Kantor Berita Internasional Ahlulbait – ABNA – Dalam pidatonya pada MInggu (21/6) Syekh Naim Qasim menegaskan bahwa perlawanan merupakan bentuk pembelaan yang sah terhadap hak hidup dan kemerdekaan bangsa-bangsa dalam menghadapi pendudukan serta dominasi asing.
Perlawanan Berakar pada Ajaran Imam Hasan dan Imam Husain
Syekh Naim Qasim mengatakan: "Keteguhan dan perlawanan adalah pembelaan yang sah atas hak hidup dan kemerdekaan menghadapi penjajahan, pemaksaan syarat, dan perwalian asing."
Ia menambahkan bahwa gerakan perlawanan berakar pada ajaran Imam Hasan dan Imam Husain (as) serta metode pendidikan Islam.
Menurutnya, pendidikan Islam tidak dibangun atas kepatuhan buta, tetapi atas dasar cinta dan makrifat yang lahir dari hati. Hubungan spiritual dengan Ahlulbait (as) inilah yang membimbing perjalanan umat hingga masa kemunculan Imam Mahdi (af).
Iran Membela Hak-Haknya dengan Penuh Wibawa
Sekjen Hizbullah menyatakan bahwa rezim Zionis, dengan dukungan Donald Trump, melancarkan perang terhadap Iran dengan tujuan melemahkan Poros Perlawanan.
Ia menjelaskan bahwa Benjamin Netanyahu beranggapan bahwa jika Iran sebagai pusat kekuatan perlawanan dapat dihancurkan, maka seluruh komponen perlawanan di dunia Islam akan runtuh.
Namun menurutnya: "Meskipun menghadapi 25 ribu serangan udara, Iran dengan kepemimpinan yang luar biasa dan keteguhan rakyatnya keluar dari pertempuran ini dalam keadaan lebih kuat dibanding sebelumnya."
Ia menambahkan bahwa Iran berhasil mempertahankan kendali dan tidak kehilangan inisiatif strategis.
Rencana Besar Amerika dan Israel Gagal
Syekh Naim Qasim juga menyinggung perjuangan Hizbullah di Lebanon dan mengatakan bahwa perlawanan telah memberikan pengorbanan besar, termasuk syahidnya tokoh-tokoh seperti Sayyid Hasan Nasrallah serta banyak mujahid lainnya.
Menurutnya, semua pengorbanan tersebut pada akhirnya menggagalkan proyek besar Amerika dan Israel yang bertujuan menghancurkan Iran, Hizbullah, dan seluruh Poros Perlawanan.
Hizbullah Menolak Definisi Sepihak tentang Gencatan Senjata
Syekh Naim Qasim menyatakan bahwa Amerika dan Israel berusaha memaksakan definisi sepihak mengenai gencatan senjata di Lebanon.
Dalam skenario tersebut: Hizbullah tidak boleh menembakkan senjata dan Israel tetap bebas melakukan serangan kapan pun dan di mana pun.
Ia menegaskan, "Perlawanan menganggap pendekatan seperti ini sebagai kelanjutan agresi dan tidak akan pernah menerimanya."
Menurutnya, selama 15 bulan terakhir Hizbullah telah menunjukkan kesabaran dan secara terbuka menjelaskan sikapnya terhadap berbagai usulan penyelesaian.
Gencatan Senjata Harus Dimulai dari Israel
Syekh Naim Qasim menjelaskan bahwa menurut pandangan Hizbullah: Israel harus terlebih dahulu menghentikan agresinya dan jika Israel benar-benar mematuhi gencatan senjata, maka perlawanan juga akan menempuh jalur perdamaian. Ia menegaskan bahwa perlawanan tidak menolak perdamaian, tetapi menolak perdamaian yang hanya menguntungkan satu pihak.
Syarat Gencatan Senjata yang Sebenarnya
Menurut Sekjen Hizbullah, gencatan senjata yang nyata harus mencakup:
-
Penghentian seluruh serangan darat, udara, dan laut.
-
Berakhirnya pendudukan wilayah Lebanon.
-
Tidak adanya lagi kemajuan pasukan Israel ke wilayah Lebanon.
-
Penarikan penuh dan terjadwal seluruh pasukan Israel tanpa meninggalkan satu pangkalan pun.
Ia menambahkan bahwa Tentara Lebanon telah ditempatkan di wilayah selatan Sungai Litani. Namun mengenai isu perlucutan senjata perlawanan, Hizbullah tetap memprioritaskan upaya menggagalkan proyek-proyek agresif Israel.
Dukungan Iran terhadap Poros Perlawanan
Syekh Naim Qasim menegaskan bahwa Poros Perlawanan saat ini memperoleh dukungan besar dari: Pemimpin Republik Islam Iran, rakyat Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Ia menuduh Israel hanya mengandalkan tekanan diplomatik dan upaya campur tangan dalam urusan internal Lebanon. Menurutnya, Israel tidak memperoleh pencapaian nyata dan tidak boleh diberikan kesempatan untuk menentukan arah politik Lebanon.
Kritik terhadap Pemerintah Lebanon
Dalam bagian lain pidatonya, Syekh Naim Qasim mengatakan bahwa pemerintah Lebanon seharusnya bertindak mandiri dan tidak bergantung kepada musuh. Ia menyatakan bahwa Iran telah memberikan dukungan besar kepada Lebanon dan bahkan mengambil langkah-langkah strategis demi kepentingan negara tersebut. Ia juga menegaskan bahwa keberlanjutan serangan Israel sepenuhnya bergantung pada dukungan menyeluruh Amerika Serikat.
Menurutnya: "Jika Trump memaksa Netanyahu menghentikan perang, Israel tidak akan mampu melanjutkan agresinya."
Kekuatan Iran Membawa Amerika ke Meja Perundingan
Syekh Naim Qasim menyatakan bahwa masuknya Amerika Serikat ke dalam dialog dengan Iran menunjukkan adanya perubahan besar dalam hubungan kedua negara setelah 47 tahun.
Menurutnya, realitas politik Lebanon juga menunjukkan bahwa tidak ada kelompok yang mampu mengalahkan kelompok lainnya secara mutlak.
Karena itu, kesejahteraan Lebanon hanya dapat dicapai melalui hidup berdampingan secara damai, persatuan nasional dan Kemandirian dari kekuatan asing.
Di akhir pidatonya, Syekh Naim Qasim memuji sejumlah tokoh politik Lebanon yang menurutnya tetap berpegang pada prinsip nasional dalam menghadapi tekanan dan sanksi.
Ia men egaskan bahwa persatuan antara: Generasi muda Lebanon, Hizbullah,Gerakan Amal dan lembaga-lembaga keamanan, telah menjadikan front perlawanan sebagai kekuatan yang tidak dapat dikalahkan.
Menurutnya, selama Poros Perlawanan berpegang pada nilai-nilai Asyura dan meneladani perjuangan Imam Husain (as), kekuatan dan pengaruhnya akan tetap bertahan di masa depan.
Your Comment