24 Januari 2026 - 08:22
Mantan PM Israel Sebut Netanyahu sebagai Boneka dan Alat di Tangan Trump

Ehud Olmert, mantan perdana menteri rezim Zionis, melontarkan kritik keras terhadap Benjamin Netanyahu dan susunan kabinetnya. Ia menyebut Netanyahu dan para menterinya sebagai sekumpulan “boneka teroris” serta menegaskan bahwa Netanyahu pada praktiknya telah berubah menjadi boneka di tangan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait  – ABNA – Ehud Olmert, mantan perdana menteri rezim Zionis, melontarkan kritik keras terhadap Benjamin Netanyahu dan susunan kabinetnya. Ia menyebut Netanyahu dan para menterinya sebagai sekumpulan “boneka teroris” serta menegaskan bahwa Netanyahu pada praktiknya telah berubah menjadi boneka di tangan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Dalam wawancara dengan salah satu media Zionis, Olmert menyatakan bahwa perdana menteri saat ini praktis telah menjadi alat Amerika Serikat dan tidak lagi memiliki peran independen dalam pengambilan keputusan strategis.

Olmert menambahkan bahwa Trump bahkan tidak merasa perlu meminta pendapat Netanyahu terkait perkembangan yang berhubungan dengan apa yang disebut sebagai “Dewan Perdamaian Gaza” dan keterlibatan negara-negara seperti Qatar dan Turki. Menurutnya, hal ini merupakan akibat dari ketidakmampuan pemerintahan Netanyahu dalam menawarkan opsi politik alternatif apa pun.

Ia juga menyoroti pendekatan kabinet yang cenderung mengedepankan perang, dan menegaskan bahwa para anggota pemerintahan Netanyahu tidak memiliki keinginan untuk mengakhiri perang di Gaza, serta lebih memilih kelanjutan konflik daripada solusi politik. Olmert menggambarkan para menteri ekstremis kabinet ini, Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich, sebagai figur-figur yang tidak memiliki kemandirian dan justru memperburuk krisis.

Dengan nada sinis, Olmert menambahkan bahwa pada dasarnya tidak relevan lagi menanyakan apakah Netanyahu setuju atau menolak rencana-rencana Amerika, karena keputusan diambil tanpa kehadiran maupun pandangannya.

Ia juga mengatakan bahwa sejak awal perang, rezim Zionis akibat kesombongan dan ketiadaan strategi yang jelas, menolak menyusun rencana untuk periode pascaperang, dan pada akhirnya justru Amerika yang memaksakan kerangka politiknya.

Dalam konteks yang sama, Yair Lapid, pemimpin oposisi rezim Zionis, menyatakan bahwa Israel telah direduksi menjadi aktor pinggiran dalam perkembangan di Gaza. Ia menilai rencana pembukaan kembali perlintasan Rafah yang diumumkan oleh forum internasional sebagai bukti tingkat ketergantungan dan kepasifan kabinet Netanyahu terhadap Washington.

Pernyataan ini muncul ketika Nikolay Mladenov, kepala lembaga yang disebut “Dewan Eksekutif Gaza”, mengumumkan adanya kesepakatan awal untuk memulai proses pembukaan kembali perlintasan Rafah. Media Zionis juga melaporkan bahwa kabinet keamanan rezim tersebut akan membahas hal ini pekan depan. Bersamaan dengan itu, pernyataan para pejabat Amerika yang menegaskan kepastian keputusan ini semakin menyoroti peran dominan Washington dalam berkas Gaza.

Your Comment

You are replying to: .
captcha