8 Desember 2011 - 20:30

Setelah berita jatuhnya pesawat pengintai AS ke tangan militer Iran, skenario pertama media massa Barat adalah menganggap sepele masalah tersebut, dengan menebar klaim bahwa pesawat itu telah lepas kontrol atau hilang.

Menurut Kantor Berita ABNA, Pesawat pengintai Amerika Serikat RQ170 kini berada di cengkeraman militer Republik Islam Iran. Masalah ini tidak dapat diterima oleh Amerika Serikat sebagai negara super power, oleh karena itu Washington mengerahkan mesin-mesin propagandanya untuk menyangsikan kemampuan Iran menangkap pesawat tersebut dalam kondisi baik.

Pesawat RQ170 atau yang disebut dengan Sentinel itu, oleh sebagian pihak disebut dengan Beast of Kandahar itu, merupakan salah satu pesawat pengintai andalan Amerika Serikat dan memiliki peran urgen dalam berbagai misi militer Negeri Paman Sam, termasuk dalam penangkapan Osama bin Laden.

Secara keseluruhan, RQ170 mirip dengan pesawat bombar B2 Angkatan Udara AS, yang diproduksi untuk melaksanakan misi pada ketinggian luar biasa. Oleh karena itu, pesawat RQ170 termasuk pesawat pengintai AS yang memiliki tingkat keamanan tinggi.

Setelah berita jatuhnya pesawat pengintai itu ke tangan militer Iran, skenario pertama media massa Barat adalah menganggap sepele masalah tersebut, dengan menebar klaim bahwa pesawat itu telah lepas kontrol atau hilang.

Mengapa kita perlu menyangsikan propaganda media massa Barat itu? Jawabannya tersimpan pada dimensi dan mekanisme pengoperasian pesawat pengintai itu.

Amerika Serikat sebagai produsen pesawat moderen itu menyatakan bahwa pesawat pengintai itu hilang beberapa hari sebelumnya dan kemungkinan setelah jatuh, militer Iran mengklaimnya, dan masalah ini tidak membuktikan kemampuan khusus pertahanan Iran.

Poin tersebut mungkin berpengaruh untuk meredam gejolak media massa, namun tidak dapat diterima menurut pandangan analis.

Jawaban:

Ketika sistem pesawat tanpa awak yang lebih kuno dibandingkan RQ170 , termasuk Predator memiliki sistem khusus yang akan mengembalikan pesawat tersebut ke pusat komando secara otomatis jika terjadi kerusakan pada komunikasi dan kontrol dengan pusat komando, lalu bagaimana mungkin sistem yang penjelasannnya di tayangkan dalam film dokumentasi Secrets of Navy Seal Team Six melalui Discovery Channel pada 2011 itu tidak terpasang pada pesawat RQ170? Jelas tidak mungkin.  

Poin lainnya adalah bahwa pada pesawat-pesawat seperti RQ170 dipasang sistem automatic self destruction yang akan menghancurkan seluruh sistem dan badan pesawat guna mencegah jatuhnya informasi ke tangan pihak lain. Lalu bagaimana mungkin RQ170 sekarang berada di tangan militer Republik Islam Iran?

Pada tahap berikutnya, Amerika Serikat tampak berupaya keras dengan bantuan media massa Barat untuk mengesankan bahwa pengambilalihan kontrol RQ170 itu bukan merupakan sebuah keberhasilan bagi Republik Islam Iran. Associated Press melaporkan, "Kemungkinan pesawat itu jatuh dari ketinggian sangat tinggi dan komponen yang dikumpulkan oleh Iran mungkin dalam bentuk kepingan kecil.

Jika demikian, pertama, jika pecahan komponen pesawat tersebut berupa kepingan kecil, lalu mengapa Republik Islam dapat mengidentifikasi jenis pesawatnya?

Kedua, komponen sekecil apapun tetap menyimpan informasi yang sangat berharga bagi militer Republik Islam Iran.  

Selain itu, dalam beberapa tahun terakhir, terjadi banyak kasus jatuhnya pesawat pengintai Amerika Serikat di Afghanistan, Irak, Pakistan, dan bahkan Somalia. Militer Amerika Serikat langsung mengerahkan jet-jet tempurnya untuk menghancurkan rongsokan pesawat pengintainya yang jatuh guna mencegah jatuhnya informasi dan teknologi ke pihak lain. Hal ini menunjukkan bahwa rongsokan pesawat pengintai saja menyimpan informasi yang sangat berharga, lalu bagaimana dengan pesawat yang masih dalam kondisi baik?

Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh, Panglima Angkatan Udara Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran) menyatakan, "Telah dikumpulkan informasi dan berdasarkan penanganan elektronik secara detail, terungkap bahwa pesawat tersebut menjalankan misi infiltrasi dan spionase di Iran. Namun setelah memasuki zona udara di timur Iran, pesawat itu terperangkap dalam jebakan elektronik Angkatan Bersenjata Iran dan berhasil diturunkan dengan tingkat kerusakan minimum."

Panjang dua sayap pesawat tersebut mencapai 26 meter dan lebar kerangkanya mencapai 4,5 meter. Tinggi pesawat tersebut mencapai 1,84 meter dan memiliki sistem pengumpulan data moderen di bidang elektronik, visual, komunikasi, dan bahkan berbagai sistem radar. 

Pada akhirnya, seluruh keraguan dan upaya propaganda media massa Barat khususnya Amerika Serikat dalam hal ini diakhiri oleh Republik Islam Iran dengan menayangkan video pesawat RQ170. Video yang ditayangkan melalui sebuah televisi nasional Iran itu menutup seluruh celah bagi Amerika Serikat untuk berkilah menepis keberhasilan militer Iran. (IRIB Indonesia/MZ/SL)