Menurut Kantor Berita ABNA, FNA melaporkan, Murphy Sabtu (15/8/2020) di akun Twitternya seraya mengisyartkan kegagalan resolusi anti Iran Amerika di Dewan Keamanan menulis, ini bukan kegagalan tapi sebuah skandal.
"Kekalahan resolusi Washington anti Tehran menunjukkan betapa lemahnya Amerika Serikat," papar Murphy.
Jumat sore waktu New York, penghitungan voting anggota Dewan Keamanan terkait resolusi usulan Amerika untuk memperpanjang sanksi senjata Iran menunjukkan bahwa resolusi ini hanya mendapat dua suara mendukung dan Amerika mengalami kekalahan telak melawan Iran.
Amerika Serikat dan Republik Dominika memberi suara setuju terhadap resolusi ini, sementara Rusia dan Cina menolak. Adapun sisa anggota Dewan Keamanan memilih abstain.
Wakil tetap Rusia di PBB Jumat malam di statemennya seraya mengisyaratkan suara penolakan negaranya untuk memperpanjang boikot senjata Iran menjelaskan, Rusia memberi suara menolak bagi draf resolusi AS anti Iran, karena draf ini jelas-jelas melangar resolusi 2231 Dewan Keamanan.
Sementara wakil tetap Cina di PBB di statemennya seraya mengisyaratkan suara menentang negaranya terhadap resolusi AS anti Iran mengingatkan, draf yang diajukan Washington bukti arogansi.
Wakil tetap Cina di PBB di statemennya menekankan, kegagalan AS di Dewan Keamanan mengindikasikan bahwa unilateralisme tidak mendapat dukungan dan aksi bullying pasti gagal.
Berdasarkan resolusi 2231 Dewan Keamanan, sanksi senjata terhadap Iran akan berakhir Oktober mendatang.
Meski Amerika telah keluar dari JCPOA selama dua tahun dan terus mengabaikan resolusi 2231 Dewan Keamanan, di interpretasi hukumnya mengklaim bahwa berdasarkan isi resolusi ini, Washington masih tetap anggota partisipasi di JCPOA dan di koridor ini berhak menggunakan mekanisme yang ada di kesepakatan ini termasuk mekanisme penyelesaian sengketa untuk memulihkan sanksi kepada Iran.
Klaim tersebut menuai respon nyata dari mayoritas anggota Dewan Keamanan khususnya Rusia dan Cina. (MF)
342/