25 Agustus 2012 - 19:30

Beberapa kali Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menegaskan betapa pentingnya keberadaan GNB bahkan beliau pernah menghadiri langsung konferensi GNB sewaktu masih menjabat sebagai presiden Iran dulu.

Menurut Kantor Berita ABNA, Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non Blok yang sedang berlangsung di Teheran hari ini (26/8) diakui semua pihak memiliki kedudukan penting. Kedudukan Iran sebagai fraksi perlawanan (moqawama) dan kebangkitan Islam di negara-negara kawasan disinyalir akan memancing AS dan Barat semakin menambah tekanan dan ancamannya terhadap negara-negara Timur Tengah dan seluruh dunia. Republik Islam Iran menjelaskan betapa pentingnya diadakan konferensi yang akan dihadiri delegasi dari 138 negara di Teheran tersebut. Gerakan Non Blok (GNB) didirikan pada tahun 1961 ketika perang dingin antara Blok Barat dan Blok Timur semakin memuncak yang menginspirasi negara-negara yang tidak terlibat dalam kedua blok tersebut untuk membentuk sebuah lembaga yang dapat menyatukan mereka. Konferensi pertama diadakan pada tahun 1955 di kota Bandung, Indonesia dengan nama Konferensi Asia-Afrika. Republik Islam Iran baru bergabung dalam GNB setelah kemenangan revolusi Islam pada tahun 1979, dan langsung menyertakan delegasinya dalam konferensi di Havana tahun 1979. Setelah itu Iran termasuk negara yang aktif dalam GNB dengan mengikuti semua konferensi GNB di beberapa negara. GNB beranggotkan 138 negara dan merupakan organisasi internasional terbesar setelah PBB. Belakangan ini GNB menjadi semakin memiliki pengaruh seperti dukungannya terhadap Iran dalam melanjutkan proyek tekhnologi nuklirnya. Beberapa kali Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menegaskan betapa pentingnya keberadaan GNB bahkan beliau pernah menghadiri langsung konferensi GNB sewaktu masih menjabat sebagai presiden Iran dulu. Ayatullah Sayyid Ali Khamenei sekitar tujuh tahun lalu pernah bertemu dengan Perdana Menteri Malaysia Abdullah Haji Ahmad Badawi yang ketika itu memegang jawatan presiden OKI dan GNB. Mereka menganggap satu-satunya jalan untuk umat Islam menghadapi politik rekayasa musuh-musuh Islam adalah dengan persatuan umat Islam. Merujuk kepada peranan GNB, meskipun perubahan situasi dunia pada permulaan pergerakan ini dan kedudukan suaranya sebagai 60 persen dalam PBB, beliau menegaskan, "Dalam situasi seperti negara adidaya AS yang ingin menyetir PBB untuk kepentingannya, maka sudah semestinya negara-negara anggot GNB untuk memainkan perannya agar tidak menjadi korban kebuasan imperialisme AS dan Barat." Pemimpin revolusi Islam Iran turut menghargai peran penting Malaysia dan GNB terutama dalam dukungannya terhadap aktivitas nuklir Republik Islam Iran dengan menegaskan, "Prinsip kami adalah menentang proyek pembuatan senjata nuklir. Namun masalah sebenarnya adalah AS dan Barat tidak menghendaki ada negara lain yang memiliki penguasaan terhadap nuklir apalagi itu oleh Iran yang banyak kesempatan menyatakan anti AS dan anti Israel. Karena itu mereka menghendaki, agar bidang penting tersebut tidak jatuh ke negara-negara lain." Begitu juga dalam pertemuan bersama presiden Indonesia pada tahun 2002, dengan merujuk pada usaha-usaha Sukarno untuk mendekatkan negara-negara merdeka di Asia dan Afrika sebagai tujuan menghadapi situasi dwikutub di zaman tersebut, Ayatullah Ali Khamenei berkata, "Faktor paling penting keupayaan negara-negara Asia dan Afrika di zaman tersebut dalam berkumpul dan mengasaskan GNB adalah persatuan dan hari ini juga negara-negara Islam juga memerlukan kerjasama dan perhubungan yang lebih dekat." Penekanan tentang keperluan menghidupkan GNB adalah satu lagi perkara yang dibangkitkan oleh beliau; Sebuah noktah yang akan menjadikan seluruh kerjasama erat antara negara-negara sebagai sebuah kenyataan kelak. Beliau turut merujuk kepada pertemuannya dengan presiden Zimbabwe pada tahun 1992 yang membincangkan halangan perluasan kerjasama sebenar antara negara oleh negara-negara besar dan menegaskan betapa pentingnya memulihkan pergerakan GNB dari jalan kerjasama erat antara negara-negara kecil di seluruh dunia. Khamenei juga dalam tahun 1981 ketika memegang jawatan presiden Reublik Islam pernah menyatakan kepentingan GNB dalam satu pertemuan dengan duta-dua Nepal, Vietnam, Panama, Guinea dan Yugoslavia. Mengenai Yugoslavia yang menjadi tuan rumah KTT IX GNB, beliau berkata, "Kami percaya GNB mempunyai identitas bebas dan jelas di dalam dunia dan berinisiatif untuk mengurangi pengaruh dan kekuadaan AS yang masih dipandang cukup besar oleh negara-negara." "Sayangnya, tidak sedikit negara anggota GNB yang menuntut beberapa anggota GNB untuk menerima kuasa besar AS sementara gerakan ini tidak akan membelot dari tujuan pendiriannya. Kami kira dengan keberadaan GNB, AS akan berpikir ribuan kali untuk menginjak-injak kedaulatan suatu negara sebab begitu AS mengusik kedaulatan suatu negara maka sama halnya AS akan menghadapi ratusan negara anggota GNB." Tambah Rahbar. Dalam pertemuan dengan duta baru republik Persekutuan Sosialis Yugoslavia di Iran, duta tersebut berkata, "Kami akui Iran mempunyai peranan penting dalam KTT GNB." AS dan Israel telah berusaha mati-matian untuk menghalang-halangi negara-negara anggota buat hadir dalam konferensi bahkan disertai dengan ancaman. Namun, tidak satupun negara yang menyatakan ketidak sediaannya untuk hadir. Menurut laporan resmi penyelenggara. Hampir 50 kepala negara telah memastikan kehadirannya dalam konferensi tersebut.