Menurut Kantor Berita ABNA, Hujjatul Islam wa Muslimin Naqi Baqir dalam khutbah Jum'atnya (11/1) di kota Shahin Republik Islam Iran bertepatan dengan hari peringatan wafatnya Nabiullah Muhammad Saw 28 Safar menyatakan, "Nabi Muhammad Saw tahun 11 H setelah melakukan perjalanan terakhir kalinya untuk melakukan ibadah haji menyampaikan kepada kaum muslimin yang menyertai beliau, "Aku tidak lama lagi akan meninggalkan kalian dan bagi kalian saya tinggalkan dua hal yang sangat berharga, yang keduanya tidak akan terpisah sampai kiamat. Namun pada akhirnyanya, sepeninggal Nabi Saw kaum muslimin membedakan dan memisahkan keduanya. Peristiwa-peristiwa pahit pasca wafatnya Nabi Saw terjadi karena diabaikannya hak Ahlul Bait. Imam Ali as dibunuh, imam Hasan diracuni dan Imam Husain as dipenggal kepalanya."
Pada bagian lain khutbahnya, ulama lokal provinsi Shahin tersebut juga menyebutkan bahwa ziarah ketempat-tempat penuh berkah adalah kebiasaan Rasulullah dan para Maksumin as. Ziarah menurutnya wasilah untuk mendekatkan masa lalu dan masa kini, tanpa upaya mengenang orang-orang saleh dan hal-hal penting yang mereka jalani, maka orang-orang terkini akan kehilangan sejarah dan identitasnya. "Untuk itulah Allah SWT mewajibkan kaum muslimin yang berkemampuan untuk menyelanggarakan haji untuk berziarah ke kedua kota suci, Makah dan Madinah. Agar umat Islam tidak kehilangan identitas dan tahu sejarah masa silam. Diberkahinya kota Makah tentu memiliki alasan yang tidak sederhana. Sebab nabi Ibrahim, Ismail dan nabi Muhammad Saw sendiri pernah menjalani kehidupan di kota tersebut." Ungkapnya.
Mengenai kesyahidan Imam Hasan as yang juga bertepatan dengan tanggal wafatnya Rasulullah 28 Safar, Khatib Jum'at tersebut mengungkapkan kedukaannya dan mengatakan, "Kita tidak akan mungkin melupakan betapa terzalimnya cucu kesayangan Nabi ini. Beliau syahid dalam keadaan teraniaya dan wasiatnya untuk dimakamkan disisi Nabi tidak diindahkan."