Kantor Berita Internasional Ahlulbait – ABNA – Perundingan tidak langsung Iran dan Amerika Serikat kembali digelar pada Jumat (6/2) di Muscat, ibu kota Oman. Pertemuan ini dimediasi oleh Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, antara delegasi Iran yang dipimpin Abbas Araghchi dan delegasi Amerika yang dipimpin Steve Witkoff. Sesi berlangsung sekitar enam jam dan berakhir tanpa perubahan mendasar pada posisi kedua pihak, kecuali kesepakatan untuk melanjutkan dialog.
Garis Merah Teheran terhadap Tuntutan Washington
Al-Akhbar menekankan bahwa Iran bersikeras membatasi perundingan hanya pada isu nuklir dan menganggap hak pengayaan uranium sebagai garis merah. Sebaliknya, AS menuntut penghentian segera pengayaan dan pemindahan uranium yang telah diperkaya ke luar negeri. Kesenjangan tajam ini bahkan membuat penetapan kerangka negosiasi menemui jalan buntu.
Araghchi menyebut pertemuan itu sebagai “awal yang baik” dan menekankan kesepakatan atas prinsip kelanjutan dialog, namun mengakui bahwa meningkatnya ketidakpercayaan menjadi tantangan utama. Ia menyatakan bahwa sebelum langkah apa pun, atmosfer ketidakpercayaan harus diatasi agar kerangka yang menjamin kepentingan rakyat Iran dapat dirancang. Ia juga menegaskan bahwa perundingan “semata-mata tentang isu nuklir” dan syarat utama adalah AS meninggalkan bahasa ancaman.
Mediasi Oman dan Bayang-bayang Figur Baru AS
Badr Albusaidi menyebut perundingan ini “sangat serius” dan menyatakan bahwa pertemuan berikutnya akan dijadwalkan setelah evaluasi di Teheran dan Washington. Meski pejabat AS belum mengeluarkan pernyataan resmi, bocoran media menunjukkan Iran siap menempuh jalur diplomasi tanpa mundur dari pengayaan.
Sejumlah media Barat melaporkan bahwa kehadiran Jared Kushner dan seorang jenderal tinggi AS dalam delegasi Amerika berpotensi menambah dimensi baru dalam negosiasi—untuk pertama kalinya seorang perwira militer senior hadir dalam forum semacam ini.
Pesan Rudal: Negosiasi Tanpa Melepas Kekuatan Pertahanan
Tak lama sebelum perundingan dimulai, Islamic Revolutionary Guard Corps mengumumkan masuknya rudal “Khorramshahr-4” ke dalam armada misilnya—sebuah pesan tegas bahwa Iran, meski duduk di meja perundingan, tidak akan melepaskan kemampuan militernya.
Rudal dengan jangkauan sekitar 2.000 km, hulu ledak 1.500 kg, akurasi tinggi, dan kemampuan perang elektronik canggih ini secara langsung menjawab tekanan AS dan Israel terkait pembatasan program rudal Iran. Teheran memandang kemampuan ini sebagai garis merah yang tidak dapat dinegosiasikan, sementara Washington bersikeras agar jangkauan rudal dikurangi dan pengayaan dihentikan total.
Al-Akhbar memperingatkan bahwa dengan kerasnya posisi kedua pihak, kemungkinan kegagalan perundingan dan meningkatnya risiko konfrontasi militer tetap tinggi.
Dalam konteks ini, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran menyatakan bahwa strategi militer Iran pasca “perang 12 hari” telah bergeser dari defensif menjadi ofensif, dengan taktik perang asimetris dan respons cepat. Militer Iran disebut berada pada tingkat kesiapan tertinggi untuk menghadapi berbagai skenario terburuk.
Your Comment