Menurut Kantor Berita ABNA, dokumen perjanjian ini untuk pertama kalinya ditandatangani oleh kedua belah pihak Sunni dan Syiah setelah terjadinya peristiwa kerusuhan Asyura beberapa pekan lalu di kota Madinah.
Pertemuan yang diadakan khusus guna membicarakan hubungan yang lebih baik antara dua pengikut mazhab besar ini berlangsung petang kemarin dengan tema "Integrasi Keamanan Layaknya Sebuah Keluarga" dengan dihadiri sekitar 200 orang warga setempat yang bermazhab Sunni dan Syiah yang terdiri dari pegawai-pegawai Saudi di Dewan Al Danah, Madinah al Munawarah. Pertemuan ini mendapat respon positif dan dukungan dari Amir wilayah Abdul Azis bin Majid yang juga sempat hadir dalam pertemuan tersebut dengan pengawalan keamanan yang sangat ketat.
Dokumen perjanjian ini ditandatangani oleh Tahir Abdul Mun'im al Hajuj dan Soleh al-Jud'an dari pihak Syiah Madinah. Sedangkan dari pihak Ahlus Sunnah diwakili oleh Faisal Abu Rab'ah dan Sulaiman bin Ghamid al-Sa'idi dari wilayah al-'Ashbah.
Dokumen ini mengandung butir-butir perjanjian dan kerjasama antara kedua belah pihak mengenai persaudaraan Sunni-Syiah, kerjasama dalam bidang-bidang sosial, sama-sama aktif dalam menjawab segala syubhat dan fitnah serta penekanan kerjasama menjaga keamanan dan ketentraman kawasan.
Baru-baru ini, peringatan Asyura di Madinah dicemari oleh tindakan brutal pengikut Wahabi yang melempari jama'ah Asyura dengan kayu dan batu di wilayah al Qurba. Aksi ekstrim tersebut menciderai beberapa orang Syiah dan menelan kerugian material yang tidak sedikit. Namun disayangkan, pihak kepolisian Arab Saudi justru menangkapi 38 orang dari pihak Syiah, sementara pihak Wahabi yang memicu kerusuhan hanya sedikit yang ditahan.