15 Maret 2013 - 04:05

Krisis di Vatikan dan Gereja Katolik tidak hanya terbatas pada skandal moral para pastor, tapi ada kasus lain yang turut menyita perhatian publik, yaitu kasus korupsi, perebutan kekuasaan internal, dan intrik di tingkat tertinggi pemerintahan Gereja Katolik itu. Oleh sebab itu, Paus Fransiskus I akan menghadapi beragam tantangan yang tidak mudah.

Menurut Kantor Berita ABNA, rasa sukacita dan gembira menggema di Amerika Latin saat seorang kardinal asal Argentina terpilih sebagai Paus pertama dari belahan dunia itu. Sejak Selasa lalu, para kardinal telah berkumpul dan mengadakan rapat untuk mencari pengganti Paus Benediktus XVI, yang mengundurkan diri pada akhir Februari lalu.

Akhirnya, Jorge Mario Bergoglio terpilih sebagai Paus baru yang kemudian menggunakan nama Paus Fransiskus I. Ia dikenal begitu dekat dengan kaum papa dan hidup sederhana. Tak heran jika kehadirannya diharapkan akan membuat Gereja semakin dekat dengan kawasan miskin yang merupakan rumah bagi umat Katolik terbanyak di dunia.

Terpilihnya Paus Fransiskus I membuat takjub banyak umat Katolik dan media, sebab menurut media-media Italia, Kardinal Angelo Scola dari Italia, Uskup Agung Odilo Scherer dari Brazil, Kardinal Marc Ouellet dari Kanada, dan Kardinal Sean Patrick O'Malley dari Amerika Serikat, memiliki peluang yang lebih besar untuk menggantikan Paus Benediktus XVI.  

115 kardinal sejak Selasa lalu telah mengurung diri di Kapel Sistina untuk melakukan pemungutan suara memilih paus baru, namun gagal, hingga para kardinal harus menggelar pemungutan ulang hingga lima putaran. Paus baru akhirnya terpilih dengan memperoleh angka minimal dua pertiga suara Kardinal.

Paus Fransiskus I sebelum tampil di depan publik dari balkon Santo Petrus Basilika, Vatikan, secara resmi menerima Tahta Suci itu dan mengucapkan sumpah setia di hadapan para kardinal.

Paus baru akan menghadapi berbagai masalah serius seperti, sejumlah skandal moral yang melibatkan pastor dan kasus korupsi di Vatikan dan Gereja Katolik dalam beberapa tahun terakhir. Kasus-kasus tersebut telah menjadi sorotan media dan publik dunia.

Kasus pedofilia oleh para pastor sampai sekarang telah membebani kas Gereja Katolik di negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat. Dan bahkan beberapa wilayah keuskupan di AS mengalami kebangkrutan. Perilaku memalukan ini merugikan gereja hingga lebih dari 2 miliar dolar untuk biaya kompensasi para korban.

Skandal pelecehan seksual di lingkungan suci sudah menjadi masalah Gereja Katolik se-Eropa, bahkan di bumi Amerika. Di Eropa, skandal-skandal seperti itu terungkap di banyak negara, mulai Irlandia, Jerman, Swedia, Swiss hingga Austria.

Krisis di Vatikan dan Gereja Katolik tidak hanya terbatas pada skandal moral para pastor, tapi ada kasus lain yang turut menyita perhatian publik, yaitu kasus korupsi, perebutan kekuasaan internal, dan intrik di tingkat tertinggi pemerintahan Gereja Katolik itu.

Gereja Katolik membutuhkan sebuah evaluasi komprehensif dalam beberapa ajarannya, yang bahkan bertentangan dengan fitrah kemanusiaan. Salah satu dari penyimpangan itu adalah larangan untuk menikah bagi para pastor.

Oleh sebab itu, Paus Fransiskus I akan menghadapi beragam tantangan yang tidak mudah. Ia diharapkan bisa mengatasi gejolak dalam tubuh gereja dan mengembalikan kredibilitas Tahta Suci Vatikan.