Menurut Kantor Berita ABNA, Amr Moussa, mantan Sekjen Liga Arab mengaku diminta Emir Qatar untuk menanggung bersama biaya kehadiran militer Amerika di negaranya.
Dalam wawancaranya dengan surat kabar berbahasa Arab al-Hayat mengatakan, "Emir Qatar, Syeikh bin Khalifa al-Thani kepada Amerika mengaku bersedia menanggung seluruh biaya militer negara itu jika Washington setuju membangun pangkalan militer lebih banyak di Qatar."
Syeikh Hamad bin Khalifa, kata Moussa, merupakan kekuatan riil Qatar, bahkan Syeikh bin Jassim pun memberikan dukungan untuknya.
Ia menambahkan, "Emir Qatar menganggap Amerika satu-satunya pihak yang bisa menjamin dan menjaga keamanan. Setelah menyadari bahwa pembangunan pangkalan militer di Qatar tidak menjadi prioritas Amerika, ia kepada pihak Gedung Putih berjanji akan menanggung seluruh anggaran pengeluaran proyek itu. Oleh karena itu Syeikh Hamad saat ini merasa aman dan leluasa bergerak."
Qatar yang merupakan negara dengan pangkalan militer Amerika terbanyak adalah produsen utama minyak dan gas di wilayah Teluk Persia.
Pangkalan udara al-Udeid di barat ibukota Qatar, Doha adalah markas pusat-pusat komando Amerika dan beberapa unit AU negara ini.
Tahun 1999, Emir Qatar menyampaikan keinginannya kepada pemerintah Amerika untuk secara kontinyu menempatkan 10 ribu pasukannya di pangkalan militer al-Udeid.