27 Juli 2026 - 22:44
Dampak Prosesi Pemakaman Pemimpin Syahid di Irak Menjelang Arba’in Husaini; dari Gagalnya Proyek Perpecahan hingga Penguatan Perlawanan

Seorang aktivis Irak mengatakan: Amerika telah menghabiskan miliaran dolar untuk menciptakan perpecahan antara “Arab dan Persia” serta “Sunni dan Syiah”. Namun gambar seorang pemuda dari Basrah yang memegang foto seorang syahid, berdiri di samping seorang pemuda dari Teheran yang menangisi satu musibah yang sama, telah menghapus seluruh ucapan sia-sia yang berisi perpecahan itu.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — Beberapa pekan setelah berlangsungnya prosesi pemakaman jutaan orang untuk Pemimpin Syahid Revolusi Islam di Irak, dampak dari acara megah ini menjelang Arba’in Husaini masih terus dibaca ulang di lingkungan media dan budaya Irak serta Iran.

Rakyat Irak dan Iran tahun ini akan mengalami Arba’in yang berbeda. Sebab, peziarah pertama Arba’in Husaini dari Iran adalah jenazah Pemimpin Syahid Revolusi Islam, yang membawa banyak berkah bagi rakyat Irak dan Iran. Kebangkitan, bashirah, menjaga persatuan, dan melanjutkan jalan perlawanan adalah pesan-pesan terpenting dari prosesi pemakaman jenazah Pemimpin Syahid Revolusi Islam di Irak. Para peziarah Arba’in tahun ini, dengan membawa foto dan bendera yang dihiasi gambar Pemimpin Syahid Revolusi, akan menyampaikan pesan-pesan ini kepada masyarakat dunia.

Dalam konteks ini, Nawal Abdulzahra Jasim, aktivis budaya Irak, lulusan Universitas Baghdad dan kepala sebuah sekolah di Karbala Mu’alla, dalam wawancara dengan wartawan ABNA, membahas dampak prosesi pemakaman jutaan orang yang megah bagi Pemimpin Syahid Revolusi Islam di Irak.

Nawal, dengan merujuk pada sambutan luas berbagai lapisan masyarakat Irak terhadap jenazah suci Pemimpin Syahid Revolusi Islam, mengatakan: Prosesi pemakaman jenazah suci Imam Khamenei, Pemimpin Syahid Revolusi Islam di Irak, dapat saya sebut sebagai kelahiran sebuah persatuan yang tak terputus.

Ia melanjutkan: Ketika peti-peti para syuhada dipikul di atas bahu rakyat, sebenarnya itu bukan sekadar prosesi pemakaman, melainkan sebuah baiat. Prosesi pemakaman Pemimpin Syahid, Imam Khamenei, di Irak bukanlah peristiwa yang berlalu begitu saja, melainkan titik balik yang menggambar ulang persamaan-persamaan kawasan.

Nawal mengatakan: Irak adalah tanah kesetiaan dan pelunasan utang. Dahulu Irak memeluk darah para syuhada, Qasem Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis, dan hari ini Irak juga memeluk jenazah salah satu pemimpin perlawanan lainnya.

Mengenai pesan prosesi jutaan orang ini kepada dunia, ia mengatakan: Prosesi pemakaman jenazah suci Pemimpin Syahid berkata kepada dunia bahwa darah perlawanan adalah satu, kiblatnya satu, dan jalannya bermula dari Karbala, sebuah jalan yang tidak memiliki akhir.

Ia menegaskan: Kehadiran jutaan orang dari wilayah Efrat dan Dajlah berarti bahwa Irak bukan dan tidak akan menjadi arena bagi proyek-proyek pemecah belah. Sebaliknya, Irak akan tetap menjadi kedalaman strategis bagi perlawanan.

Nawal, dengan menjelaskan sejumlah dampak pemersatu dari prosesi ini antara rakyat Irak dan Iran, mengatakan: Salah satu dampaknya adalah persatuan darah dan nasib. Apa yang menyatukan Irak dan Iran adalah sesuatu yang melampaui politik. Mereka bersatu karena Imam Husain a.s., karena haram-haram suci mereka, dan karena darah para syuhada mereka. Prosesi pemakaman Pemimpin Syahid di tanah Irak mengubah perasaan bersama ini menjadi sebuah proyek bersama: proyek “satu umat di hadapan satu musuh.”

Ia menambahkan: Menggagalkan proyek pemecah belah Amerika adalah dampak lain dari prosesi pemakaman ini di Irak. Amerika telah menghabiskan miliaran dolar untuk menciptakan perpecahan antara “Arab dan Persia” serta “Sunni dan Syiah”. Namun gambar seorang pemuda dari Basrah yang memegang foto seorang syahid, berdiri di samping seorang pemuda dari Teheran yang menangisi satu musibah yang sama, telah menghapus seluruh ucapan sia-sia yang berporos pada perpecahan. Persatuan yang lahir di medan-medan duka lebih kuat daripada seluruh kedutaan dan konspirasi.

Perempuan intelektual Irak ini, dengan merujuk pada dampak lain dari prosesi jutaan orang tersebut di Irak, mengatakan: Penguatan Front Perlawanan adalah salah satu dampak terpenting dari acara ini. Adegan ini membawa pesan daya tangkal. Sebuah pesan kepada kekuatan-kekuatan arogansi bahwa “ketika seorang tokoh dan pribadi dari perlawanan meninggalkan dunia ini, seribu wajah lain akan bangkit. Perlawanan hari ini bukan sekadar pengelompokan politik; ia adalah jalan hidup dan keyakinan dua bangsa yang bersatu karena cinta kepada keadilan dan kebenaran serta penolakan terhadap kehinaan.”

Dengan menegaskan bahwa prosesi pemakaman jenazah Pemimpin Syahid Revolusi Islam di Irak adalah sebuah Asyura baru, ia melanjutkan: Ini adalah pesan dan pengumuman bahwa jalan Imam Husain a.s. terus berlanjut, dan Irak serta Iran adalah satu tubuh. Karena itu, apabila satu anggota tubuh terluka, seluruh tubuh lainnya akan bereaksi dengan sulit tidur dan demam.

Pada bagian akhir, Nawal Jasim mengatakan: Sebagaimana Ziarah Arba’in menyatukan hati jutaan orang menuju Karbala, prosesi pemakaman jenazah suci Pemimpin Syahid Revolusi Islam ini juga menyatukan hati orang-orang merdeka di dunia menuju al-Quds.

“Wa inna jundana lahumul ghalibun” — “Dan sesungguhnya pasukan Kami pasti menang.”

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha