18 Juni 2026 - 21:43
Al-Quds Al-Arabi: Iran Menulis Ulang Sejarah Kawasan dengan Strategi Deterrence Baru / Israel Dikepung dari Empat Arah

Surat kabar Al-Quds Al-Arabi yang terbit di London dalam sebuah analisis mengenai hasil perang dan kesepakatan terbaru antara Teheran dan Washington menulis bahwa Iran, melalui strategi deterrence (daya tangkal) regional yang baru, telah mengubah posisinya dari garis pertahanan terakhir menjadi garis serangan pertama dalam menghadapi Israel. Menurut analisis tersebut, Iran kini membangun sabuk strategis yang membentang dari Laut Hitam hingga Balkan, Mediterania Timur, Laut Merah, Tanduk Afrika, Teluk Persia, dan Laut Kaspia, sehingga Israel berada dalam posisi terkepung dari arah barat, timur, utara, dan selatan.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Dalam rangkaian analisis regional dan internasional mengenai dampak perang Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran serta kesepakatan yang baru-baru ini dicapai antara Teheran dan Washington, harian Al-Quds Al-Arabi mengulas persamaan strategis baru yang berhasil dipaksakan Iran di kawasan.

Selama dua belas bulan terakhir, Teheran telah merumuskan strategi deterrence regional yang mengubah posisinya dari benteng pertahanan terakhir menjadi kekuatan garis depan dalam konfrontasi dengan Israel. Berdasarkan strategi ini, Iran membangun garis strategis maritim yang membentang dari Laut Hitam menuju Balkan dan Mediterania Timur, lalu ke Laut Merah, Tanduk Afrika, Teluk Persia, hingga Laut Kaspia di utara.

Strategi baru ini, menurut harian tersebut, secara efektif mengepung Israel dari empat arah sekaligus serta menawarkan kerangka keamanan regional baru yang didasarkan pada prinsip keadilan, kesetaraan, saling menghormati, kerja sama, dan stabilitas.

Setelah diumumkannya kesepakatan untuk mengakhiri perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, pencabutan blokade maritim, pembukaan Selat Hormuz bagi pelayaran yang aman, serta pengembalian hak-hak Iran yang sebelumnya dianggap dilanggar oleh resolusi-resolusi Amerika Serikat, Dewan Keamanan PBB, dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), rakyat Iran dinilai berhak merayakan kemenangan kehendak perlawanan yang berpijak pada perdamaian dan stabilitas melalui kekuatan militer. Kemenangan ini, menurut analisis tersebut, bukan hanya dalam menghadapi Amerika dan Israel, tetapi juga dalam seluruh konflik regional.

Harian itu menulis bahwa setelah apa yang disebut sebagai "kemenangan di Selat Hormuz", Iran kini sedang menorehkan sejarah baru di kawasan. Berdasarkan perkembangan terbaru, jalan ke depan dinilai semakin jelas: satu-satunya solusi adalah kehendak perlawanan. Kesepakatan Islamabad yang dijadwalkan ditandatangani secara resmi di Jenewa pada hari Jumat disebut bukan sebagai akhir perjalanan, melainkan awal dari sebuah fase baru yang memadukan tekad politik, diplomasi cerdas, fleksibilitas, dan kemampuan pembalasan militer.

Strategi Daya Tangkal Regional Iran Menghadapi Proyek Zionis

Analisis terhadap pernyataan para pemimpin Iran dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa Teheran membangun zona deterrence strategis yang dimulai dari Lebanon di barat—yang dianggap sebagai garis merah karena berada di garis depan konfrontasi dengan Israel—lalu membentang ke Laut Merah, Yaman, dan Tanduk Afrika di selatan, serta ke Azerbaijan dan Laut Kaspia di utara.

Konsep ini secara langsung bertentangan dengan doktrin keunggulan militer absolut Israel dan strategi hegemoni regional yang selama ini diusung rezim Zionis.

Wilayah deterrence tersebut menciptakan hubungan keamanan yang erat antara Mediterania Timur dan Teluk Persia. Pada saat yang sama, kawasan Tanduk Afrika dan Asia Tengah membutuhkan diplomasi yang aktif dan cerdas. Untuk mencapai tujuan itu, Iran dinilai perlu membangun aliansi yang bersifat politik, bukan ideologis ataupun sektarian, agar dapat berbagi tanggung jawab menjaga keamanan regional bersama para mitranya.

Dalam konteks ini, penguatan hubungan Teheran dengan Tiongkok dan Rusia dianggap sangat penting. Demikian pula pengembangan hubungan dengan Turki untuk mencegah perluasan pengaruh Israel ke Asia Tengah melalui Azerbaijan. Mengingat pengaruh historis Turki di kawasan tersebut, hubungan politik yang mendalam antara Ankara dan Teheran dinilai dapat membantu Iran menjaga keamanan nasionalnya sekaligus memainkan peran yang lebih efektif dalam menjaga stabilitas kawasan.

Analisis tersebut juga menekankan pentingnya kerja sama Iran dan Arab Saudi. Menurut harian itu, Israel tidak boleh dibiarkan bertindak bebas di Laut Merah sebagaimana yang terjadi di Mediterania Timur. Karena itu, Arab Saudi perlu berpartisipasi dalam pembentukan zona penyangga yang kuat guna menghalangi perluasan pengaruh Israel ke arah timur melalui Lebanon, Suriah, dan Yordania.

Memaksakan Kehendak Politik kepada Amerika Melalui Kekuatan Militer

Kesepakatan Islamabad antara Teheran dan Washington disebut sebagai manifestasi pertama dan paling nyata dari strategi deterrence regional baru Iran, baik dari sisi diplomasi maupun militer.

Berdasarkan berbagai indikasi dan pernyataan Kementerian Luar Negeri serta Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Teheran dinilai berhasil memperoleh hampir seluruh tujuan utamanya sesuai kerangka strategi yang dirancang, yaitu mempertahankan hak-hak nasionalnya, menjaga capaian yang diperoleh selama perang, serta menolak segala bentuk pembatasan terhadap kemerdekaan keputusan politiknya di masa depan.

Menurut analisis tersebut, kesepakatan itu mencakup penghentian perang di seluruh front, terutama di Lebanon. Hal ini disebut menempatkan Donald Trump pada posisi yang bertentangan langsung dengan Benjamin Netanyahu.

Keuntungan utama yang diperoleh Iran dalam kesepakatan itu antara lain:

  • Pengakhiran sanksi,

  • Pencabutan blokade maritim,

  • Akses kembali terhadap aset-aset Iran yang dibekukan,

  • Serta mekanisme yang mengaitkan pelaksanaan komitmen dengan implementasi nyata dari kesepakatan tersebut.

Di sisi lain, konsesi yang diberikan Washington kepada Teheran untuk mencegah pembalasan Iran terhadap serangan kedua Israel ke Dahieh Selatan Beirut disebut telah memperlihatkan keretakan yang mendalam antara Amerika Serikat dan Israel terkait kesepakatan tersebut.

Harian itu bahkan mengklaim bahwa dalam percakapan telepon antara Trump dan Netanyahu pada hari Minggu, Trump secara langsung mengkritik dan menyalahkan Netanyahu karena dianggap keliru dalam membaca dinamika konflik regional.

Trump, menurut laporan tersebut, menegaskan bahwa perang di Lebanon harus diakhiri dan Israel harus menghentikan secara permanen serangan terhadap Beirut maupun wilayah Lebanon lainnya.

Setelah percakapan tersebut, Trump disebut mengeluarkan instruksi presiden untuk mengakhiri konflik di Selat Hormuz, memulai pencabutan blokade maritim terhadap Iran, dan membuka kembali Selat Hormuz untuk pelayaran yang aman bagi semua pihak.

Meski memperoleh berbagai konsesi penting dari Amerika, para pejabat Iran tetap menegaskan bahwa penerimaan terhadap kesepakatan ini tidak berarti mereka mempercayai musuh. Teheran akan terus mengawasi secara ketat pelaksanaan seluruh komitmen Amerika Serikat.

Selama masa negosiasi 60 hari ke depan, sejumlah isu penting akan dibahas, termasuk:

  • Pencabutan sanksi primer dan sekunder Amerika terhadap Iran,

  • Pembatalan resolusi Dewan Keamanan PBB dan Dewan Gubernur IAEA terhadap Iran,

  • Masalah nuklir,

  • Mekanisme rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran pascaperang,

  • Serta pembentukan sistem pengawasan untuk menjamin pelaksanaan komitmen kedua pihak.

Sementara itu, pihak Iran juga menegaskan bahwa angkatan bersenjatanya akan tetap berada dalam tingkat kesiagaan tinggi untuk menghadapi segala kemungkinan ancaman dan bahwa "jari Iran akan tetap berada di atas pelatuk."

Menurut persamaan deterrence baru yang dibangun Iran, pangkalan-pangkalan militer Amerika di negara-negara Teluk kini telah berubah dari aset ofensif menjadi beban pertahanan bagi Washington dan negara-negara tuan rumahnya.

Analisis itu juga menyimpulkan bahwa Israel secara bertahap berubah menjadi beban yang menguras sumber daya militer Amerika serta mengancam kepentingan strategisnya sendiri.

Iran, menurut tulisan tersebut, telah mengintegrasikan jalur-jalur maritim ke dalam konsep deterrence strategisnya dan mengubah posisi "front perlawanan" dari pola defensif menjadi garis depan ofensif jika diperlukan.

Di akhir tulisannya, Al-Quds Al-Arabi menyoroti satu fakta lain: setelah terbentuknya persamaan deterrence baru Iran, negara-negara Arab masih tetap menjadi pihak yang paling pasif dalam persamaan strategis kawasan dan hanya memainkan peran pinggiran dalam konflik yang pada hakikatnya juga menyentuh kepentingan mereka sendiri.

Your Comment

You are replying to: .
captcha