15 Desember 2022 - 18:09
Kita Semua adalah Qassem Soleimani

Komandan Al-Hashd al-Shaabi mengatakan pada peringatan lima tahun kemenangan atas ISIS, "Semua rakyat Irak berbahagia dalam peringatan kemenangan ini. Prestasi besar ini membutuhkan dukungan dan perlindungan semua pihak."


Menurut Kantor Berita ABNA, Komandan Al-Hashd al-Shaabi mengatakan pada peringatan lima tahun kemenangan atas ISIS, "Semua rakyat Irak berbahagia dalam peringatan kemenangan ini. Prestasi besar ini membutuhkan dukungan dan perlindungan semua pihak." 


“Musuh sampai saat ini tetap beroperasi secara rahasia. Kemenangan atas terorisme membantu menjaga persatuan bangsa. Konspirasi melawan kemenangan ini dilakukan dengan berbagai cara dan dengan merusak stabilitas keamanan, politik dan sosial.” Tambahnya. 


Faleh Fayyaz menambahkan bahwa al-Hashd al-Shaabi adalah organisasi keamanan, namun ciri khasnya adalah kesadaran politik, dan keberadaannya telah dibuktikan dengan mempersembahkan para syuhada. “Kesadaran adalah senjata dengan bantuan Al-Hashd melawan musuh mereka dan musuh Irak.” Tegasnya. 


Faleh Fayyaz, sambil menekankan dukungan kepada pemerintah Irak, berkata, “Kita harus mendukung pemerintah terpilih Irak sehingga memiliki kesempatan yang diperlukan untuk mempresentasikan rencana reformasinya.”


Komandan Al-Hashd al-Shaabi kemudian menekankan, “Kita mengumumkan awal musim kedaulatan dan kesyahidan. Kehadiran kesatuan ini, yang telah mempersembahkan banyak syuhada adalah duri di sisi musuh. Kita semua membela negara ini, sebagaimana Abu Mahdi al-Muhandis. Dan Kita semua adalah Qassem Soleimani.”


Disebutkan, Hasyd al-Syaabi atau Mobilisasi Rakyat Irak adalah kesatuan militer yang berafiliasi dengan lembaga keamanan Irak, yang  bertugas membantu tentara di bawah pengawasan Panglima Angkatan Bersenjata Irak, dan sebagian besar anggotanya adalah Syiah. Hasyd al-Syaabi dibentuk dalam situasi darurat akibat serangan ISIS di Irak pada tahun 2014 dan legitimasinya semakin diperkuat dengan keluarnya fatwa Jihad melawan ISIS oleh Ayatullah Sayid Ali Sistani, seorang ulama marja taklid Syiah di Najaf. 


Hasyd al-Syaabi mencakup lebih dari 40 kelompok militer dan lebih dari 100.000 tentara, termasuk Syiah, Sunni, Kristen, Arab, Turkmens, dan Kurdi. Sayap militer Organisasi Badr, Issa'ib Ahl al-Haq, Kata'ib Hizbollah dan Saraya al-Utbat termasuk di antara kelompok Hasyd al-Syaabi.


Hasyd al-Syaabi telah dianggap efektif dalam perang melawan ISIS. Pasca tumbangnya ISIS, organisasi ini membersihkan sisa-sisa ISIS dan juga aktif dalam bakti sosial. Menurut UU organisasi Hasyd al-Syaabi, kelompok ini, seperti pasukan militer Irak lainnya, dilarang melakukan aktivitas politik.


Pemerintah Amerika Serikat dan Arab Saudi telah menuntut pembubaran atau integrasi Hasyd al-Syaabi ke dalam tentara Irak, dan Amerika Serikat telah menyerang pangkalan Hasyd al-Syaabi di Irak pada tahun 2018 dan 2021. Di sisi lain, Suriah, Republik Islam Iran, dan Hizbullah Libanon dianggap sebagai pendukung kelompok ini. Moqtada al-Sadr, seorang ulama Syiah dan aktivis politik dari Irak, juga menyerukan integrasi Hasyd al-Syaabi dalam tentara Irak dan, sementara Sayid Kazhim Hairi, salah seorang ulama marja taklid Syiah di Irak berpandangan lain. Ia menganggap dianggap sebagai kekuatan independen dari Hashd al-Shaabi diperlukan untuk menjaga keamanan Irak.


Falah Fayyadh adalah komandan dan Hadi Ameri adalah wakil dari Hasyd al-Syaabi. Sebelumnya, Abu Mahdi Muhandis adalah wakil Hasyd al-Syaabi, yang gugur syahid bersama Qassem Soleimani, komandan Pasukan Quds Iran, dalam operasi teroris oleh pemerintah AS.Sesuai dengan aturan 0rganisasi Hasyd al-Syaabi yang telah disetujui oleh Parlemen Irak, pengangkatan pimpinan kesatuan ini dan lebih tinggi, sebagaimana kesatuan militer lainnya, setelah diajukan oleh Perdana Menteri akan ditetapkan oleh parlemen. Namun berdasarkan surat perintah pengadilan nomor 331 tertanggal 17 September 2019 yang dikeluarkan perdana menteri saat itu Adil Abdul Mahdi, pimpinan Hasyd al-Syaabi memiliki wewenang untuk menunjuk komandan dan pimpinan atas nama Perdana Menteri dan menyerahkannya kepada Komando Umum Angkatan Bersenjata untuk disetujui.


Rex Tillerson, Menteri Luar Negeri AS saat itu, sekitar setahun setelah persetujuan undang-undang Organisasi Hasyd al-Syaabi, menyebut organisasi ini sebagai kelompok milisi paramiliter Iran dan meminta agar dibubarkan atau diintegrasikan ke dalam Tentara Irak. Para analis menilai kehadiran beberapa kelompok Hasyd al-Syaabi yang berpengaruh, seperti Korps Badr, Asa'ib Ahl al-Haq, dan Kataib Hizbollah, yang menuntut penarikan pasukan Amerika dari Irak yang membuat AS tidak menyepakati pembentukan Hasyd al-Syaabi. Sebagian analis lainnya berpendapat penentangan AS pada Hasyd al-Syaabi disebabkan kedekatan organisasi ini pada Iran dan Sayid Ali Sistani dan juga kekhawatiran AS akan pengaruh organisasi dalam pemilu Irak. Menteri Luar Negeri Saudi saat itu juga, sekitar Juni 2016 menganggap Hashd sebagai penyebab ketegangan sektarian dan menuntut pembubarannya.

Pada tanggal 3 Maret 2022, Presiden Suriah Bashar al-Assad bertemu dengan komandan Hasyd al-Syaabi, dan dalam pertemuan itu, ia menekankan untuk menghadapi negara-negara pendukung teroris. Demikian pula, menurut Hadi Ameri, wakil Hasyd al-Syaabi, pada 16 November 2016  Bashar Assad mengundang Hasyd al-Syaabi pergi ke Suriah untuk melawan ISIS setelah pembebasan Irak. Sayid Ali Khamenei, pemimpin Republik Islam Iran, juga, dalam percakapan dengan Sayid Ammar Hakim, ketua Dewan Tertinggi Islam Irak, ia menyebut Hasyd al-Syaabi sebagai modal kekuatan rakyat Irak yang harus didukung. Juga Sayid Hasan Nasrallah, pada 19 Agustus 2021 menganggap penguatan Hasyd al-Syaabi diperlukan untuk mempertahankan keamanan Irak.