18 Mei 2014 - 16:46
Boko Haram Bukanlah Kelompok Islam

Mereka adalah buatan Barat dan AS yang dengan itu membenarkan tudingan mereka, bahwa Islam adalah ajaran yang anti kemajuan dan anti kemanusiaan. Tujuan utama mereka adalah hendak menghancurkan Islam

Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah Al Uzhma Nasir Makarim Shirazi diawal pelajaran Dars Kharij Fiqh yang diasuhnya dihadapan ribuan pelajar agama yang baru saja menyelesaikan I’tikafnya dari 13-15 Rajab mengatakan, “Alhamdulillah, minat para pemuda dan masyarakat kita untuk mengikuti penyelenggaraan I’tikaf secara nasional di masjid-masjid masih sangat besar. Hal tersebut menjadi pukulan telak bagi para musuh Islam yang telah berupaya gigih hendak menjauhkan ummat ini dari agamanya. Shalat Jum’at, penyelenggaraan haji, ibadah-ibadah di bulan Ramadhan, shalat id dan i’tikaf serta tradisi ruhaniah lainnya adalah amalan-amalan yang dapat memperbaharui dan meningkatkan keimanan sehingga semakin mengakrabkan kita pada ajaran Ilahi.”

Pada bagian lain penyampaiannya, berkenaan dengan aksi-aksi teror kelompok Boko Haram yang mengklaim diri sedang memperjuangkan tegaknya syariat Islam di Nigeria, Ayatullah Makarim Shirazi mengakatan, “Kelompok Boko Haram menyebut diri mereka adalah pejuang syariat Islam sementara apa yang mereka lakukan justru jauh dari ajaran dan syariat Islam. Mereka telah menculik dan menyandera sekitar 200 siswi yang kemudian mereka hendak ganti dengan sejumlah uang. Kesalahan para pelajar putri tersebut karena mereka menuntut pendidikan di sekolah yang dalam keyakinan Boko Haram, sekolah diharamkan bagi para perempuan.”

“Duniapun mengetahui, bahwa apa yang mereka lakukan tersebut jauh dari ajaran Islam bahkan bertentangan sehingga pada hakikatnya mereka bukanlah kelompok muslim. Aqidah mereka bukan aqidah Islam, sehingga tidak pantas menisbatkan diri sebagai kelompok muslim. Mereka adalah buatan Barat dan AS yang dengan itu membenarkan tudingan mereka, bahwa Islam adalah ajaran yang anti kemajuan dan anti kemanusiaan. Tujuan utama mereka adalah hendak menghancurkan Islam” jelas guru besar Hauzah Ilmiah Qom tersebut.

“Gerakan dan aksi-aksi teror mereka dimanfaatkan para musuh untuk menunjukkan pada mata dunia betapa kejam dan sadisnya ajaran Islam itu, sehingga masyarakat yang mencintai kebebasan dan kemanusiaan akan menjadi phobia dan anti pada Islam. Namun hal yang menggembirakan, mufti dari kalangan Ahlus Sunnahpun telah memfatwakan bahwa Boko Haram bukan dari kelompok Islam dan sepak terjang mereka bertentangan dengan ajaran Islam. Karenanya mata dunia akan terbuka, bahwa Boko Haram dan kelompok-kelompok ekstrim lainnya tidak pantas menyandangkan diri sebagai pejuang Islam.” Tambahnya.

Sebagaimana yang ditulis Liputan Islam, Boko Haram adalah kelompok atau organisasi militan Islam Radikal yang berbasis di Nigeria, didirikan oleh Mohammed Yusuf pada tahun 2002. Kelompok ini berusaha untuk mendirikan sebuah negara Islam murni yang berdasarkan atas syariat Islam. Menolak Westernisasi, dan kini semakin agresif dan intensif melakukan pembunuhan, kebrutalan yang tanpa pandang bulu. Kelompok ini berkembang menjadi mesin pembunuh paling aktif dan contoh paling nyata bahaya radikalisme terhadap negara.

Mereka mengebom, menembak, membantai, dan menculik warga sipil atau militer. Lokasi sasaran mulai dari pasar, asrama, kantor pemerintah, sekolah, rumah sakit, tempat ibadah, bank, terminal bus, pos polisi, barak militer, serta kantor lembaga asing. Menurut berbagai sumber, kekerasan terkait dengan ulah Boko Haram telah mengakibatkan sekitar 10.000 kematian antara tahun 2002 dan 2013.

Pada malam 14-15 April 2014, sekelompok militan menyerang sekolah menengah perempuan pemerintah satu-satunya di Chibok, Nigeria. Mereka masuk ke sekolah, menembaki para penjaga dan membunuh seorang tentara. Sejumlah besar siswa dibawa pergi dalam truk, mungkin ke daerah Konduga dan kemudian ke tengah hutan Sambisa dimana Boko Haram diketahui telah membangun markasnya. Sekolah di Chibok juga dibakar dalam insiden itu.

Sebenarnya sekolah telah ditutup selama empat minggu sebelum serangan itu karena situasi keamanan yang memburuk, tetapi para siswa dari beberapa sekolah telah dipanggil untuk mengikuti ujian akhir mata pelajaran fisika. Ada 530 siswa dari beberapa desa yang terdaftar untuk mengikuti ujian, meskipun tidak jelas berapa banyak yang hadir pada saat serangan itu. Anak-anak itu berusia 16 sampai 18 tahun dan berada di tahun terakhir mereka sekolah. Laporan awal mengatakan 85 siswa diculik dalam serangan itu. Selama akhir pekan 19-20 April, militer mengeluarkan pernyataan yang mengatakan lebih dari 100 dari 129 gadis yang diculik telah dibebaskan. Namun, pernyataan itu ditarik kembali, dan pada tanggal 21 April, orang tua mengatakan 234 anak perempuan yang hilang. Sejumlah siswa berhasil meloloskan diri penculikan dalam dua kelompok. Akhirnya pada tanggal 2 Mei polisi membuat pernyataan bahwa sekitar 276 anak-anak diculik dalam serangan itu dan 53 anak berhasil lolos.