11 Januari 2011 - 20:30

Juru Bicara pihak Kepolisian Agama Riyadh, Arab Saudi mengatakan, "Problem utama dan terbesar kami di Riyadh sebagian besar berasal dari kaum perempuan."

Menurut Kantor Berita ABNA, Abdullah bin Syalil, juru bicara kepolisian agama bagian Amar Ma'ruf Nahi Mungkar di kawasan Riyadh dalam wawancaranya dengan wartawan media setempat menyebutkan bahwa masalah terbesar di kawasan tersebut adalah keluar rumahnya perempuan dan beraktivitasnya mereka di tempat-tempat umum.

 

Iapun menyebutkan, bahwa pelanggaran mereka yang paling besar dan sering adalah berkeliaran di pasar dengan menggunakan pakaian-pakaian yang tidak layak. Sementara aturan syar'i menurut pengakuannya adalah, perempuan sebaiknya tinggal di rumah dan tidak semestinya beraktivitas di luar rumah. "Kalaupun keluar rumah, perempuan harus ditemani laki-laki mahramnya." Katanya.

 

Dalam wawancara tersebut ia berkata, "Kami dari pihak kepolisian Agama mengucapkan banyak terimakasih kepada mereka yang melarang perempuan-perempuannya keluar rumah. Ataupun meminta perempuannya untuk menggunakan cadar dan menemaninya jika keluar rumah."

 

Menurut kepolisian Arab Saudi, tingkat kejahatan dan kriminal yang semakin meningkat di Saudi disebabkan oleh perempuan-perempuan yang keluar rumah dan memperlihatkan wajahnya. Karenanya pihak kepolisian mengeluarkan peraturan bahwa pihak laki-laki berhak memaksa perempuan mahramnya untuk menggunakan cadar.