Menurut Kantor Berita ABNA, sebagaimana dinukil dari Kantor Berita Shabestan Pasukan Ali Abdullah Saleh, Senin pagi (19/9) menembaki pengunjuk rasa di Lapangan al Hurriyah di Taiz, sebelah selatan negara itu, sehari setelah 26 demonstran terbunuh dan ratusan lainnya terluka setelah pasukan pro-Saleh dan "para preman" melepaskan tembakan ke arah demonstran di Sanaa yang berusaha memperluas protes menuntut pemerintah mundur.
Koresponden Al Jazeera koresponden di Taiz Hamdi al Bakary mengatakan bahwa situasi di kota itu sangat berbahaya, di mana tembakan artileri berat menghantam lapangan al-Hurriyah dan sejumlah bangunan yang berada di dekatnya, sehinnga para pemuda yang berdemo terpaksa melarikan diri dari tempat kejadian dan berlindung di sejumlah bangunan di dekatnya.
Sebelum pengeboman, situasi keamanan telah memburuk di ibukota setelah pasukan keamanan didukung para milisi melepaskan tembakan untuk membubarkan puluhan ribu demonstran melakukan pawai dari Lapangan al-Tagyir menuju jalan-jalan yang di dekatnya.
Pasukan keamanan menggunakan peluru tajam, mortir model "RPG", meriam air. bom gas air mata terhadap demonstran yang tiba, Minggu malam di Jalan Zubairy, Sanaa pusat setelah mereka melewati tiga blokade pasukan pemerintah.
Sebagian besar korban mengalami luka serius akibat tertembak di dada dan kepala, kata Dokter Tariq Doais kepada Al Jazeera.
Dewan Revolusi Nasional mengutuk pembantaian tersebut, meminta PBB dan masyarakat internasional untuk campur tangan "guna mengakhiri kejahatan yang dilakukan oleh pemerintah."
Sementara itu, Komite Revolusi Pemuda menekankan bahwa aksi unjuk rasa akan tetap berjalan damai, seraya meminta kepada warga Yaman untuk terus melakukan aksi pada "siang dan malam" sampai berhasil menjatuhkan pemerintah dan menyerukan kepada militer untuk bergabung bersama demonstran.