Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — Setelah lebih dari 40 hari perang ketiga yang dipaksakan Amerika terhadap Iran, presiden negara tersebut bukan hanya gagal mencapai tujuan yang telah diumumkan sebelumnya, tetapi juga menghadapi tantangan besar ekonomi dan politik di hadapan Iran. Hingga kini, ia tidak mampu mencegah Iran menguasai Selat Hormuz, dan juga tidak mampu menahan kenaikan harga energi global. Karena itu, pada hari ke-40 perang, ia terpaksa menerima dimulainya perundingan politik.
Dalam konteks ini, Dr. Nabil Mohiuddin, pakar urusan Timur Tengah dan hubungan internasional, menulis:
Ketika Gedung Putih pada akhir Februari memulai operasi militer terhadap Iran, Presiden Amerika bertaruh pada perang cepat dan kilat—sebuah perang yang menurutnya tidak akan berlangsung lebih dari satu minggu dan akan berakhir tanpa kerugian serta dengan kemenangan. Namun realitas di lapangan dengan cepat menghancurkan ilusi tersebut. Ternyata, militer Amerika terjebak dalam kubangan baru, menambah daftar panjang perang-perang gagal yang selama beberapa dekade melelahkan dan melemahkan Amerika.
Setelah satu bulan sejak pecahnya perang, tanda-tanda kelemahan serius dalam sumber daya manusia dan material Amerika mulai terlihat jelas, menyerupai pengalaman pahit Amerika di Afghanistan dan Vietnam.
Afghanistan dan Vietnam: bayang-bayang masa lalu yang kembali
Sejarah militer Amerika penuh dengan perang-perang berkepanjangan yang dimulai dengan ilusi kemenangan cepat namun berakhir dengan kegagalan pahit. Dalam Perang Vietnam (1965–1973), biaya keterlibatan Amerika mencapai lebih dari 58 ribu tentara tewas dan sekitar satu triliun dolar (nilai saat ini). Di Afghanistan, kerugiannya bahkan lebih besar: sekitar 978 miliar dolar hingga 2020, dengan total biaya yang diperkirakan mencapai 6,5 triliun dolar pada 2050—setara dengan 20 ribu dolar per warga Amerika. Korban jiwa juga sangat besar, dengan lebih dari 38 ribu orang tewas, selain ribuan dari pihak Taliban dan warga sipil.
Kini skenario yang sama terulang di Iran. Alih-alih kemenangan cepat seperti yang dijanjikan Trump, perang berubah menjadi konflik berkepanjangan dan berdarah. Berdasarkan laporan Reuters, pada hari kedua perang saja Amerika mengalami korban: 3 tentara tewas dan 5 luka berat, dan dalam sepuluh hari jumlah korban tewas meningkat menjadi 8 orang.
Jatuhnya pesawat dan target tim penyelamat
Kerugian Amerika tidak hanya terbatas pada aspek ekonomi dan korban manusia, tetapi juga menyangkut pukulan serius terhadap citra superioritas militer dan dominasi udara mereka. Dalam sebuah insiden mengejutkan, Garda Revolusi Iran mengumumkan telah menembak jatuh jet tempur canggih F-35 di wilayah tengah Iran. Sementara sebagian media Amerika melaporkan satu pilot berhasil diselamatkan dan satu lainnya masih dicari, laporan lain juga menyebut jatuhnya pesawat F-15.
Selain itu, tim penyelamat Amerika yang datang dengan helikopter untuk mengevakuasi pilot menjadi sasaran langsung pasukan Iran. Insiden ini mengingatkan pada pengalaman pahit Amerika di Afghanistan, ketika operasi penyelamatan berubah menjadi jebakan mematikan. Hal ini menunjukkan bahwa Iran mampu memanfaatkan kelemahan Amerika dan mengubah medan perang menjadi kubangan yang sulit keluar bagi pasukan AS.
Trump di antara tekanan kerugian dan tekanan politik
Di tengah tekanan ini, Trump tetap mempertimbangkan opsi serangan darat ke Iran, dengan tujuan menguasai sekitar 450 kilogram uranium yang telah diperkaya. Namun menurut laporan Wall Street Journal, langkah ini justru akan membuat situasi semakin kompleks dan berbahaya, karena membutuhkan kehadiran militer jangka panjang di wilayah Iran—yang berarti membuka front baru perang berkepanjangan dengan biaya yang jauh lebih besar daripada Afghanistan dan Irak.
Selain kerugian militer, Amerika juga mengalami dampak ekonomi serius. Penutupan Selat Hormuz—yang menjadi jalur sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia—menyebabkan guncangan besar di pasar global. Secara politik, Trump kini menghadapi ancaman serius terhadap posisinya hingga akhir masa jabatannya.
Seorang presiden yang naik dengan janji menjauhkan Amerika dari “perang-perang bodoh” kini justru terjebak dalam perang besar yang ia mulai sendiri, tetapi tidak mampu ia akhiri.
Sebagaimana Lyndon Johnson kehilangan popularitas akibat Perang Vietnam dan akhirnya memutuskan tidak mencalonkan diri kembali pada 1968, nasib serupa diprediksi akan menimpa Trump. Bahkan, perbedaannya adalah Trump mungkin tidak mampu menyelesaikan masa jabatannya karena tekanan politik yang terus meningkat, termasuk dari dalam partainya sendiri, serta meningkatnya tuntutan untuk pengunduran diri.
Your Comment