Menurut Kantor Berita ABNA, Perdana Menteri Irak, Haider al-Abadi pada Senin [12/1] dalam pertemuannya dengan Rektor Universitas al-Azhar Mesir, Syaikh Dr. Ahmad al-Tayyib membincangkan strategi memerangi pemikiran Takfiri dan bertukar pandangan mengenai isu-isu penting yang melanda kawasan di Kairo, ibu kota Mesir.
Sambil menjelaskan situasi yang berkembang di Irak saat ini, Haider al-Abadi berkata, "Kami sudah memiliki ulama marja' Syiah sejak seribu tahun yang lalu di mana mereka sentiasa mengajak ke arah kehidupan yang penuh damai dan aman, tanpa penumpahan darah. Rakyat pula mengetahui prinsip dan menentang setiap bendera yang bukan bendera Irak, yang hendak merusak persatuan nasional."
Menurut beliau lagi, demi menjaga keamanan negara berbagai langkah proaktif perlu diambil seperti memperkenalkan agama Islam yang sebenarnya, yang pada hakikatnya bertentangan dengan ajaran Takfiri disamping mengembangkan interaksi dan memperat hubungan baik antar pengikut berbagai agama serta menghindari isu-isu yang dapat memicu terjadinya pertikaian dan perpecahan.
Dr. Amad Tayyib turut menegaskan pihaknya sentiasa mendukung persatuan dan solidaritas bersama rakyat Irak dalam upaya memerangi gerakan terorisme yang sedang melanda negeri seribu malam itu. Haider al-Abadi menyampaikan sejumlah rencana strategis yang dapat diterapkan antara al-Azhar dan Hauzah ilmiyah Najaf dalam upaya menyatukan umat islam serta memerangi gejala ekstremisme. Tegasnya lagi kelompok-kelompok kabilah di Irak adalah bersaudara dan diikat oleh semangat nasionalisme yang sama.
Selain itu, prinsip yang disepakati bersama al-Azhar dan hauzah Najaf dalam terwujudnya persatuan umat dapat membantu melahirkan pemikiran solutif dalam menghadapi aliran ekstremisme. Kabilah-kabilah di Irak yang mengumandangkan persaudaraan tidak sekalipun mengizinkan gerakan apapun untuk merusak persatuan yang telah dibina sesama mereka.
Perdana Menteri Irak turut meminta negara-negara Arab bekerjasama mewujudkan satu pakta keamanan yang sama untuk memerangi ISIS yang sedang memecah belah dan mencetuskan fitnah di kalangan umat dengan racun pemikirannya dan aksinya yang brutal. Mengulas ISIS, beliau berkata, “Terrorisme dan kekerasan tidak berkaitan dengan Sunni atau Syiah, malah keberadaannya tidak ada kaitannya sedikitpun dengan agama Islam. Kemunculannya justru menjadi tamparan bagi Islam dan sudah menjadi kewajiban umat untuk mempertahankan agama.”
Sementara itu, penasehat Rektor Universitas al-Azhar, Dr. Muhammad Mehna menyampaikan Dr. Ahmad Tayyib akan mengunjungi Irak secepat mungkin dalam rangka mewujudkan persatuan di kalangan umat Islam sebagaimana yang dicita-citakan. Dr. Mehna lebih lanjut menjelaskan, "Dalam pertemuan ini Sheikh al-Azhar berjanji akan menemui ulama marja' Syiah untuk menganalisa beberapa masalah ikhtilaf di Universiti al-Azhar kerana masalah ini sering dijadikan eksploitasi sebagai alasan perpecahan."
Tambah beliau lagi, "Sheikh al-Azhar akan segera ke Irak. Kunjungan ini bertujuan sebagai bentuk pengabdian kepada persatuan umat Islam, sebagaimana diketahui persatuan adalah keniscayaan yang harus diwujudkan hari ini. Al-Azhar bersedia menjalankan kajian tentang persatuan dengan memanfaatkan seluruh fasilitas yang dimilikinya."
Mengenai perkara ini, Sheikh al-Azhar berkata pihaknya tidak akan menunggu keamanan dipertingkatkan, namun dalam situasi seperti ini beliau akan mendukung agar kondisi di dalam negara Irak bisa segera kondusif.
"Diantara keistimewaan tahun ini adalah peringatan kelahiran Nabi Isa As dan Nabi Muhammad Saw yang berdekatan. Peluang seperti ini harus dimanfaatkan karena perpecahan dan perselisihan tidak memberikan faedah apapun.” ungkap Dr. Muhammad Mehna.
Dalam pertemuan tersebut, Sheikh al-Azhar dan Perdana Menteri Irak turut membincangkan wacana-wacana dialog antara ulama al-Azhar dan marja'-marja' taqlid Najaf. "Dasar politik negara baru Irak ialah persatuan dan kesetiakawanan. Semoga kita dapat melihat kerjasama dasar politik ini dengan Universitas al-Azhar," Ungkap Haider al-Abadi, yang diamini Dr. Ahmad Tayyib.



