30 September 2016 - 04:51
Agama dan Negara Tidak Bertentangan

Semangat nasionalisme Indonesia selain melindungi kemajemukan yang diajarkan Islam juga menjamin setiap warga mengamallkan ajaran agamanya.

Menurut Kantor Berita ABNA, Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin yang akrab disapa Gus Ishom menjelaskan hubungan antara negara dan agama yang kerab kali dibenturkan oleh orang maupun kelompok untuk kepentingan kekuasaan politik.

Melalui akun Facebooknya, ia menjelaskan bahwa pada prinsipnya agama Islam atau agama apapun yang ada di Indonesia tidak membenarkan agama dijadikan sebagai sesuatu yang dapat mengganggu terwujudnya kemaslahatan umum. Karena jika itu terjadi maka akan merusak harmoni antar penganut agama serta peluang terjadinya disintegrasi bangsa.

Gus Ishom menerangkan, “ Sepatutnya setiap ajaran agama yang diyakini kebenarannya oleh masing-masing penganutnya tidak dijadikan sebagai dalih untuk setiap hal yang bisa merusak hubungan kemanusiaan, apalagi untuk hal yang nyata-nyata membahayakan kemanusiaan,” dilansir dari NU Online.

Ia juga menjelaskan, semangat nasionalisme Indonesia selain melindungi kemajemukan yang diajarkan Islam juga menjamin setiap warga mengamallkan ajaran agamanya. Sehingga nasionalisme harus selalu digaunkan dalam aktivitas beragama sebagaimana yang telah dipelopori Kiai pesantren di lingkungan Nahdatul Ulama (NU).

“Yakni nasionalisme yang mengajarkan betapa pentingnya pengakuan atas kemajemukan, namun berupaya secara terus menerus agar berada dalam bingkai persatuan untuk secara bersama mewujudkan bangsa yang diliputi oleh kebaikan, keadilan dan kemakmuran atau baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur,” tegasnya.