22 Juni 2026 - 18:17
Krisis Kepercayaan antara Amerika Serikat dan Rezim Zionis; Bagaimana Iran Menjadi Titik Perselisihan?

Meski hubungan Amerika Serikat dan rezim Zionis selama puluhan tahun dibangun di atas dukungan strategis, kesepakatan dengan Iran kembali memperlihatkan adanya perbedaan mendalam antara kedua pihak.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait – ABNA – Dua surat kabar Inggris, The Guardian dan The Independent, menilai bahwa kesepakatan terbaru Amerika Serikat dengan Iran menunjukkan sebuah perubahan strategis yang dapat mendefinisikan ulang hubungan Washington dan Tel Aviv. Perkembangan ini juga menempatkan Perdana Menteri rezim Zionis, Benjamin Netanyahu, di tengah salah satu krisis politik paling sulit dalam kariernya.

Berdasarkan laporan Al Jazeera, Simon Tisdall, analis urusan luar negeri, dalam artikelnya di The Guardian menyebut Netanyahu sebagai pihak yang paling merugi dari kesepakatan tersebut. Menurutnya, dampak kesepakatan itu tidak hanya terbatas pada berakhirnya masa depan politik Netanyahu, tetapi juga dapat menandai berakhirnya satu era dukungan tanpa syarat Amerika Serikat terhadap rezim Zionis.

Netanyahu sebagai Pecundang Besar Kesepakatan

Tisdall menggambarkan Netanyahu sebagai sosok yang telah menempatkan Timur Tengah “di bawah pisau”. Menurutnya, pendekatan Netanyahu terhadap berbagai persoalan kawasan, mulai dari Gaza, Lebanon hingga Iran, bertumpu pada satu prinsip: kekerasan ekstrem dan ilegal yang terus-menerus memperdalam krisis.

Menurut Tisdall, perang terhadap Iran merupakan puncak dari pendekatan tersebut, tetapi pada akhirnya gagal. Sebab, perang itu tidak mampu mencapai tujuan utamanya, yaitu menjatuhkan sistem pemerintahan Iran atau menghancurkan program nuklir dan rudal negara tersebut.

Biaya Politik dari Pertaruhan Netanyahu

Tisdall menulis bahwa Netanyahu kini sedang membayar harga dari pertaruhannya untuk menyeret Amerika Serikat ke dalam perang total melawan Iran. Gedung Putih dan sebagian opini publik Amerika yang semakin luas kini memandang rezim Zionis sebagai pihak yang bertanggung jawab atas masuknya Amerika ke dalam perang yang dibangun di atas janji-janji tidak terpenuhi mengenai kejatuhan cepat Iran.

Ia menegaskan bahwa hubungan Amerika Serikat dan rezim Zionis memasuki fase ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, sebab konsensus tradisional dukungan terhadap rezim tersebut di Amerika mulai melemah.

Akar Perubahan dalam Politik Amerika

Perubahan ini, menurut Tisdall, dapat ditelusuri kembali ke tahun 2015, ketika Netanyahu berusaha keras menggagalkan upaya Barack Obama mencapai kesepakatan nuklir dengan Iran.

Tisdall menilai bahwa kebijakan-kebijakan Netanyahu setelah itu, termasuk perluasan permukiman, koalisi dengan kelompok kanan ekstrem, serta perang berulang di Gaza, Lebanon, dan Iran, telah mempercepat proses perubahan tersebut. Bahkan untuk pertama kalinya, opini publik Amerika disebut menjadi lebih bersimpati kepada rakyat Palestina daripada kepada Zionis.

Pengaruh Struktural Kanan Zionis di Amerika

Sementara itu, Sam Kiley, editor bagian internasional The Independent, berpendapat bahwa perbedaan yang tampak antara pemerintahan Trump dan Netanyahu tidak berarti hubungan Washington dengan arus kanan rezim Zionis telah terputus. Menurutnya, pengaruh kelompok ini telah mengakar selama puluhan tahun dalam struktur pengambilan keputusan Amerika Serikat.

Dokumen-Dokumen yang Mempengaruhi Kebijakan Timur Tengah Amerika

Kiley menyinggung dua dokumen penting yang berperan dalam membentuk kebijakan Amerika di Timur Tengah. Dokumen pertama adalah “A Clean Break: A New Strategy for Securing the Realm” tahun 1996, yang disusun oleh sekelompok neokonservatif di bawah kepemimpinan Richard Perle. Dokumen ini menekankan serangan pendahuluan dan penggulingan pemerintahan Saddam Hussein.

Dokumen kedua adalah “Israel 2048: A Plan for an Emerging Geopolitical Power”, yang mendukung bantuan Amerika untuk perang melawan Iran serta penguatan posisi rezim Zionis sebagai pilar peradaban Barat.

Perpecahan dalam Politik Amerika

Menurut Kiley, gagasan-gagasan tersebut masih memiliki pengaruh di Washington karena sejalan dengan pandangan kelompok Kristen-Zionis dan konservatif. Namun pada saat yang sama, kebijakan militer rezim Zionis justru mengancam proyek tersebut.

Ia memperingatkan bahwa kelanjutan operasi militer rezim Zionis di Lebanon dapat mengancam kesepakatan regional apa pun, bahkan jika pemerintahan Trump tetap berkomitmen pada gencatan senjata dengan Iran.

Apakah Proyek “Israel Raya” Mulai Meredup?

Pada akhirnya, kedua penulis tersebut menilai bahwa kesepakatan dengan Iran merupakan sebuah titik balik historis.

Netanyahu kini berada dalam posisi sulit. Ia harus memilih antara: berhadapan dengan Amerika Serikat dan menanggung risiko krisis politik, atau tunduk pada tuntutan Washington dan kehilangan sebagian kredibilitas politiknya.

Perkembangan ini dapat menjadi tanda awal melemahnya proyek “Israel Raya” dan membuka jalan bagi kembalinya Iran secara bertahap ke dalam tatanan kawasan.

Sementara itu, hubungan Amerika Serikat dan rezim Zionis kini memasuki periode ketidakpastian yang belum pernah terjadi dalam beberapa dekade terakhir.

Your Comment

You are replying to: .
captcha