12 Maret 2015 - 18:19
Agama Islam Berdiri Diatas Prinsip Keadilan

“Al-Qur’an al-Karim dan keteladanan dari Maksumin AS mengajarkan umat Islam untuk bersikap adil, pertengahan dan tidak berlebih-lebihan. Amirul Mukminin As bersabda bahwa kita berdiri diatas prinsip keadilan, yang ekstrim dan bersikap berlebih-lebihan kita ajak kembali, sementara yang lamban kita serukan untuk bisa mempercepat langkahnya menyusul kita.”

Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah al Uzhma Nashir Makarim Shirazi sebagai pengantar dalam pelajaran Kharij Fiqh yang diasuhnya di Masjid A’dzham Qom Republik Islam Iran yang dihadiri ribuan santri Hauzah, menyampaikan sejumlah nasehat akhlak. Beliau berkata, “Lidah seorang yang berakal berada dibalik hatinya, namun hati seorang munafik berada di balik lidahnya. Ini adalah pemisalan yang menarik dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As, bahwa seseorang yang berakal dan memahami masalah, dia akan memulai dengan memikirkan terlebih dahulu, apa yang akan dikatakannya, sementara orang jahil akan berkata begitu saja, tanpa memikirkan sebelumnya, apakah yang akan dikatakannya itu baik atau buruk, bermanfaat atau tidak.”

Ulama marja taklid muslim Syiah tersebut, lebih lanjut mengatakan, “Seorang yang jahil, berbicara dan melakukan sesuatu tanpa melalui proses memikirkan terlebih dahulu apa akibatnya. Dia dengan spontan melakukan atau berbicara yang diinginkannya, baru kemudian memikirkan akibatnya. Sementara sebaliknya, orang yang berilmu dan berakal, akan mempertimbangkan dan memikirkan terlebih dahulu sebelum berbicara dan bertindak.”

“Demikian pula, ketika mendapatkan informasi atau mendengarkan perkataan dari seseorang, maka dia harus mengetahui dari mana sumber informasi tersebut. Dia harus meneliti dan mengklarifikasi, apakah informasi tersebut layak dipercaya atau tidak. Baik sumber maupun penyampai, dia harus cari tahu bagaimana keadaannya, apakah informasi itu disampaikan dalam keadaan dia hasad, benci dan dendam atau dipenuhi nafsu permusuhan atau tidak. Oleh karena itu, seseorang tidak diperkenankan memberi vonis atau mengambil keputusan atas sesuatu, sebelum memahami betul situasinya dan memiliki data yang sempurna mengenai suatu informasi yang didapatkannya.”

Ayatullah Makarim Shirazi menambahkan, “Jika kalian mendapatkan suatu informasi, namun kalian tidak mencari tahu informasi dari pihak lain, tidak pula melakukan klarifikasi, maka jangan sekali-kali melakukan vonis dan melemparkan tuduhan pada satu pihak. Sikap tabayyun, klarifikasi dan berpikir sebelum berbicara dan bertindak menunjukkan adanya hikmah dan iman pada diri seseorang.”

“Sangat disayangkan, jika melihat media-media hari ini, mereka cenderung memberikan informasi dan berita hanya dari satu pihak. Itupun mereka tidak memastikan terlebih dahulu, apakah informasi itu benar atau tidak. Jika hanya dari satu pihak, media semestinya tidak menyebarkannya kepada masyarakat.” tegasnya.

Ulama yang menelurkan karya tafsir al Amtsal tersebut melanjutkan, “Sebuah media harus belajar dari cara pengadilan menjatuhkan vonis, yaitu mendengarkan dari kedua belah pihak, yang tertuduh dan yang mengajukan tuntutan. Sang penuntut harus mengajukan bukti-bukti dan saksi yang membenarkan tuduhannya. Baru kemudian dilakukan interogasi dan pemeriksaan apakah saksi-saksi tersebut benar dalam kesaksiannya dan apakah bukti yang disertakan membenarkan tuntutan penuntut atau malah sebaliknya.”

Ulama besar Hauzah Ilmiah Qom tersebut dalam penyampaiannya juga menyinggung Islam berdiri kokoh diatas prinsip penegakan keadilan dan bersikap pertengahan, tidak berat sebelah. Beliau berkata, “Al-Qur’an al-Karim dan keteladanan dari Maksumin AS mengajarkan umat Islam untuk bersikap adil, pertengahan dan tidak berlebih-lebihan. Amirul Mukminin As bersabda bahwa kita berdiri diatas prinsip keadilan, yang ekstrim dan bersikap berlebih-lebihan kita ajak kembali, sementara yang lamban kita serukan untuk bisa mempercepat langkahnya menyusul kita.”

“Sangat disayangkan, mayoritas umat Islam saat ini terjebak dalam dua kutub berseberangan ini. Banyak yang ekstrim, namun juga banyak yang abai dengan agama ini. Misalnya, banyak yang mengatakan, bahwa pemerintah sama sekali tidak melakukan apa-apa untuk memperbaiki kondisi dan permasalahan yang ada, tentu ini pernyataan yang berlebihan, karena pemerintah banyak melakukan berbagai hal. Namun disisi lain, juga ada yang mengatakan, tidak ada masalah dengan pemerintah, apapun yang dilakukannya baik, dan tanpa cela. Tentu pernyataan tersebut juga tidak benar. Yang harus diperhatikan, adalah keberhasilan pemerintah harus didukung dan dipuji, sementara kekurangannya harus diakui, dan dibantu untuk bisa dituntaskan.”

“Masalah politik dan sosial tidak akan terselesaikan jika masyarakat kita biarkan terpecah dalam dua kubu yang berseberangan. Kita harus menghindari sikap yang berlebihan disaat yang sama juga menolak sikap pesimis dan acuh tak acuh. Semua lapisan masyarakat harus bersatu dan bekerjasama. Musuh kita terus bekerja untuk menghancurkan kita, lengah sedikit saja, kita akan menjadi mangsa dan akan dilumatnya. Dalam menghadapi musuh, tidak ada formula yang lebih dasyhat dari persatuan, kesungguhan, kesabaran dan tawakkal kepada Allah Swt.”

Pada bagian lain penyampaiannya, Ayatullah Makarim Shirazi mengingatkan, “Kita harus senantiasa memberi penghormatan dan pemuliaan kepada keluarga dan orangtua para syuhada. Kita harus menjaga dan melestarikan tradisi jihad dan semangat kesyahidan, bahkan harus senantiasa ditingkatkan dalam masyarakat.”

“Hari ini, media-media perusak sibuk menyebarkan informasi-informasi yang merusak dan bertentangan dengan akhlak Islam. Karena itu kewaspadaan dan kesungguhan dalam menghadapi mereka harus terus ditingkatkan. Jika pesan agama untuk senantiasa melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar terus dihidupkan ditengah-tengah masyarakat, maka dengan sendirinya, kerusakan akhlak dalam masyarakat bisa diminimalisir dan memberi perubahan yang baik dalam kehidupan sosial.” tambahnya.