Menurut Kantor Berita ABNA, Amerika, Jumat (7/4) dini hari dengan dalih serangan kimia mencurigakan yang terjadi tiga hari sebelumnya ke Provinsi Idlib, Suriah, menembakkan 59 rudal dari kapal perangnya di Laut Mediterania ke pangkalan udara Shayrat di Homs,Suriah. Serangan rudal Amerika itu menewaskan sembilan warga sipil Suriah termasuk empat anak-anak dan melukai tujuh lainnya.
Hassan Rouhani, Presiden Iran, Sabtu (8/4) di Tehran menuntut pembentukan sebuah tim pencari fakta internasional yang melibatkan negara-negara tidak berpihak untuk mengusut masalah penggunaan senjata kimia di Suriah.
Menurut Rouhani, pemerintah Suriah berdasarkan laporan PBB saat ini sudah tidak memiliki senjata kimia lagi.
"Tim pencari fakta internasional tidak boleh dibentuk dengan melibatkan Amerika atau dipimpin oleh negara itu dan berkewajiban melakukan penyelidikan untuk mengungkap asal senjata kimia yang digunakan di Suriah dan siapa yang melakukannya" ujar Rouhani.
Presiden Iran mempertanyakan alasan Amerika menyerang sebuah negara independen dan menegaskan, seluruh anasir teroris di Suriah mengaku gembira dengan serangan bodoh dan zalim Amerika yang melanggar seluruh aturan internasional itu.
Rouhani juga menyinggung statemen Donald Trump, Presiden Amerika terkait perang melawan terorisme. "Jika Amerika berkata benar, lalu mengapa langkah pertama negara itu justru membantu teroris dan menyerang pasukan pemerintah Suriah," pungkasnya.