Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah Khamenei Selasa (25/10) sore saat bertemu dengan Izetbegovic menjelaskan, "Meskipun koalisi ini dalam beberapa kasus mungkin terlibat perang melawan teroris, namun mereka tidak benar-benar mengejar untuk membasmi terorisme di Irak dan Suriah. Kebijakan-kebijakan buruk dan jahat mereka kian hari menambah persoalan umat manusia."
Rahbar menandaskan, pelecehan dan penghinaan terhadap pemuda Muslim di sejumlah negara kaya dan kuat Eropa telah membuka peluang bagi mereka untuk bergabung dengan kelompok teroris seperti Daesh.
Akar terbentuknya berbagai kelompok teroris di wilayah Asia Barat kemabli pada kebijakan sejumlah negara Barat khususnya Amerika Serikat. Ada banyak bukti terpercaya seperti buku memorial Hillary Clinton, kandidat presiden AS dari kubu Demokrat, yang membenarkan kebijakan pengobaran perang dan pembentukan kelompok teroris oleh sejumlah negara Barat.
Serangan teroris 11 September 2001 telah mengubah kebijakan Amerika Serikat dan menjadi dalih agresi negara ini ke Afghanistan serta Irak. Agresi ini memainkan peran menentukan dalam merebaknya instabilitas dan terorisme. Elit politik dan militer Amerika pasca transformasi 11 September menilai serangan preemtif terhadap terorisme sebagai jaminan bagi keamanan nasional negara ini.
Dengan kata lain, serangan teroris ke jantung kota New York menjadi alasan pengobaran peran baru di Asia Barat. Perang yang dimulai AS beserta sekutunya di Afghanistan dan Irak dengan kedok terorisme, bukan saja gagal memberangus fenonema buruk tersebut, bahkan memperbesar benih-benih terorisme di berbagai kawasan dunia, khususnya Timur Tengah.
Meski kawasan Arab di luarnya tampak sebagai tempat kelahiran terorisme, namun kebijakan pemerintah Amerika serta sejumlah negara Eropa selama 15 tahun terakhir merupakan faktor utama penyebaran terorisme.
Militeralisasi Amerika ke Irak dengan dalih menumbangkan rezim Baath, meski berhasil namun kebijakan Washington di Baghdad membuka peluang bagi tumbuhnya terorisme Daesh di Irak.
Di saat Amerika menduduki Irak selama bertahun-tahun, Abu Bakar al-Baghdadi, pemimpin Daesh saat ini, yang tengah dipenjara kemudian dibebaskan. Langkah AS tersebut dengan sendirinya merupakan persiapan bagi pembentukan kelompok teroris Daesh di Irak dan kemudian di Suriah.
Seiring dengan semakin gemuknya Daesh, kelompok ini dengan merekrut para algojo dari berbagai dunia, tidak membatasi diri dalam setiap aksinya dan pergerakannya mulai meluas tidak hanya di Irak dan Suriah. Aksi kejam Daesh telah membuat dunia ketakutan. Maraknya gelombang teroris Daesh mendorong Barat yang dipimpin AS membentuk koalisi anti Daesh.
Koalisi ini mulai melancarkan operasi pertamanya tahun 2014, namun merunut kinerja koalisi anti Daesh pimpinan AS, muncul beragam keraguan dan ketidakjelasan akan tujuan sejati mereka dalam memerangi terorisme. Di antara ketidakjelasan tersebut adalah serangan membabi buta koalisi ini di Irak dan Suriah serta pengiriman senjata bagi anasir teroris Daesh di berbagai wilayah Irak melalui udara,
Teroris yang diklaim tengah diperangi koalisi Amerika, kini mulai operasinya mulai merambah Eropa dan menciptakan ketakutan di negara-negara tersebut. Standar ganda Barat dalam memerangi teroris di Suriah dan Irak mengindikasikan bahwa koalisi anti terorisme Barat pimpinan Amerika bukan untuk memberantas akar fenomena buruk ini.