31 Agustus 2012 - 09:13

Sebelum menyampaikan pidato pada KTT XVI GNB Teheran 2012, Wapres RI Boediono mengadakan kunjungan kehormatan kepada Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Sayyid Ali Khamanei.

Menurut Kantor Berita ABNA, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Hadhrat Ayatullah Sayyid Ali Khamanei dalam pertemuannya dengan Wapres RI Boediono menyatakan, “Tujuan utama penyelenggaraan konferensi negara-negara non blok bukanlah sekedar ceremonial belaka melainkan ada hasil yang diharapkan, sebuah gerakan yang memberi pengaruh, dan kita berharap agar tujuan ini tetap kita hidupkan.”

“Semua negara anggota Gerakan Non Blok khususnya Indonesia diharapkan kepada sesama anggota lain lebih meningkatkan kerjasama dan duduk bersama untuk membicarakan masalah-masalah penting internasional dan masalah regional.” Lanjutnya.

Rahbar lebih lanjut menyatakan banyaknya pengalaman dan adanya kemajuan yang dialami negara-negara anggota GNB adalah perangkat yang harus dimanfaatkan untuk semakin mendekatkan GNB kepada tujuan berdirinya. “Namun tidak boleh mengabaikan kenyataan bahwa negara-negara GNB punya musuh yang karenanya kita harus waspada dengan segala skenario dan konspirasi mereka.” pesannya mengingatkan.  

Ayatullah Sayyid Ali Khamanei juga tidak lupa untuk mengingatkan diantara konspirasi musuh adalah menciptakan konflik Sunni-Syiah. “Contoh keberhasilan konspirasi mereka melalui konflik Sunni-Syiah bisa kita lihat pada apa yang terjadi di Afghanistan dan Pakistan.” Lanjutnya.

 “Al Qaedah dan Taliban dengan dukungan AS telah menciptakan makar. Namun AS juga yang memerangi mereka. Dengan alasan mengejar Taliban dan Al Qaedah, AS menyerang Pakistan dan Afghanistan padahal tujuan asli mereka adalah menguasai kedua negara tersebut.” Kata Rahbar.

Rahbarpun dalam pertemuan tersebut menegaskan adanya sinyal berbahaya dari konflik Sunni-Syiah jika dibiarkan sebagaimana yang terjadi di Indonesia, Mesir dan Libiya, sebab dapat merusak kedaulatan dan keamanan negara.

Sementara itu, Wapres RI Boediono menyatakan rasa bahagianya dengan terselenggaranya konferensi tersebut. Beliau memandang ajang konferensi tersebut bisa dijadikan momen untuk semakin mempererat kerjasama Indonesia dengan Iran khususnya dalam bidang ekonomi.

 

Wapres lebih jauh mengungkapkan apresiasinya atas kesuksesan Iran menyelenggarakan KTT Gerakan Non Blok dan mengucapkan selamat atas kepemimpinan Iran untuk GNB selama tiga tahun mendatang. Ia juga mengatakan bahwa ia sudah bertemu Wakil Presiden Pertama Iran Muhammad Reza Rahimi sebelumnya dan mendiskusikan berbagai peluang kerjasama antara Indonesia dan Iran yang masih bisa ditingkatkan mengingat potensinya yang sangat tinggi. 



Khamenei sangat setuju bahwa kedua pemerintah harus bekerja lebih keras untuk mewujudkan kesempatan yang baik itu. Menurutnya, Gerakan Non Blok kini punya kesempatan lebih besar untuk memainkan peran penting mewujudkan cita-cita para bapak pendiri GNB. “Kemarin dalam pidato saya juga mengutip ucapan Ahmad Sukarno 50 tahun lalu. Pemikiran Ahmad Sukarno sangat berkesan di hati saya, sangat membekas dan selalu saya ingat,” katanya kepada Wapres. 



Khamenei juga menyampaikan pandangan-pandangannya tentang situasi dunia dan berbagai permasalahan internasional. Ia berharap GNB bisa lebih menunjukkan perannya dalam kancah percaturan politik keamanan global. Peran negara-negara Non Blok semestinya sangat besar. Dengan jumlah anggota yang mencapai 120 negara , GNB memiliki pengaruh yang sangat besar untuk menentukan masa depan dan penyelesaian masalah-masalah internasional. “Maka 120 negara anggota harus bersama-sama bekerja,” katanya. 



Wapres menjawab bahwa pemikiran Khamenei sangat baik dan akan menjadi pertimbangan dan masukan yang sangat berharga. Ia setuju bila dikatakan potensi GNB jauh di atas yang sebenarnya telah dicapai dan menambahkan bahwa sebaiknya peran negara-negara Non Blok juga masuk ke bidang-bidang lain seperti ekonomi, kesejahteraan sosial dan kebudayaan. “Saya yakin pandangan pemimpin Iran akan menjadi panduan kita, agenda diskusi selama tiga tahun mendatang dalam kepemimpinan Iran dan jangan lupa untuk tetap memasukkan upaya-upaya pemberantasan kemiskinan, perbaikan kesejahteraan, pendidikan dan hal-hal lain,” katanya. 


Wapres juga mengungkapkan semangat kebangsaan Indonesia yang dibangun berdasarkan kesepakatan komunitas dengan latar belakang yang berbeda-beda. Karenanya, bila kesepakatan itu dirusak, maka bangunan seluruh negara akan hancur. “Karena itu, setiap negara harus menjaga dan mempertahankan integritas dan kedaulatan masing-masing dan kita bisa mewujudkannya melalui GNB,” katanya. 

Mengenai terjadinya penyerangan terhadap warga Syiah di Sampang yang disinyalir karena adanya isu perbedaan mazhab, beliau menyatakan, “Pemerintah Indonesia saat ini bekerja keras untuk menciptakan kondisi yang baik untuk semua golongan, kaum dan mazhab untuk tetap hidup bersama di bawah bendera yang sama.”

Ayatullah Khamenei menjawab bahwa ia sangat memahami semangat itu mengingat kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau dan lautan luas yang menjadi penghubung. 

Sebagai penutup Wapres mengatakan ia sangat bangga dengan hubungan bilateral baik yang terjalin selama ini dengan Iran. Meski ada sejumlah hambatan, tidak tertutup kemungkinan untuk selalu mencari celah-celah yang potensial tanpa gangguan. Kepada Khamenei Wapres juga menyatakan duka cita atas musibah gempa yang terjadi baru-baru ini.