Menurut laporan kantor berita ABNA yang mengutip CNN, Departemen Kehakiman AS pada hari Jumat mengumumkan perilisan kumpulan file Jeffrey Epstein yang sangat besar, mencakup lebih dari tiga juta halaman. Tindakan ini, menurut kementerian tersebut, dilakukan dalam rangka memenuhi kewajiban berdasarkan undang-undang transparansi yang disahkan oleh Kongres tahun lalu.
Volume dokumen yang sangat besar mengenai penjahat seksual ini berarti bahwa peninjauan menyeluruh akan memakan waktu lama. Nama Donald Trump muncul berkali-kali dalam kumpulan dokumen baru tersebut; dokumen yang mencakup laporan investigasi, email, hingga potongan berita.
Pertama, rangkaian email bertanggal Agustus 2025 menunjukkan seseorang yang tampaknya adalah karyawan FBI, memberikan daftar laporan yang belum terkonfirmasi mengenai Trump dan Epstein, yang banyak di antaranya bersifat kontroversial dan memalukan. Trump sejauh ini tidak pernah didakwa oleh lembaga penegak hukum atas pelanggaran terkait Epstein dan membantah keterlibatan apa pun.
Dokumen-dokumen tersebut menunjukkan bahwa Howard Lutnick, Menteri Perdagangan dalam pemerintahan Trump, sedang merencanakan perjalanan ke pulau milik Epstein pada tahun 2012, bertahun-tahun setelah ia menyatakan telah memutus hubungan. Selain itu, dokumen menunjukkan bahwa miliarder teknologi Elon Musk, meskipun sebelumnya menyatakan telah menolak undangan Epstein, berusaha melakukan perjalanan ke pulau Epstein pada tahun 2012 dan 2013.
File-file tersebut juga masih berisi referensi signifikan terhadap Bill Clinton, termasuk deposisi tahun 2016 di mana Epstein berulang kali menggunakan Amendemen Kelima (hak untuk tidak menjawab) saat ditanya tentang Clinton. Dokumen juga mengindikasikan adanya hubungan luas antara Epstein dan Steve Bannon, mantan penasihat Trump.
Your Comment