Menurut Kantor Berita ABNA, Presiden Republik Islam Iran dalam pidatonya sebelum pembacaan khutbah Jum’at pada hari Quds di Teheran menyampaikan, “Takdir Palestina adalah meraih kebebasannya lewat perjuangan rakyatnya sendiri bukan ditentukan oleh Washington, Paris ataupun London.”
Ahmadi Nejad menyampaikan tanggapannya mengenai perundingan yang diadakan di Washington, “Perundingan tersebut adalah perundingan buatan setelah mereka kalah, karena itu mereka tidak akan pernah memberi perhatian terhadap isu utama atas tragedi di Palestina yakni mengenai hak-hak masyarakat Palestina dan menyimpang dari kenyataan sebenarnya.”
Beliau menegaskan, “Rezim yang hanya tahunya membunuh orang-orang yang tidak berdaya, menghancurkan rumah-rumah mereka, mereka tidak akan paham bahasa dialog dan perdamaian.”
Mengenai wakil Palestina dalam perundingan Washington mengenai masa depan Palestina, beliau mengatakan wakil tersebut tidak memenuhi syarat untuk mewakili rakyat Palestina, “Bukan dari rakyat Palestina, bukan dari masyarakat setempat, tidak ada seorangpun yang memberi izin hatta seorangpun dari rakyat Palestina yang akan memberikan maaf pada musuh.”
“Alasan terjadinya perundingan tersebut adalah untuk memberi kesempatan kepada rezim Zionis untuk mencari jalan atas kebuntuan atas persoalan yang mereka hadapi sekaligus berpikir untuk melakukan konspirasi yang lebih jahat lagi kepada rakyat Palestina begitupun kepada negeri-negeri sekitarnya.” Ungkap presiden Iran ini.
“Mereka yang selama ini menekan Iran atas nama penegakan hak-hak asasi manusia, namun mengapa mereka diam saja ketika berhadapan dengan kesewenang-wenangan Israel terhadap rakyat Palestina.” Beliau kemudian menjelaskan tujuan Imam Khomeini ra menetapkan jum’at terakhir Ramadhan sebagai hari Quds adalah untuk mengungkap kezaliman-kezaliman Zionis Israel secara terbuka, sampai mereka meninggalkan dan angkat kaki dari Palestina.
Dipenghujung pidatonya, Ahmadi Nejad mengingatkan kaum muslimin atas kebiadaban-kebiadaban Israel atas rakyat Palestina, “Rezim Zionis lewat serangan-serangan militernya telah merenggut nyawa puluhan ribu orang dan ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal. Mereka menginjak-injak kemanusiaan dan harga diri bukan hanya rakyat Palestina tetapi juga kemanusiaan kita semua.”