21 Februari 2014 - 20:30
Bangsa Iran Satu Suara dalam Menghadapi Musuh

Ayatullah Ahmad Jannati dalam khutbahnya pada Jumat (21/2) di Mushalla Imam Khomeini Tehran, mengapresiasi partisipasi rakyat Iran dalam pawai akbar 22 Bahman (11 Februari) untuk memperingati HUT ke-35 Kemenangan Revolusi Islam. Yang menurutnya hal tersebut menunjukkan rakyat Iran satu suara dalam menghadapi musuh.

Menurut Kantor Berita ABNA, Khatib Shalat Jumat Tehran mengatakan, rakyat Republik Islam Iran satu suara dalam menghadapi musuh.

Ayatullah Ahmad Jannati dalam khutbahnya pada Jumat (21/2) di Mushalla Imam Khomeini Tehran, mengapresiasi partisipasi rakyat Iran dalam pawai akbar 22 Bahman (11 Februari) untuk memperingati HUT ke-35 Kemenangan Revolusi Islam.

Beliau mengatakan, pawai akbar 22 Bahman adalah respon tegas rakyat Iran terhadap pernyataan para pejabat Amerika Serikat bahwa semua opsi termasuk militer di atas meja.

Ayatullah Jannati menegaskan, bangsa Iran menilai penghinaan negara-negara Barat terhadap mereka sebagai tindakan yang tidak dapat ditolerir.

"Slogan `mampus Amerika,` `keteguhan dan persatuan,` `dukung bangsa tertindas Palestina` dan `tidak takut terhadap ancaman-ancaman musuh,` adalah pesan rakyat Iran terhadap semua opsi di atas meja yang dilontarkan Amerika," ujarnya.

Khatib Shalat Jumat Tehran lebih lanjut mengapresiasi diumumkannya kebijakan "Ekonomi Muqawama" oleh Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei.

Ayatullah Jannati mendesak lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif Iran untuk menindaklanjuti serius kebijakan tersebut, dan mengembangkan semua potensi di Iran dengan memanfaatkan semua sumberdaya melimpah yang telah diberikan oleh Allah Swt. Dengan demikian, katanya, musuh akan terpaksa mundur.

Mengenai perundingan nuklir antara Iran dan Kelompok 5+1 (Rusia, Cina, Inggris, Perancis, Amerika Serikat ditambah Jerman), Ayatullah Jannati meminta tim negosiator nuklir Iran untuk menjaga "garis merah" Republik Islam Iran dan mengandalkan kekuatan sendiri. Selain itu, beliau meminta mereka untuk hadir dalam perundingan dengan posisi yang kuat.

Kepada negara-negara anggota Kelompok 5+1, Khatib Shalat Jumat Tehran mengatakan, mereka hanya dapat bernegosiasi tentang isu-isu nuklir dan tidak berhak mencampuri urusan di bidang lainnya.

Ayatullah Jannati dalam khutbahnya juga menyinggung pertemuan Uni Parlemen Negara-negara Anggota Organisasi Kerjasama Islam (PUOICM) yang digelar di Tehran, ibukota Iran, dan menilai pertemuan tersebut sebagai event yang sangat penting.

Beliau kepada Ketua-ketua Parlemen OKI mengatakan bahwa umat Islam tidak menerima AS dan rezim Zionis Israel, dan bangsa-bangsa Muslim adalah pendukung orang-orang tertindas di seluruh dunia.

Dalam bahagian khutbah yang lain, beliau mengulas tentang masalah nuklir dengan menyatakan, "Apa yang kita harap dari delegasi Iran dalam perundingan adalah mereka dapat berbicara tentang kemuliaan. Janganlah berfikir kita ini lemah, sebaliknya merekalah yang lemah meskipun demikian kita bukan hendak menunjukkan kekuasaan.”


Sambil mengingatkan pesan Ayatullah Khomeini bahwa Amerika adalah setan besar, beliau berkata, "Amerika merupakan setan kemarin dan hari ini, dari satu sisi mereka menyampaikan pesanan agar kita bebaskan tahanan politik yang jelas menunjukkan Amerika sedang mempertahankan mereka ini."

Beliau turut mengulas tentang serangan teroris di Lebanon dengan menegaskan, "Hizbullah akan menangani mereka."

Di akhir khutbah kedua, Ayatullah Jannati meminta rakyat untuk berhemat dan cermat dalam penggunaan air dan mengucapkan selamat menyambut tahun baru Iran yang saat ini telah memasuki bulan terakhir dalam penanggalan Iran.