25 Juli 2026 - 07:58
Financial Times: Apakah Washington Dapat Membuka Kembali Selat Hormuz dengan Paksa?

Harian Financial Times melaporkan bahwa Amerika menghadapi tantangan serius untuk membuka kembali Selat Hormuz dengan kekuatan militer.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — perkembangan militer di Selat Hormuz menunjukkan bahwa Amerika menghadapi tantangan yang jauh lebih besar daripada sekadar melancarkan serangan udara terhadap Iran. Para pakar militer dan perusahaan-perusahaan pelayaran meyakini bahwa pembukaan paksa jalur laut ini dapat memakan waktu berminggu-minggu, dan bahkan pada akhirnya belum tentu mencapai tujuan yang diinginkan. Sebab, selama Teheran masih mempertahankan kemampuan untuk mengancam kapal-kapal dagang, tidak akan ada jaminan bagi keamanan pelayaran.

Hal ini disampaikan dalam sebuah laporan harian Inggris Financial Times yang ditulis oleh Alice Hancock, Jacob Judah, dan Malcolm Moore. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa dua kapal tanker milik perusahaan Yunani Dynamak, yang berusaha melewati Selat Hormuz melalui jalur laut dekat pesisir Oman di bawah perlindungan udara Amerika, menjadi sasaran rudal-rudal Iran. Serangan ini terjadi ketika Amerika meningkatkan serangan udaranya terhadap posisi-posisi militer Iran di kawasan pesisir.

Laporan tersebut, mengutip para analis, menambahkan bahwa serangan terhadap dua kapal tanker itu memberikan pesan jelas kepada perusahaan-perusahaan pelayaran bahwa risiko masih tetap tinggi, dan bahkan perlindungan Amerika saja tidak cukup untuk menjamin keamanan perjalanan kapal.

Jalur Oman

Berdasarkan laporan ini, Washington berusaha mempertahankan lalu lintas kapal melalui jalur yang disebut “jalur Oman”. Sementara itu, Teheran telah menyatakan bahwa pihaknya hanya akan mengizinkan kapal-kapal melintas berdasarkan syarat-syarat Iran, dan setiap kapal yang menggunakan jalur tersebut tanpa koordinasi dengan Iran akan dianggap sebagai target yang sah.

Sejak dimulainya kembali serangan udara Amerika terhadap wilayah Iran pada 8 Juli, Iran sedikitnya telah menyerang tujuh kapal. Serangan-serangan ini dilakukan dengan menggunakan drone, rudal antikapal, dan kapal-kapal cepat.

Laporan ini, mengutip para mantan komandan angkatan laut, menulis bahwa persoalan utama adalah Amerika tidak dapat sepenuhnya menghilangkan ancaman rudal dan drone Iran. Hal inilah yang membuat perusahaan-perusahaan pelayaran dan asuransi ragu untuk kembali pada kondisi normal lalu lintas laut di kawasan tersebut.

Washington Tidak Akan Mampu

Tom Sharpe, mantan komandan Angkatan Laut Inggris, menegaskan bahwa Washington tidak akan mampu menurunkan tingkat ancaman hingga titik yang memungkinkan pembukaan Selat Hormuz secara aman.

Laporan ini juga menunjukkan bahwa Iran sejauh ini mampu menciptakan sebuah persamaan daya tangkal yang efektif. Jumlah kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz menurun tajam, dan sebagian besar kapal lebih memilih bergerak dekat pesisir Iran daripada menggunakan jalur yang didukung Amerika.

Menurut Financial Times, para pakar pasar energi meyakini bahwa serangan terhadap dua kapal tanker Yunani menjadi titik balik yang meningkatkan keraguan para pemilik kapal untuk kembali ke kawasan tersebut.

Pada saat yang sama, cakupan ancaman juga semakin meluas. Laporan ini menambahkan bahwa pihak Yaman telah mengumumkan niatnya untuk memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal yang menuju pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi. Hal ini menyebabkan sejumlah kapal tanker mengubah rute perjalanannya, sehingga harga minyak mentah Brent naik menjadi lebih dari 95 dolar per barel. Kondisi ini dapat mengganggu upaya Presiden Amerika Donald Trump untuk menurunkan harga bahan bakar menjelang pemilu paruh waktu di negara tersebut.

Biaya Berat bagi Keberhasilan Operasi Amerika

Mark Montgomery, laksamana purnawirawan Amerika, meyakini bahwa keberhasilan operasi militer Amerika memerlukan 150 hingga 200 serangan udara setiap hari selama beberapa pekan. Tujuan serangan-serangan tersebut harus berupa penghancuran landasan peluncuran rudal dan drone serta menjauhkannya dari kawasan pesisir, agar jet-jet tempur Amerika memiliki kesempatan lebih besar untuk mencegat senjata-senjata tersebut sebelum mencapai targetnya.

Namun, para pakar lain memperingatkan bahwa Iran tidak membutuhkan kemenangan militer besar untuk mencapai tujuannya. Menurut mereka, cukup bagi Iran untuk sesekali merusak satu kapal agar biaya asuransi tetap tinggi dan perusahaan-perusahaan pelayaran enggan menggunakan Selat Hormuz.

Bahkan apabila Amerika di kemudian hari dapat mengawal kapal-kapal dalam bentuk konvoi laut, langkah semacam itu akan membutuhkan waktu dan kehadiran angkatan laut dalam jumlah besar.

Laporan ini pada akhirnya menyimpulkan bahwa solusi yang semata-mata bersifat militer mungkin tidak cukup untuk mengembalikan stabilitas ke Selat Hormuz. Menurut para pejabat industri pelayaran, tercapainya kesepakatan politik dengan Iran masih merupakan jalan tercepat untuk menjamin kebebasan pelayaran di jalur air tersebut. Meski demikian, kesepakatan semacam itu dapat membawa biaya politik yang cukup besar bagi Washington.

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha