3 April 2015 - 12:01
Pengakuan Program Nuklir Iran, Prestasi Terpenting Negosiasi Lausanne

Wakil Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional mengatakan, pernyataan bersama antara Iran dan Kelopok 5+1 telah memberikan kredibilitas, kepercayaan dan pengakuan internasional kepada program nuklir negara ini.

Menurut Kantor Berita ABNA, Sayid Abbas Araqchi mengemukakan hal itu dalam wawancara dengan jaringan 2 televisi Iran, Kamis (2/4) malam, ketika menyinggung pernyataan bersama antara Iran dan Kelompok 5+1 di Lausanne, Swiss.

Araqchi menambahkan, pernyataan bersama yang merupakan hasil dari 16 bulan berunding itu adalah prestasi-prestasi penting bagi Iran.

Ia menjelaskan, Iran mengejar pendekatan "Win-win" dalam perundingan, dan pihak-pihak yang berseberangan juga ingin tuntutannya tercapai, di mana tuntutan mereka hanya kepercayaan, yaitu Iran tidak sedang mengejar senjata nuklir.

Dan pada gilirannya, kata Araqchi, untuk memenuhi tuntutan tersebut, Iran juga meminta supaya tuntutan-tuntutanya dipenuhi, di mana tuntutan terpentingnya adalah pengakuan dan penghormatan internasional terhadap agenda nuklir Iran.

Anggota senior tim perunding nuklir Iran itu menuturkan, enam resolusi Dewan Keamanan PBB yang anti-program nuklir Iran, di mana resolusi-resolusi ini dianggap tidak valid, akan dicabut sekaligus.

Menurutnya, enam resolusi yang akan dicabut sekaligus dan penghormatan terhadap agenda nuklir Iran belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Dewan Keamanan PBB.

Selama 10 tahun, kata Araqchi, Barat telah mengembargo Iran, dan mereka menuntut penghentian pengayaan uranium, namun hingga sekarang, pengayaan uranium ini tidak pernah berhenti meski sehari saja, dan bahkan mereka menghormati program ini dan menjamin kelanjutannya.

Tehran dan Kelompok 5+1 mengeluarkan pernyataan bersama yang menentukan "kerangka" kesepakatan final tentang aktivitas nuklir damai Iran setelah berunding intensif selama sembilan hari di Lausanne, Swiss.

Pernyataan bersama itu dibacakan oleh Mohammad Javad Zarif, Menlu Iran dan Federica Mogherini, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa di  Lausanne, Kamis malam. (IRIB)