Menurut kantor berita Ahl al-Bayt (AS) - ABNA , "Operasi mati syahid di kota Quds merupakan bagian dari kegiatan perlawanan di Tepi Barat," kata Ahmed Abdul Hadi pada Minggu (21/11/2021) seperti dilaporkan televisi al-Mayadeen.
Tindakan itu, lanjutnya, merupakan pesan dari kubu perlawanan bahwa Quds adalah milik Arab dan umat Islam.
Abdul Hadi menyatakan faksi-faksi perlawanan telah membuat keputusan untuk menyatukan semua bagian Palestina. Dia menganggap perlawanan sebagai pencegah strategis di hadapan Israel.
Pejabat Hamas ini mencatat bahwa pertempuran Saif al-Quds telah menciptakan perimbangan bagi Palestina, dan pada fase berikutnya, operasi serupa akan diperluas di kota Jenin, Nablus, dan al-Quds.
Pada Minggu siang, seorang pria Palestina menembaki polisi rezim Zionis di daerah Bab al-Silsila, kota Quds. Insiden ini melukai empat polisi Zionis dan menewaskan satu orang.
Polisi rezim Zionis kemudian menembak dan membunuh pemuda Palestina itu. (RM)
342/