22 Januari 2026 - 22:46
Aktivis kelompok jihadis tidak boleh lelah menghadapi kesulitan dan kurangnya kasih sayang

Dalam pertemuan dengan anggota Markas Besar Jihadis Moeen al-Zawfa, Ayatollah Reza Ramezani menekankan perlunya identifikasi audiens yang akurat dalam berurusan dengan generasi baru, dan menyebutkan pengembangan kader untuk seminari dan penguatan fondasi kognitif kaum muda sebagai prioritas utama Front Kebudayaan Revolusi.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Sekelompok pejabat, pendakwah, dan instruktur dari kelompok Jihadi Moeen al-Zawfa bertemu dan berdiskusi dengan Ayatollah Reza Ramezani saat menghadiri Sidang Dunia Ahlulbait as di kota suci Qom.

Pada awal pertemuan, para pejabat kelompok ini menyampaikan laporan tentang kegiatan mereka di 18 provinsi di negara tersebut. Menurut laporan yang disampaikan, kelompok ini, dengan bantuan 157 pelatih ahli, termasuk 80 saudari dan 77 saudara, di antaranya 48 berada di tingkat dua ke atas, telah mengidentifikasi dan memberdayakan 500 pusat budaya dan pendidikan di masjid dan sekolah di seluruh negeri.

Pertemuan tersebut juga membahas langkah-langkah operasional kelompok ini selama hari-hari Arbaeen, termasuk menyediakan layanan pendinginan dan pengasapan di rute Najaf-Karbala untuk melayani para peziarah. Kebutuhan untuk Mengembangkan Dokumen Strategis dan Kesabaran dalam Perjalanan Kegiatan Kebudayaan

Dalam pertemuan ini, Ayatollah Reza Ramezani, yang menyatakan kepuasannya atas kelanjutan kegiatan kelompok ini, menekankan perlunya mengembangkan dokumen strategis 5-10 tahun.

Beliau menyatakan bahwa tujuan dan strategi untuk mencapai visi masa depan harus dijelaskan dan dirancang melalui konsultasi dengan para intelektual dan pusat kebudayaan. Sekretaris Jenderal Lembaga Internasional Ahlulbait as menekankan perlunya visi yang jelas, dengan menunjukkan bahwa hasil kerja kebudayaan tidak akan terlihat dalam jangka pendek. Menurutnya, para aktivis di bidang ini tidak boleh lelah menghadapi kesulitan dan kurangnya kasih sayang, tetapi harus mengatasi kelelahan dengan ketekunan.

Profesor kursus di luar seminari tersebut menunjukkan bahwa batu selalu dilemparkan ke kereta yang sedang bergerak, dan semakin cepat dan efektif suatu kelompok, semakin besar pula konfrontasi dan tantangan yang akan dihadapi.

Tugas Kelompok Jihadis dalam Merekrut Calon Guru

Dalam bagian lain pidatonya, Sekretaris Jenderal Lembaga Internasional Ahlulbait as membahas situasi perekrutan di lembaga pendidikan agama dan menyerukan kepada kelompok jihadis untuk mendorong dan memperkenalkan individu-individu yang berkualitas untuk masuk ke lembaga pendidikan agama dari kalangan pemuda berbakat yang mereka identifikasi dalam rencana mereka. Beliau menekankan bahwa dengan mengadopsi strategi yang tepat dan mengidentifikasi orang secara langsung, gerakan pendaftaran di lembaga pendidikan agama dapat diciptakan dan tingkat kualitatif dan kuantitatifnya dapat ditingkatkan.

Ayatollah Ramezani menekankan pelatihan instruktur daripada distribusi layanan secara langsung, menganggapnya sebagai pelatihan memancing.

Beliau menyebutkan tiga pilar ilmu, cinta, dan ketaatan sebagai hal penting bagi pusat-pusat pendidikan dan mengatakan bahwa ilmu di bidang keyakinan, etika, dan hukum membangun fondasi seseorang dan mengarah pada peningkatan cinta kepada Ahlulbait as, yang pada akhirnya mengarah pada ketaatan.

Profesor Seminari Qom menekankan bahwa ketaatan di era sekarang diringkas dalam mengikuti wali, yang telah menjadi sumber otoritas bagi bangsa Islam di arena global. 

Pentingnya riset audiens untuk generasi muda dan kritik internal kelompok Ayatollah Ramezani menyerukan penyajian konten keagamaan dalam bahasa yang fasih dan sesuai dengan kebutuhan generasi muda. Beliau mengkritik kelemahan dalam sosiologi audiens dan menyatakan bahwa kelemahan ini telah menciptakan kesenjangan intelektual antar generasi. Beliau juga merekomendasikan agar kelompok jihadis melakukan kritik internal sebelum dikritik oleh orang lain agar jalan pertumbuhan manajerial dan eksekutif mereka tetap lancar.

Kapasitas global perempuan

Beliau menganggap kehadiran aktif para perempuan di arena jihadis sangat berharga dan menggambarkannya sebagai kapasitas global. Merujuk pada kedudukan istimewa perempuan dalam pemerintahan dunia Mahdavi, beliau menekankan pentingnya memberikan peran kepada perempuan dalam kegiatan pendidikan.

Ayatollah Ramezani juga menekankan pendidikan komprehensif bagi remaja dan menambahkan bahwa harus terjalin hubungan antara rasionalitas dan spiritualitas. Beliau mengingatkan bahwa manusia membutuhkan sayap rasionalitas dan spiritualitas untuk tumbuh dan terbang, dan kekurangan salah satunya akan mencegah mereka untuk unggul.

Sekretaris Jenderal Lembaga Internasional Ahulbait mengakhiri pidatonya dengan merujuk pada epos Arbaeen dan menganggap pengelolaan peristiwa besar ini berada di luar kemampuan manusia dan tunduk pada kehendak Tuhan. Beliau menyebut para aktivis jalan ini sebagai agen sistem bimbingan ilahi.

Mengutip sebuah riwayat dari Imam Sadiq as, beliau menyebutkan delapan karakteristik bagi Syiah, termasuk kebijaksanaan, yurisprudensi, kesabaran, kesetiaan, dan kejujuran, dan menyerukan agar pendidikan remaja didasarkan pada indikator moral dan perilaku ini.

Your Comment

You are replying to: .
captcha