5 Mei 2026 - 22:14
Ulama Irak Mengajak Jemaah Haji Baitullah Menunaikan Manasik Haji atas Nama Pemimpin Syahid Revolusi

Ulama Syiah dan Sunni Irak, melalui penerbitan sejumlah pernyataan yang ditujukan kepada jemaah haji Baitullah, mengajak mereka untuk menunaikan amalan haji atas nama Pemimpin Syahid Revolusi, Ayatullah Uzma Imam Khamenei ra, serta memperingati beliau.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait  — ABNA — Majelis Ulama Ribat Muhammadi dan Majelis Ulama Irak menerbitkan pernyataan bertepatan dengan musim haji tahun 1447 Hijriah. Dalam pernyataan yang ditujukan kepada para jemaah haji Baitullah itu, mereka meminta para jemaah, selain menyatakan kebencian dan penolakan terhadap agresi rezim Zionis ke negeri-negeri Muslim, juga memberi perhatian khusus pada hari-hari penuh berkah ini untuk menunaikan amalan haji serta mengadakan majelis dan acara pembacaan Al-Qur’an atas nama Pemimpin Syahid umat.

Majelis Ulama Ribat Muhammadi, seraya mengecam serangan musuh Amerika-Zionis terhadap Republik Islam Iran, dalam pernyataannya menulis:

“Kami mendorong kaum Muslim untuk menyatakan penolakan mereka terhadap berbagai agresi yang menimpa bangsa-bangsa Muslim, khususnya rakyat Palestina yang tertindas di Gaza dan pihak-pihak yang berdiri bersama mereka dari negara-negara dan bangsa-bangsa umat ini, seperti Republik Islam Iran, Lebanon, Yaman, Irak, serta bangsa-bangsa Muslim lainnya dan orang-orang merdeka di dunia. Demikian pula terhadap agresi terbaru yang menargetkan Republik Islam Iran, serangan zalim terhadap para pemimpin umat, dan kejahatan musuh Zionis-Amerika—sebuah kejahatan zaman ini—yang menyebabkan syahidnya pemimpin besar Islam, Ayatullah Syahid Sayid Ali Khamenei qs, bersama para komandan besar dan keluarga terhormat mereka. Semoga Allah menerima mereka dalam barisan para syuhada.”

Majelis Ulama Irak juga, dengan menyinggung besarnya kehilangan dunia Islam akibat kesyahidan Imam Khamenei ra, dalam pernyataannya menegaskan:

“Kami meminta para jemaah haji Baitullah agar menjadikan ibadah mereka sebagai medan kesetiaan, dengan mempersembahkan sebagian ibadah mereka, seperti umrah mufradah dan penyelenggaraan majelis pembacaan Al-Qur’an, kepada ruh Wali Faqih yang telah wafat, yaitu Khamenei Agung, agar kenangan beliau tetap hidup.”

Teks Lengkap Pernyataan Majelis Ulama Ribat Muhammadi

Segala puji bagi Allah, Pemilik Keagungan dan Kemuliaan, yang menghimpun hati-hati dalam zikir kepada-Nya, menyatukan barisan di rumah-Nya yang mulia, dan menjadikan haji sebagai musim pertemuan, tempat ruh-ruh saling bertemu sebelum jasad-jasad, serta manusia berdiri sama di tanah haram di hadapan Penciptanya dalam kasih dan keselarasan. Tidak ada keutamaan bagi Arab atas non-Arab kecuali dengan ketakwaan dan keridaan Allah Yang Mahasuci dan Mahasejahtera. Tidak ada keutamaan kecuali dengan keikhlasan, kejujuran, dan kesetiaan kepada Allah Tuhan semesta alam, Tuhan Zamzam dan Maqam.

Seraya kami menyapa para jemaah haji Baitullah dan seluruh umat Islam, kami mengingatkan bahwa musim agung ini bukan hanya ritual yang dilaksanakan, tetapi medan pendidikan Rabbani, madrasah persatuan iman, dan awal kesadaran peradaban yang mengembalikan keseimbangan umat serta memperbarui makna persaudaraan dan berpegang teguh bersama kepada tali Allah di dalam hati.

Dalam rangka melaksanakan tugas kami untuk menyeru dan mengingatkan, kami menyampaikan beberapa poin dan amanah berikut:

Pertama: Berdirinya jutaan manusia di tanah Masy’ar dengan pakaian yang sama dan seruan yang sama adalah pengumuman Rabbani bahwa umat ini mampu mengatasi seluruh perbedaan buatan. Persatuan barisan bukan slogan teoretis, tetapi kenyataan yang dapat diwujudkan apabila niat menjadi tulus dan hati menjadi bersih. Maka wahai para jemaah haji yang mulia, jadikanlah pertemuan kalian sebagai pembaruan tekad untuk meninggalkan perpecahan, menanggalkan dendam, dan membersihkan dada dari setiap kebencian mazhab atau kelompok terhadap sesama Muslim.

Kedua: Bekal terbaik yang kalian ambil dari musim ini adalah kejernihan batin, keselamatan hati, dan kemampuan untuk melampaui dorongan fanatisme serta kebencian. Dengan itu, seorang haji kembali dalam keadaan terbebas dari beban-beban jiwa dan terbuka kepada umatnya dengan pandangan rahmat serta tanggung jawab. Haji bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perubahan batin: dari sempitnya diri menuju luasnya umat, dan dari keterpecahan menuju kesatuan.

Ketiga: Kerumunan orang-orang beriman ini, apabila memahami pesan besar haji, akan menyadari bahwa kekuatan mereka terletak pada persatuan mereka, kemuliaan mereka berada pada keteguhan mereka kepada agama, dan bahwa mereka adalah umat yang tidak diciptakan untuk menjadi lemah, tetapi untuk menjadi saksi kebenaran dan keadilan di hadapan manusia. Karena itu, umat harus mengambil ilham dari pertemuan besar ini berupa semangat tekad dan keteguhan menghadapi musuh-musuhnya serta musuh nilai-nilai kemanusiaan, yang terus melakukan agresi dan dominasi, melanggar kehormatan, dan menindas kaum tertindas.

Keempat: Kami mengingatkan para jemaah haji Baitullah dan seluruh kaum Muslim bahwa di antara konsekuensi tauhid yang murni dan pelaksanaan manasik agung ini adalah menyatakan berlepas diri dari kezaliman dan agresi, serta dari setiap sistem yang dibangun di atas kesombongan dan tirani, khususnya penjajah Zionis-Amerika yang terlaknat beserta para pendukung dan pembelanya. Ini juga berarti menolak bersekutu dengan pihak-pihak yang memerangi Allah dan Rasul-Nya serta menzalimi hamba-hamba-Nya. Sikap berlepas diri ini bukan slogan emosional, melainkan posisi moral dan sadar yang bersumber dari nilai-nilai keadilan dan kemuliaan manusia, serta menolak segala bentuk dominasi dan agresi.

Kelima: Pada kesempatan ini, kami mendorong kaum Muslim untuk menyatakan penolakan mereka terhadap berbagai agresi yang menimpa rakyat Muslim, khususnya rakyat Palestina yang tertindas di Gaza dan pihak-pihak yang berdiri bersama mereka dari negara-negara dan bangsa-bangsa umat ini, seperti Republik Islam Iran, Lebanon, Yaman, Irak, serta bangsa-bangsa Muslim lainnya dan orang-orang merdeka di dunia. Demikian pula terhadap agresi terbaru yang menargetkan Republik Islam Iran, serangan zalim terhadap para pemimpin umat, dan kejahatan musuh Zionis-Amerika, sebuah kejahatan zaman ini, yang menyebabkan syahidnya pemimpin besar Islam, Ayatullah Syahid Sayid Ali Khamenei qs, bersama para komandan besar dan keluarga terhormat mereka. Semoga Allah menerima mereka dalam barisan para syuhada.

Kejahatan ini belum pernah disaksikan oleh zaman kontemporer kita; ia telah melukai hati kaum mukmin dan orang-orang merdeka di seluruh dunia. Ia merupakan pelanggaran nyata terhadap kehormatan bangsa-bangsa dan hak-hak mereka, penyimpangan memalukan dari seluruh nilai kemanusiaan dan agama, serta pelanggaran terhadap hukum internasional. Kami menegaskan bahwa berdiri bersama kaum mukmin dan kaum tertindas merupakan bagian dari inti risalah Islam, yang datang untuk menolong kebenaran dan menghapus kezaliman, bukan untuk mengokohkannya atau diam di hadapannya, apalagi berdiri bersama musuh melawan kaum Muslim.

Keenam: Tugas tidak berakhir dengan selesainya manasik. Tugas justru dimulai ketika seorang haji kembali kepada masyarakatnya dengan membawa pesan perbaikan dan persatuan, menyeru untuk berpegang teguh kepada tali Allah, menolak proyek-proyek perpecahan, dan berjihad membangun kesadaran menyeluruh yang layak bagi umat yang memikul risalah langit.

Pada akhirnya, wahai para jemaah haji Baitullah, jadikanlah berdirinya kalian di hadapan Allah sebagai sikap jujur terhadap diri kalian dan umat kalian. Perbaruilah janji dengan Allah untuk menolong agama-Nya dan memperbaiki hubungan di antara kalian. Jadilah sebagaimana Allah menghendaki kalian: umat yang satu, saksi kebenaran, dan penegak keadilan.

Ingatlah perintah Allah ketika Dia berfirman:

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika dahulu kamu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan nikmat-Nya kamu menjadi bersaudara. Dan kamu dahulu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.”

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

Abdul Qadir Bahjat Hasani Alusi
Ketua Majelis Ulama Ribat Muhammadi
5 April 2026

Teks Lengkap Pernyataan Majelis Ulama Irak Bertepatan dengan Musim Haji

Kepada seluruh putra-putri umat Islam di Timur dan Barat dunia.

Tahun ini, musim haji tiba dalam kondisi yang sangat sensitif. Umat kita menghadapi berbagai tantangan yang menumpuk, yang menargetkan akidah dan identitasnya. Haji, dengan makna-maknanya yang dalam dan identitas yang dikandungnya, bukan hanya sekumpulan ritual yang dilaksanakan, tetapi mata air yang selalu memancar dari ketakwaan dan kesadaran, serta mimbar dunia untuk menghidupkan ruh tanggung jawab dan membangkitkan umat agar mengingat kembali kedudukan dan perannya.

Musim yang penuh berkah ini adalah kesempatan nyata untuk memperbarui janji dengan Allah Swt dan memperdalam kesadaran kolektif, agar kita memahami bahwa persatuan kaum Muslim bukan slogan, melainkan kebutuhan menentukan di hadapan musuh bersama yang berusaha memecah barisan, melemahkan kehendak, serta menguasai kemampuan dan tempat-tempat suci umat.

Apa yang hari ini menimpa umat dapat dipahami melalui dua faktor utama:

Pertama: faktor internal, yang tampak dalam lemahnya iman, konflik internal, dominasi kepentingan sempit, korupsi, dan kelalaian.

Kedua: faktor eksternal, yang tampak dalam kekuatan-kekuatan arogan dunia, yaitu kekuatan-kekuatan yang melalui tekanan politik, ekonomi, dan militer berusaha memaksakan dominasi mereka dengan berbagai cara.

Dari sinilah batas dua front menjadi jelas dan harus dikenali:

Front kebenaran: front yang bersumber dari iman kepada Allah, berpegang pada nilai-nilai keadilan dan kemuliaan, berjuang untuk persatuan umat, serta membela cita-cita besar dan tempat-tempat sucinya.

Front kebatilan: front yang berputar di sekitar tirani dan kesombongan, menyulut konflik, menyebarkan kerusakan, menargetkan identitas Islam, dan menggunakan seluruh kemampuannya untuk menjaga umat tetap berada dalam kelemahan dan ketergantungan.

Menyampaikan diagnosis ini merupakan kebutuhan penting untuk menjaga kesadaran Islam dari pencampuradukan dan kekeliruan dalam mengambil sikap, serta untuk meneguhkan arah menuju kebenaran.

Kewajiban haji, dengan seluruh zikir, kekhusyukan, dan ketulusan menghadapkan diri kepada Allah Swt, cukup untuk mengobati kekurangan-kekurangan batin dan meniupkan ruh ketakwaan ke dalam jiwa. Demikian pula berkumpulnya kaum Muslim dari berbagai ras dan bahasa di satu tanah memberi mereka rasa nyata tentang persatuan dan kemampuan, serta membuat mereka lebih kuat dalam menghadapi tantangan internal.

Apabila dua dimensi haji ini menyatu, kekuatan dan keteguhan umat akan bertambah. Namun apabila salah satunya hilang atau melemah, umat akan semakin rentan terhadap krisis dan kekalahan.

Salah satu bahaya terbesar yang dihadapi umat hari ini adalah perpecahan mazhab dan etnis, provokasi fitnah internal, serta lemahnya kehendak politik yang mandiri. Karena itu, kami meminta seluruh kaum Muslim untuk melampaui perbedaan-perbedaan ini, berpegang teguh bersama kepada tali Allah, dan berusaha membangun sikap yang terpadu demi menjaga martabat dan kemandirian umat.

Kami juga meminta para jemaah haji Baitullah agar menjadikan ibadah mereka sebagai medan kesetiaan, dengan mempersembahkan sebagian ibadah mereka, seperti umrah mufradah dan penyelenggaraan majelis pembacaan Al-Qur’an, kepada ruh Wali Faqih yang telah wafat, yaitu Khamenei Agung, agar kenangan beliau tetap hidup.

Pada akhirnya, kami memohon kepada Allah Swt agar menerima haji para jemaah, menjadikan musim penuh berkah ini sebagai titik awal persatuan dan kebangkitan umat, menganugerahkan kemuliaan dan kemandirian kepada kaum Muslim, serta menjauhkan mereka dari fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Your Comment

You are replying to: .
captcha