2 November 2012 - 03:56

"Jika ada satu orang yang tewas di masyarakat Barat, mereka akan berkoar sedemikian rupa hingga memekakkan telinga, akan tetapi tidak ada aksi apapun terhadap pembantaian terhadap Muslim Myanmar."

Menurut Kantor Berita ABNA, dua ulama marjia taqlid mengecam tindakan anarkis kelompok ekstrim Buddha dan masyarakat internasional yang berdiam diri dalam kejadian pembantaian umat Islam di Myanmar.

Ayatullah al-Uzma Makarm Syirazi pada hari Rabu (30/10) di dalam kuliah Kharij di masjid al-A'zam mengatakan, "Pembunuhan Muslim Myanmar merupakan musibah besar bagi masyarakat Islam, kelompok Buddha yang fanatik menyerang umat Islam, memusnahkan rumah-rumah dan membunuh mereka. Namun dunia internasional hanya berdiam diri."

Sambil mengecam sikap dunia internasional yang berdiam diri dalam menghadapi tragedi berdarah ini, beliau juga menyinggung OKI dan Liga Arab yang tidak mengeluarkan reaksi apa-apa. "Mengapa Organisasi Kerjasama Islam dan masyarakat Arab tidak menggelar sidang dan memikirkan solusi untuk masalah ini?. Mereka hanya tahu mengirim dan membiayai kelompok teroris ke Suriah yang membunuhi rakyat Negara tersebut dan memusnahkan kota-kotanya. Banyak biaya yang mereka keluarkan untuk mendanai kelompok oposisi Suriah namun mereka tidak berpikir untuk membantu rakyat Myanmar." Protesnya.

"Jika ada satu orang yang tewas di masyarakat Barat, mereka akan berkoar sedemikian rupa hingga memekakkan telinga, akan tetapi tidak ada aksi apapun terhadap pembantaian terhadap Muslim Myanmar." Lanjutnya lahi.

Sementara itu Ayatullah Uzma Nuri Hamadani berkata di hadapan perhimpunan kepala kepolisian negara,"Negara-negara Arab hanya memberikan perhatian kepada kepentingan mereka saja. Mereka ikut campur dalam urusan Suriah, namun mereka melupakan Bahrain dan Myanmar."

Beliau berkata, "Sekarang, pembasmian etnik Islam yang dilakukan oleh penganut agama Buddha dan menjadikan kaum wanita dan kanak-kanak sebagai pelarian merupakan sesuatu yang terjadi di negara ini. Namun PBB sampai sekarang masih berdiam diri." 

Ayatullah Hamadani menambahkan, "Tidak ada diskriminasi antara umat Islam Myanmar dan umat Islam di negara-negara lain. Kita hendaklah merasa bertanggung jawab dalam membantu mereka."