Menurut Kantor Berita ABNA, dalam pertemuan pimpinan redaksi serta staff ABNA dengan Ayatullah al Uzhma Musawi Ardibili di kediamannya, ulama marha taklid tersebut memuji kinerja redaksi ABNA dengan mengatakan, “Apa yang telah kalian kerjakan sangat mulia dan patut mendapatkan pujian.”
Tambahnya.
Ulama marja taklid tersebut lebih lanjut menambahkan, “Komunitas Syiah yang minoritas di sejumlah negara muslim sampai saat ini masih berada dalam kondisi terpinggirkan. Berita-berita yang kalian buat untuk mendukung dan memberikan rasa solidaritas kepada mereka, adalah aktivitas yang sangat mulia.”
“Kami juga akan berusaha sebisanya, untuk memberikan bantuan yang kami bisa.” Lanjutnya.
Di awal pertemuan, pemimpin redaksi ABNA, Hujjatul Islam wa Muslimin Sayid Husaini Arif menyampaikan bahwa kantor berita ABNA yang berdiri sejak 10 tahun lalu sampai saat ini telah dikelola dalam 23 bahasa.
Ia menambahkan, “300 juta umat Islam Syiah saat ini tersebar dibanyak negara namun disayangkan disejumlah negara, kondisi mereka sangat memprihatinkan karena sebagai minoritas mereka terpinggirkan dan dijadikan warga kelas dua, seperti kondisi umat Islam Syiah di Bahrain dan dibeberapa negara lainnya. Di Azarbaijan, meskipun Syiah mayoritas namun mereka tertindas dibawah hukum negara yang membatasi gerak mereka, bahkan sekedar melakukan ibadah dan syiar agama mereka dilarang dan diblokir.”
“Keterzaliman mereka bertambah, karena media-media berita cenderung memilih tidak mengabarkan kondisi mereka yang hidup dalam berbagai kesulitan. Oleh karena itu ABNA lahir, untuk membantu mereka melalui berita-berita yang kami lansir agar terbaca oleh masyarakat dunia, sehingga mengetahui kondisi yang mereka alami.” Lanjutnya.
Husain Arif menambahkan, “Seperti contoh, di Pakistan lebih dari 20 juta penduduknya bermazhab Syiah namun melalui berbagai aksi teror, warga Syiah di Pakistan sering menjadi korban pembunuhan. Diantaranya di kota Parachinar, Peisyawar dan lain-lain. Bis mereka di tahan untuk kemudian dibantai, mereka menjadi korban aksi bom bunuh diri diruang-ruang publik, menjadi korban penembak gelap dan seterusnya. Dengan kondisi demikian, media-media berita tidak mengabarkan mengenai keadaan mereka. Kecuali dalam ruang pemberitaan yang sangat terbatas.”
“Diawal pendiriannya ABNA hanya mengelola 3 bahasa namun saat ini sudah dalam 23 bahasa yaitu, Inggris, Arab, Perancis, China, Persia, Spanyol, Jerman, Rusia, Turki Istanbul, Turki Azeri, Urdu, Bangladesh, Melayu, India, Indonesia, Sawahili, Husa, Myanmar, Bosnia, Portugal, Jepang, Sourani dan Bengali. Dua bahasa lainya akan kami tambahkan dalam waktu dekat ini, sehingga menjadi 25 bahasa.” jelasnya.
Dibagian akhir pertemuan yang berlangsung kurang lebih 1 jam tersebut, Ayatullah Ardibili memanjatkan doa, agar masalah-masalah umat Islam saat ini bisa segera teratasi.
Disebutkan, mengunjungi ulama dan meminta nasehatnya telah menjadi agenda rutin redaksi ABNA. Setidaknya sampai saat ini redaksi ABNA telah berkunjung kekediaman sejumlah ulama besar Syiah di Qom seperti, Ayatullah Alawi Ghurghani, Ayatullah Madzahiri, Ayatullah Sayyid Ahmad Khatami dan sejumlah ulama besar lainnya.


