataan anti-Wahabisme oleh para ulama, Ayatullah Khatami menandaskan, diharapkan selain memerangi akibat, penyebabnya juga harus diperangi, dan dengan tegas harus dikatakan bahwa Wahabisme tidak ada hubungannya dengan Islam.
Terkait perlawanan Ahlussunnah terhadap Wahabisme, Khatib Shalat Jumat Tehran mengatakan, Ahlussunah telah mempublikasikan lebih dari 30 buku yang menentang Wahabisme dan Syiah telah menulis 17 buku serupa.
"Kita berharap perlawanan terhadap musuh Islam ini akan membuahkan hasil," ujarnya.
Selanjutnya daam khutbah keduanya, Ayatullah Sayid Ahmad Khatami berkata, "Orang yang meraih tampuk kekuasaan bersandar dengan kebangkitan Islam. Apa yang telah mereka lakukan sehingga memicu perebutan kekuasaan adalah tindakan yang tidak baik. Mereka telah mengganti wacana persatuan umat Islam menjadi dukungan terhadap kelompok pembunuh takfiri, atau hanya sekedar diam ketika berhadapan dengan kelompok tersebut."
"Slogan mereka saat revolusi adalah memerangi rezim. Namun ketika giliran mereka yang berkuasa, bukan hanya mengacuhkan slogan revolusi bahkan perjanjian David Camp justru semakin mereka perkokoh, menyebut Simon Peres saudara melalui surat yang dikirimnya dan bahkan mengirim delegasi ke rezim Zionis." Tambahnya.
"Mereka ini bingung dalam memilih kawan dan lawan, mereka terjebak dalam Iran fobia dan Syiah fobia sehingga hati mereka justru terpikat kepada musuh. Yang memancing jutaan rakyat turun ke jalan untuk menuntut peralihan kekuasaan. Rakyat Mesir yang sadar menyebabkan mereka menjaga nilai kebangkitan Islam. Mereka tidak membiarkan rezim Mubarak Mesir yang sudah runtuh menghidupkan rezim Zionis sekali lagi." Jelasnya.