Menurut Kantor Berita ABNA, Seraya menekankan urgensitas persatuan dan solidaritas umat Muslim, Rahbar menambahkan, “Setiap langkah provokatif dan friksi Sunni-Syiah membantu Amerika Serikat, Inggris dan rezim Zionis Israel dengan memunculkan gerakan dungu, kolot serta berafiliasi dengan takfiri.”
Dari sudut pandang ini Rahbar menjelaskan ambisi kelompok arogan dunia dalam mengobarkan perpecahan di antara mazhab-Islam khususnya Syiah-Sunni. “Munculnya friksi di antara umat Islam dengan sendirinya akan membuat energi mereka terkuras untuk menyelesaikan perseteruan di antara mereka dan mereka tidak lagi memperhatikan musuh utama dan sebenarnya. Ini adalah tujuan yang ingin diraih imperialis dunia dan mereka dengan gigih menyusun prorgam tersebut.”
Tak diragukan lagi sebagian dari dalih munculnya kondisi ini harus dicermati dalam kebijakan sejumlah negara Islam, di mana mereka lebih memilih menjadi pelaksana strategi kekuatan besar dunia ketimbang mendukung solidaritas nasional serta agama. Mereka lebih senang bergantung kepada kekuatan intervensif ketimbang bersatu dan dengan demikian praktisnya mereka menjadi pesuruh imperialis dunia dalam mensukseskan ambisinya di kawasan serta membuka peluang perpecahan etnis dan antar-Mazhab.
Munculnya berbagai kelompok teroris seperti al-Qaeda dan ISIS termasuk kebijakan Barat untuk mencegah umat Islam bersatu dan ini mengindikasikan proyek pengobaran perpecahan di tengah umat Islam. Gerakan ini berjalan dengan terorganisir dan disusun rapi di mana sumber daya manusia, fasilitas dan kapasitas ekonomi dunia Islam bakal hancur di tangan umat Islam sendiri atau menjadi lemah. Wajar jika berlanjutnya proses ini akan memaksa dunia Islam terjalari penyakit nifak ketimbang berperang melawan terorisme serta kubu arogan dunia. Ini merupakan ancaman serius dan berbahaya bagi Islam.
Seperti yang diingatkan Rahbar, “Kajian intensif dan analisis terkait peristiwa ini mengindikasikan bahwa Amerika Serikat bersama sekutunya dengan dalih palsu menghadapi ISIS lebih memprioritaskan untuk menciptakan perpecahan dan permusuhan di antara umat Muslim ketimbang menghancurkan benih-benih ISIS.”
Salah satu dalih investasi kubu arogan terhadap gerakan pengobar perpecahan adalah menghadapi ideologi menarik dan pengaruh Republik Islam. Beliau mengatakan, “AS, Zionisme dan Inggris, pasca kemenangan Revolusi Islam Iran berupaya meningkatkan perpecahan serta menyelewengkan opini Syiah dan Sunni dari musuh utama meerka.”
Menurut ungkapan Rahbar, “Mereka menciptakan al-Qaeda dan ISIS untuk mengobarkan perpecahan dan menghadapi Republik Islam, namun kini mereka justru terlilit boneka ciptaan mereka tersebut.”
Rahbar seraya mengisyaratkan poin vital ini menjelaskan, “Siapa saja yang komitmen dengan Islam dan menerima hukum al-Quran, baik itu Sunni maupun Syiah, harus waspada bahwa strategi AS-Israel adalah musuh sejati dan umat Islam serta umat Muslim.”
Arahan Rahbar ini bertumpu pada pengenalan terhadap musuh yang senantiasa beliau sebuat sebagai poin penting dan vital. Dalam pertemuan hari Senin ini beliau kembali menyebut, tugas utama seluruh umat Muslim adalah waspada dan mengindari secara penuh aksi-aksi provokatif yang menyinggung kelompok lain.
Ayatullah Khamenei menjelaskan, Syiah dan Sunni harus menyadari bahwa setiap tindakan atau ucapan termasuk pelecehan terhadap keyakinan pihak lain akan membangkitkan sensitifitas serta api perpecahan dan hal ini pastinya hanya menguntungkan musuh bersama umat Muslim. (IRIB)