18 Juli 2026 - 07:12
Gelombang Susulan dari Melemahnya Amerika di Kawasan; Kuwait, Bahrain, dan Yordania Mencari Payung Pertahanan Pakistan

Sejumlah analis berpendapat bahwa perundingan pertahanan terbaru antara Pakistan dan negara-negara Arab dapat dipandang sebagai salah satu tanda awal terbentuknya tatanan keamanan baru di kawasan. Dalam tatanan ini, negara-negara Arab berupaya mendiversifikasi mitra keamanan mereka dan tidak lagi semata-mata bergantung pada jaminan militer Washington.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait  — ABNA — Perkembangan keamanan terbaru di Asia Barat dan ketidakmampuan Amerika dalam mencegah meluasnya cakupan konflik telah membuat sebagian negara Arab di kawasan Teluk Persia berupaya mendefinisikan ulang persamaan pertahanan mereka dan mencari mitra keamanan baru.

Dalam kerangka inilah, laporan-laporan yang dipublikasikan mengenai perundingan pertahanan antara Pakistan dan negara-negara Arab menunjukkan bahwa Kuwait, Bahrain, dan Yordania sedang berupaya mengembangkan kerja sama militer dengan Islamabad. Banyak pengamat menilai tren ini sebagai tanda menurunnya kepercayaan terhadap payung keamanan tradisional Amerika.

Kantor berita Reuters dalam sebuah laporan mengungkapkan bahwa Pakistan dan Kuwait telah memulai pembicaraan untuk memperluas kerja sama pertahanan, dan Kuwait menginginkan kehadiran serta kerja sama militer yang lebih luas dari Islamabad. Laporan tersebut juga menegaskan bahwa Bahrain dan Yordania turut menunjukkan ketertarikan terhadap kesepakatan serupa dengan Pakistan.

Manuver-manuver ini terjadi di tengah kondisi ketika dalam beberapa bulan terakhir pangkalan dan kepentingan Amerika di kawasan berulang kali berada dalam ancaman dan serangan. Bahkan, beberapa negara Arab, termasuk Bahrain, Kuwait, dan Yordania, dalam atmosfer ketegangan yang terkait dengan konfrontasi Iran dan Amerika, merasa diri mereka berada dalam ancaman langsung. Pada saat yang sama, meningkatnya kekhawatiran mengenai keamanan infrastruktur vital negara-negara Teluk Persia dan kemungkinan meluasnya cakupan konflik telah memperbesar keraguan terhadap kemampuan daya tangkal Amerika.

Dalam situasi seperti ini, Pakistan, sebagai kekuatan nuklir yang memiliki militer besar, kemampuan rudal, dan industri pertahanan yang cukup signifikan, semakin menarik perhatian pemerintah-pemerintah Arab. Reuters melaporkan bahwa setelah penandatanganan pakta pertahanan antara Riyadh dan Islamabad, beberapa negara Arab lainnya juga mendekati Pakistan untuk kerja sama serupa.

Sebelumnya, Arab Saudi juga telah menandatangani kesepakatan pertahanan strategis dengan Pakistan. Berdasarkan kesepakatan itu, ribuan personel militer, jet tempur JF-17, pesawat nirawak, dan sistem pertahanan udara Pakistan ditempatkan di wilayah Arab Saudi. Para pengamat meyakini bahwa sambutan negara-negara Arab terhadap model kerja sama dengan Pakistan bukan hanya keputusan militer, melainkan mencerminkan perubahan bertahap dalam cara pandang keamanan kawasan dan upaya untuk mengurangi ketergantungan mutlak kepada Amerika.

Sebagian analis berpendapat bahwa perundingan pertahanan terbaru antara Pakistan dan negara-negara Arab dapat dianggap sebagai salah satu tanda awal terbentuknya tatanan keamanan baru di kawasan. Dalam tatanan ini, negara-negara Arab berusaha mendiversifikasi mitra keamanan mereka dan tidak lagi hanya bertumpu pada jaminan militer Washington.

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha