Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — Sayyid Ammar Hakim, Ketua Gerakan Hikmah Nasional Irak, berkenaan dengan upacara perpisahan dan prosesi pemakaman jenazah Pemimpin Syahid Umat, dalam wawancara dengan jaringan Al-Alam menjelaskan sejumlah sisi dari kehidupan politik beliau, ciri-ciri terpenting dan karakter kepribadian beliau, serta pengaruh beliau di tingkat Iran dan dunia.
Ia mengatakan: “Pemimpin Syahid Revolusi Islam memiliki kepribadian yang menyeluruh. Beliau adalah sosok yang luas dan mencakup banyak dimensi, meliputi berbagai aspek keilmuan, pemikiran, sosial, budaya, keamanan, dan politik.”
Ketua Gerakan Hikmah Nasional Irak, dengan merujuk pada sisi keutuhan kepribadian Imam Syahid, Yang Mulia Ayatullah Khamenei — semoga ridha Allah tercurah kepadanya — menegaskan: “Meskipun aspek politik tentu merupakan salah satu sisi kepribadian beliau, namun beliau memiliki kepribadian yang menyeluruh dan luas, yang meliputi berbagai dimensi keilmuan, pemikiran, sosial, budaya, keamanan, dan semisalnya, termasuk dimensi politik.”
Ia menambahkan: “Hal yang tampak paling menonjol dalam kepribadian beliau adalah pendekatan prinsipil dan landasan-landasan tetap beliau. Pendekatan prinsipil beliau merupakan kelanjutan dari mazhab pemikiran Imam Khomeini — semoga Allah menyucikan ruhnya yang mulia. Prinsip-prinsip dan landasan-landasan tetap ini selama lebih dari tiga dekade, sepanjang kepemimpinan beliau atas umat Islam, tetap tidak berubah.”
Sayyid Ammar Hakim kemudian menegaskan: “Dalam pidato-pidato umum beliau yang bertujuan mencerahkan opini publik, kami selalu melihat beliau menekankan landasan-landasan tetap dan prinsip-prinsip yang bersandar pada dasar-dasar Islam serta merujuk pada ayat-ayat Al-Qur’an. Setelah itu, sesuai dengan kondisi politik, apabila ada perubahan yang terjadi, maka dilakukan penerapan berdasarkan prinsip-prinsip tersebut.”
Ia menambahkan: “Perpaduan antara landasan tetap dan prinsip-prinsip dengan variabel-variabel, lalu penerapan variabel-variabel tersebut berdasarkan landasan dan prinsip tetap itu, serta penggunaan landasan tetap tersebut dalam kehidupan dengan fleksibilitas khusus dan dengan cara yang sesuai dengan kondisi, merupakan salah satu ciri yang sangat menonjol dari kepribadian politik Yang Mulia Imam Khamenei.”
Pandangan Khusus terhadap Irak dan Pemahaman Mendalam atas Perkembangannya
Sayyid Ammar Hakim, tentang pertemuan-pertemuannya dengan Pemimpin Syahid Revolusi Islam, mengatakan: “Kenyataannya, kami memiliki banyak pertemuan pribadi dengan beliau. Sebagian pertemuan itu berlangsung panjang, satu setengah jam atau kira-kira selama itu. Pertemuan-pertemuan tersebut penuh dengan pembahasan dan musyawarah mengenai berbagai persoalan dan urusan.”
Ia menambahkan: “Kenangan tentang beliau sangat banyak, tetapi hal yang paling sesuai untuk kesempatan ini adalah perhatian Yang Mulia Ayatullah Sayyid Ali Khamenei terhadap Irak. Secara pribadi, saya tidak pernah melihat seorang pun dari para pejabat tinggi Republik Islam, termasuk mereka yang memperhatikan dan menangani urusan Irak, memiliki pandangan dan kedalaman seperti yang saya temukan pada diri beliau.”
Sayyid Ammar Hakim kemudian mengatakan: “Beliau memiliki perhatian besar agar politik luar negeri Iran memberikan perhatian kepada Irak. Dari sudut pandang ini, dan dengan mempertimbangkan bahwa pada awal perjalanan keilmuan beliau, meskipun singkat, beliau pernah tinggal beberapa bulan di Najaf Asyraf, serta berdasarkan perintah Imam Khomeini r.a. pada masa kepresidenannya beliau bertanggung jawab atas berkas Irak, terlibat dengan persoalan itu, dan berhubungan dengan realitas Irak, beliau memahami kompleksitas arena Irak dan mengerti detail-detailnya dengan cara yang menakjubkan.”
Sayyid Ammar Hakim menegaskan: “Amerika Serikat menggulingkan rezim Saddam dan secara resmi menduduki Irak melalui resolusi-resolusi serta di bawah payung yang tampaknya legal, lalu membentuk Dewan Pemerintahan dalam situasi tersebut. Secara alami, kebijakan Republik Islam Iran adalah menentang Amerika Serikat. Namun demikian, Republik Islam adalah negara pertama yang mengakui Dewan Pemerintahan tersebut, yang menandai awal terbentuknya sistem politik Irak berdasarkan kehendak rakyat Irak. Dalam kondisi apa pun, sikap Republik Islam tetap seperti itu.”
Peran Republik Islam Iran dalam Menghadapi Teroris ISIS
Ketua Gerakan Hikmah Nasional Irak, mengenai peran Republik Islam Iran dalam menghadapi kelompok teroris ISIS, mengatakan: “Ketika ISIS menyerang Irak dan semua orang berada dalam keterkejutan dan kebingungan, pada saat tentara dan angkatan bersenjata runtuh dan tidak ada pihak yang bersedia membantu Irak, Republik Islam Iranlah yang, atas perintah Yang Mulia Imam Sayyid Ali Khamenei, hadir di lapangan melalui komandan medan, Syahid Haji Qasem Soleimani, dan dengan pengalaman yang dimilikinya memberikan dukungan serta bantuan penuh kepada seluruh rakyat Irak di semua wilayah.”
Sayyid Ammar Hakim kemudian menegaskan: “Setiap kali para pemimpin Irak bertemu dengan beliau selama bertahun-tahun, beliau selalu mengatakan bahwa kalian di Irak memiliki dua nikmat dan hendaknya kalian menghargainya. Pertama adalah marja’iyah Tuan Sistani. Ini adalah nikmat besar dari Allah. Kedua adalah kekuatan Hashd al-Shaabi yang terbentuk sebagai hasil dari fatwa Ayatullah Sistani.”
Sayyid Hakim, dengan merujuk pada penekanan beliau tentang pentingnya warga Irak memperhatikan kepentingan nasional negaranya, menegaskan: “Dalam beberapa kesempatan, ketika kami menanyakan pandangan beliau mengenai beberapa detail persoalan, beliau mengatakan bahwa kalian adalah orang Irak dan harus mendahulukan kepentingan negara kalian sendiri, meskipun penilaian kalian atas kepentingan itu berbeda dengan pandangan saudara-saudara kalian di Republik Islam Iran.”
Pesan-Pesan Prosesi Pemakaman Jenazah Pemimpin Syahid di Irak
Ketua Gerakan Hikmah Nasional Irak, mengenai prosesi pemakaman jenazah suci Pemimpin Syahid di Karbala dan Najaf serta pesan-pesan pentingnya, mengatakan: “Saya tidak berpikir bahwa jenazah suci beliau dipindahkan ke Irak sebagai pemimpin sebuah negara untuk disemayamkan dalam prosesi pemakaman di negara lain. Sebaliknya, jenazah beliau dipindahkan sebagai salah satu marja’ umat Islam. Kedatangan jenazah suci ini dan ziarah kepada para Imam Suci a.s. sebagai pendahuluan sebelum pemakaman di Masyhad suci, menunjukkan perjalanan hidup Sang Imam, kesetiaan beliau kepada Ahlulbait a.s., dan cita-cita beliau.”
Sayyid Ammar Hakim, mengenai warisan Pemimpin Syahid, mengatakan: “Beliau merancang sebuah metode dan sebuah arus besar di dunia Islam. Seandainya struktur-struktur kelembagaan ini — yang selama tiga dekade berlanjut berdasarkan prinsip ‘bangkitlah dan bertawakallah kepada Allah’ — tidak ada, maka ketahanan dan keteguhan menghadapi agresi militer terbaru yang dipaksakan oleh Amerika dan rezim Zionis terhadap Republik Islam Iran tidak akan terwujud. Bahwa 250 tokoh senior politik dan militer dari lapisan pertama, kedua, dan ketiga dalam sistem menjadi sasaran, namun sistem tetap berdiri kokoh dan kesiapsiagaannya tetap berada pada tingkat tertinggi, merupakan ujian terbesar sekaligus cap pengesahan atas kokohnya struktur-struktur kelembagaan yang membuat banyak pengamat dunia terkejut.”
Your Comment