Menurut Kantor Berita ABNA, Hujjatul Islam Wal Muslimin Sayyid Hasan Khomeini dalam pertemuan dengan ulama Syiah dan Sunni Afganistan yang berlangsung di Haram(Kompleks pusara) Imam Khomeini Ra, dengan menyinggung capaian jangka panjang dari perilaku-perilaku insaniah mengungkapkan, “Gerakan Nabi Islam Saw hingga meninggalnya beliau hanya menimbulkan pengaruh di semenanjung Arab, namun setelah lewat beberapa puluh tahun, seluruh dunia Islam telah berada di bawah pengaruhnya dan berabad-abad mesti berlalu hingga gerakan ini mendunia dan melahirkan peradaban Islam”.
Beliau mengapresiasi Sayyid Jamaluddin al Afgani sebagai salah seorang perintis gerakan kebangkitan Islam dan menyebutnya sebagai salah seorang figur dan tokoh utama masyarakat Afganistan menambahkan, “Pemikiran Sayyid Jamaluddin al Afgani mengingatkan kita akan poin penting ini bahwa perbedaan atau perpecahan(ikhtilaf) merupakan racun mematikan bagi dunia Islam dan “kembali kepada religiusitas” harus identik dengan kemajuan; bukan kejumudan dan kembali kepada masa-masa awal”.
Cucu Imam Khomeini dalam mengenang perjuangan sulit Jamaluddin al Afgani mengatakan, “Benih-benih yang Ia tanam telah membuahkan hasil setelah sekian tahun berlalu di mana Ia dapat di sebut sebagai salah satu perintis atau peletak dasar kepemimpinan konstitusional di Iran dan gerakannya merupakan pemantik penting dalam gerakan konstitusional”.
Beliau dengan menegaskan bahwa jika para agen perubahan (Mushlih) berharap apa yang di katakannya akan berbuah pada masa hidup mereka, adalah harapan sia-sia, menjelaskan, “Kita harus berhati-hati, jika kita menanam benih-benih kebencian, maka setelah puluhan tahun akan melahirkan kelompok teroris semacam ISIS, lantaran beberapa generasi berpengaruh dalam terbentuknya kelompok ini dan semua sekte Islam seukuran saham masing-masing turut berperan dalam terbentuknya gumpalan kanker ini”
Sayyid Hasan Khomeini mengingatkan, “Ketika para ulama telah bersuara “Janganlah kalian menabur benih-benih kebencian di dalam dunia Islam”, kalian jangan saling mencaci antara satu sama lain. Mereka telah meneriakkan bahwa “Pekan persatuan” bukanlah sebuah taktik melainkan sebuah strategi dan pendekatan mazhab-mazhab Islam merupakan sebuah kaidah universal; Mereka telah meprediksi keadaan yang terjadi hari ini”.
Beliau melanjutkan, “Hari di mana Ayatullah al Udzma Burujerdi mengutus ulama dan para pemikir ke Universitas al Azhar Mesir adalah guna mencegah keadaan seperti hari ini”
Cucu mendiang Imam Khomeini dengan menekankan persatuan(Wahdah) sebagai salah satu cita-cita utama revolusi Islam Iran, mengatakan, “Dalam kenyataan ini bahwa musuh-musuh umat Islam telah menyusup pada kita tak di ragukan lagi, mereka telah melihat celah yang di perlukan untuk melakukan infiltrasi dan mengendarai sebagian kebodohan-kebodohan yang terjadi, namun hari ini adalah tugas kita semua untuk menanam kecintaan sesuai kadar kemampuan kita sehingga puluhan tahun kedepan dapat membuahkan hasil”
Beliau dengan mengungkapkan kesedihannya atas kondisi faktual kawasan serta dunia Islam menyatakan, “Hari ini, kaum muslimin telah di permalukan oleh sekelompok orang-orang tak berakal; Mereka yang dalam sebutan Pemimipin Besar Revolusi, dapat di sebut sebagai Ahlussunnah produk Amerika serta Syiah produk Inggris yang mana keduanya berasal dari satu sumber. Olehnya itu, dengan semangat kebersamaan kita harus memikirkan sisi-sisi persamaan antara satu sama lain, karena jalan [mereka] ini tidak akan membawa hasil”
Sayyid Hasan Khomeini menuturkan bahwa setiap kali kita mampu kembali ke jalan utama, maka itu akan menguntungkan kita, beliau menyinggung pula peran ulama dalam menanam benih-benih kecintaan dan persatuan dan berpesan kepada para ulama Afganistan untuk lebih berbelas kasih dalam mendidik para pemuda serta memperkuat ikatan antar generasi.