Kantor Berita Internasional Ahlulbait – ABNA – Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, pada hari Kamis (22/1) di sela-sela Forum Ekonomi Dunia di Davos, meluncurkan sebuah inisiatif baru bertajuk “Dewan Perdamaian”; sebuah rencana yang menurut klaim Washington merupakan langkah untuk rekonstruksi Gaza, namun menghadapi keraguan dan penolakan luas dari sekutu-sekutu tradisional Amerika.
Dewan ini diperkenalkan dengan kehadiran terbatas sejumlah negara dan sejak awal telah menimbulkan celah yang jelas antara pendukung regional Amerika dan sekutu Baratnya; celah yang lebih mencerminkan menurunnya kemampuan persuasi Washington di panggung internasional daripada menunjukkan adanya konsensus global.
Negara-negara yang sejauh ini menolak undangan
Sejumlah negara Eropa, dengan alasan pertimbangan hukum dan kelembagaan, menolak untuk berpartisipasi dalam inisiatif ini:
Inggris menyatakan untuk saat ini tidak akan bergabung; alasan keputusan ini adalah kekhawatiran atas kemungkinan keterlibatan Rusia.
Prancis menyatakan bahwa “pada tahap ini” tidak berniat untuk bergabung dan memperingatkan bahwa dewan ini bisa saja memperoleh kewenangan yang melemahkan mekanisme yang sudah ada di PBB.
Spanyol; Perdana Menteri Pedro Sánchez, dengan menolak inisiatif Washington, menyebut dewan ini sebagai struktur di luar mekanisme internasional dan menegaskan bahwa rencana yang diajukan Amerika tidak hanya berada di luar kerangka PBB, tetapi juga tidak memberikan tempat bagi Otoritas Palestina.
Norwegia dan Swedia juga mengambil posisi serupa dan menyatakan bahwa inisiatif ini bertentangan dengan hukum internasional dan kerangka multilateral yang telah mapan.
Giorgia Meloni, Perdana Menteri Italia, menyatakan bahwa negaranya memerlukan waktu lebih lama untuk memutuskan dan merujuk pada pertimbangan konstitusional.
Robert Golob, Perdana Menteri Slovenia, menyatakan bahwa negaranya untuk saat ini tidak akan bergabung karena mandat luas inisiatif ini dapat melemahkan sistem internasional berbasis PBB.
Dukungan terbatas, konsensus yang absen
Negara-negara seperti Arab Saudi, Turki, Mesir, Qatar, Yordania, Uni Emirat Arab, Pakistan, dan Indonesia telah bergabung dalam inisiatif ini. Selain itu, negara-negara seperti Maroko, Bahrain, Argentina, Azerbaijan, Armenia, Kazakhstan, Kosovo, Vietnam, Albania, Bulgaria, Paraguay, Uzbekistan, dan Mongolia juga telah menyatakan kehadiran atau persetujuan mereka.
Namun, komposisi peserta dalam acara Davos yang mencakup kurang dari 20 negara menunjukkan bahwa klaim sebagai “inisiatif perdamaian global” tidak sejalan dengan realitas di lapangan, dan dukungan yang ada sebagian besar terbatas pada beberapa negara Asia Barat dan sejumlah kecil negara lainnya.
Kemunduran sekutu Barat
Banyak aktor global penting mengambil sikap hati-hati atau ragu. Rusia berbicara tentang kesiapan bersyarat untuk memberikan dukungan finansial, China dan Jerman menyatakan telah menerima undangan namun belum mengambil keputusan, sementara negara-negara seperti India, Brasil, Kanada, dan Vatikan sedang melakukan peninjauan internal.
Bahkan di antara sekutu dekat Amerika pun tanda-tanda keraguan terlihat jelas; terutama Kanada yang awalnya mengambil pendekatan hati-hati, namun kemudian Trump mengumumkan bahwa undangan negara tersebut telah ditarik kembali; sebuah langkah yang semakin menyoroti sifat politis dan personal dari inisiatif ini.
Undangan masih dalam peninjauan!
Sejumlah negara telah mengonfirmasi menerima undangan, namun belum mengumumkan keputusan akhir mereka: Vladimir Putin, Presiden Rusia, pada hari Kamis menyatakan bahwa Moskow “siap” mengalokasikan satu miliar dolar untuk “Dewan Perdamaian” Donald Trump dan menambahkan bahwa penggunaan aset Rusia yang dibekukan akan dibahas dalam pertemuan dengan utusan Amerika di Moskow.
China mengonfirmasi menerima undangan, namun belum menyatakan sikap terkait partisipasi. Jerman menyatakan telah menerima undangan dan sedang mengkaji masalah ini. India dan Brasil menyatakan bahwa keputusan akhir akan diumumkan setelah konsultasi internal. Vatikan mengonfirmasi bahwa Paus Leo XIV telah menerima undangan.
Kanada mengambil pendekatan hati-hati dan Perdana Menteri Mark Carney belum mengumumkan keputusan akhir. Namun, Trump kemudian menyatakan bahwa undangan Kanada telah ditarik. Irlandia menyatakan akan mempelajari tawaran ini “dengan cermat”.
Rumania, Finlandia, Yunani, Siprus, Jepang, Austria, Australia, Belanda, Thailand, Korea Selatan, Singapura, dan Selandia Baru juga telah diundang, namun hingga kini belum mengumumkan sikap akhir mereka.
Your Comment