Menurut Kantor Berita ABNA, lawatan Muhammad Mursi ke Tehran meski dilakukan dalam koridor protokol KTT GNB ke 16, namun kehadirannya di Iran sebagai pejabat tertinggi Mesir selama 30 tahun terakhir setelah pemutusan hubungan kedua pihak memiliki domensi politik berbeda.
Mursi datang ke Tehran untuk menghadiri KTT GNB ke 16 yang digelar Kamis (30/8). Tak berlebihan jika kita sebut kedatangan Mursi ini menjadi pusat sorotan media massa internasional. Sejak pekan lalu, KTT GNB Tehran menjadi pusat perhatian media massa dan kemungkinan kedatanganan Mursi ke Iran telah menjadi kasak kusuk media. Sebabnya pun jelas, ini merupakan lawatan pertama presiden Mesir ke Iran selama 30 tahun terakhir. Itu pun seorang presiden yang berhasil memimpin negara Piramida ini setelah kemenangan Revolusi Rakyat. Ia pun berbeda dengan pendahulunya yang rata-rata dari militer. Mursi dari kubu Islam, tepatnya Ikhwanul Muslimin.
Menyusul ditandatanganinya perjanjian Camp David pada tahun 1978 oleh Presiden Mesir waktu itu, Anwar Sadat dan Perdana Menteri Rezim Ilegal Israel, Menachem Begin, hubungan Iran dan Mesir di tingkat diplomatik turun drastis. Perjanjian damai Camp David ini berujung pada pengakuan resmi Mesir atas eksistensi ilegal Israel.
Teror Anwar Sadat juga tak berpengaruh pada pemulihan hubungan bilateral Mesir-Iran. Hal ini disebabkan yang menggantikan Anwar Sadat tak lain adalah Hosni Mubarak yang saat itu menjabat wakil presiden. Selama tiga dekade hubungan Iran-Mesir sangat dingin. Meski demikian Tehran senantiasa berusaha memulihkan hubungan kedua pihak melalui langkah-langkan konstruktif.
Lengsernya Hosni Mubarak pada 11 Februari 2011 selain mengakibatkan perubahan di konstelasi dalam negeri, juga memunculkan prediksi bahwa hubungan luar negeri Mesir termasuk dengan Republik Islam Iran akan mengalami perubahan. Di kondisi seperti ini, Muhammad Mursi yang menjabat presiden Mesir sekitar dua bulan ini melakukan lawatan ke Tehran.
Meski sejumlah pihak berusaha mencitrakan lawatan Mursi ke Tehran sekedar kunjungan biasa dan semata-mata disebabkan menghadiri KTT GNB ke 16, namun tak diragukan bahwa urgensitas politik kehadiran Mursi di Tehran sebagai presiden sebuah negara yang selama 30 tahun tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Iran secara baik tak dapat disembunyikan lagi.
Jujur saja, lawatan Mursi ke Terhan setelah fase panjang pemutusan hubungan diplomatik meski hanya sekedar memenuhi undangan KTT GNB, namun tak dapat ditutupi bahwa ini merupakan peristiwa penting dan simbolik serta dapat menjadi babak baru hubungan kedua negara.
Dengan bersandar pada kapasitas tinggi politik, budaya, ekonomi, ruang baru politik dan keamanan regional yang dimilikinya, Mesir dan Iran mampu membentuk hubungan bilateralnya yang baru dan konstruktif dengan berdasarkan asas saling menghormati. (IRIB)