Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — Ayatullah Ja’far Subhani, salah satu marja besar taklid, dalam pesan kepada Konferensi Nasional Mubalig Arba’in 1448 H yang digelar menjelang siang hari ini di gedung Perwakilan Wali Fakih untuk Urusan Haji dan Ziarah, menyatakan: Para mubalig Arba’in hendaknya menjelaskan pesan Asyura dengan bersandar pada ajaran-ajaran autentik, sirah praktis, dan bashirah yang memahami tuntutan zaman.
Pada bagian pertama pesan ini, yang teks lengkapnya dibacakan oleh Hujjatul Islam Torabi dalam konferensi tersebut, Ayatullah Subhani menyinggung kedudukan tak tergantikan kebangkitan Husaini. Beliau menyatakan: Kekuatan spiritual Syiah terbentuk di sisi Penghulu Para Syuhada, Sayyiduna Aba Abdillah al-Husain a.s. Dalam peristiwa besar Husaini ini, sifat-sifat luhur, keutamaan, dan kedudukan Sayyid al-Syuhada a.s. serta para sahabat setia beliau harus dijelaskan kepada para peziarah.
Beliau juga menegaskan bahwa kesempatan berharga ini harus dimanfaatkan untuk menjelaskan hakikat-hakikat Islam, menerangkan budaya pengorbanan dan kesyahidan, serta menyampaikan kemerdekaan jiwa para syuhada Karbala yang dengan slogan abadi “هیهات منا الذله” — jauh dari kami kehinaan — tetap abadi dalam sejarah umat manusia.
Marja taklid ini, dalam kelanjutan pesannya, menjelaskan tugas-tugas terpenting para mubalig. Beliau menegaskan: Ucapan seorang mubalig harus bersandar pada Al-Qur’an, sunnah yang pasti, dan ajaran-ajaran sahih Ahlulbait a.s. Ia harus menjauhi segala bentuk materi yang lemah, khurafat, dan riwayat-riwayat yang tidak memiliki sandaran. Ajaran-ajaran Ahlulbait a.s. harus dijelaskan dengan argumentasi rasional dan bukti-bukti Qur’ani agar dapat memberi pengaruh pada hati yang siap menerima.
Beliau kemudian menekankan peran perilaku mubalig dalam efektivitas dakwah. Ayatullah Subhani menyatakan: Ahlulbait a.s. mengajarkan kepada kita agar sebelum berdakwah dengan lisan, kita mengajak manusia kepada agama melalui perilaku. Mubalig yang berhasil adalah orang yang memandang akhlak, adab, kerendahan hati, kesabaran, sikap baik, dan penghormatan sebagai alat dakwah terbaik. Bersikap lembut kepada para peziarah, menjawab pertanyaan dengan hikmah, serta menjaga penghormatan terhadap perbedaan budaya dan mazhab merupakan tugas terpenting seorang mubalig dalam perjalanan spiritual ini.
Pada bagian lain pesannya, Ayatullah Subhani menekankan pentingnya bashirah yang memahami tuntutan zaman. Beliau menyatakan: Pesan Asyura harus dihubungkan dengan kebutuhan dan persoalan masyarakat serta dunia Islam hari ini, agar para audiens, di samping mengenal sejarah dan tujuan kebangkitan Husaini, mampu memahami pesan abadi Asyura bagi manusia masa kini secara benar.
Marja taklid ini, dengan menyinggung bahwa ziarah kepada Sayyid al-Syuhada a.s. merupakan poros utama gerakan besar Arba’in, menegaskan: Sangat layak apabila salah satu poros terpenting dakwah adalah penjelasan tentang mazhab ziarah. Hadis-hadis sahih dan mutawatir mengenai pentingnya ziarah ke makam-makam suci para Maksum a.s., khususnya ziarah kepada Aba Abdillah al-Husain a.s., menunjukkan pengaruh spiritual yang mendalam dari ibadah besar ini.
Beliau kemudian menyebutkan poros-poros terpenting dakwah dalam bidang ziarah. Ayatullah Subhani menegaskan: Filsafat dan hikmah ziarah ke makam suci para Maksum a.s. harus dijelaskan kepada para peziarah, antara lain peningkatan makrifat terhadap sirah dan ajaran-ajaran Ahlulbait a.s., pembaruan janji setia dengan wilayah, serta penguatan iman dan spiritualitas. Selain itu, para peziarah perlu dikenalkan dengan kandungan tinggi teks-teks ziarah yang merupakan sekolah besar bagi pendidikan makrifat, akhlak, loyalitas kepada wilayah, dan penyucian diri.
Ayatullah Subhani juga mengingatkan: Menjaga adab ziarah, termasuk menghormati hak-hak peziarah lain, memuliakan para pelayan dan penduduk sekitar, menjaga antrean terutama saat masuk dan keluar dari haram-haram suci, serta menjaga ketertiban dalam kondisi padat, termasuk hal-hal yang harus ditekankan.
Beliau menambahkan: Ziarah kepada Sayyid al-Syuhada a.s. adalah ibadah yang berpadu dengan makrifat, kekhusyukan, kesedihan, dan ingatan terhadap musibah Asyura. Ia tidak boleh berubah menjadi program rekreasi atau festival. Para peziarah juga harus berusaha menjaga kehormatan tempat-tempat suci Karbala dan kota-kota ziarah lainnya, karena hal ini termasuk bentuk penghormatan terhadap syiar-syiar Ilahi.
Pada bagian akhir pesannya, marja taklid ini menegaskan: Hubungkanlah nama dan kenangan para syuhada tercinta dengan nama Aba Abdillah al-Husain a.s. Jelaskanlah kepada para peziarah kecintaan tulus mereka kepada Ahlulbait a.s. serta budaya pengorbanan dan kesyahidan, agar keberlanjutan jalan Asyura pada masa kita juga dapat dikenali dengan benar.
Di akhir pesannya, Ayatullah Subhani mendoakan keberhasilan bagi para mubalig Arba’in. Beliau juga menyampaikan penghargaan kepada rakyat Irak yang mulia, beriman, dan ramah terhadap tamu, kepada para kabilah, pemerintah, ulama, rohaniwan, serta para pengurus tempat-tempat suci, atas penyambutan yang layak dan pelayanan kepada jutaan peziarah.
Beliau menegaskan: Kehadiran penuh semangat rakyat Irak dalam melayani para peziarah Sayyid al-Syuhada a.s. merupakan manifestasi iman, loyalitas kepada wilayah, persaudaraan Islam, dan ikatan tak terpisahkan antara dua bangsa besar Iran dan Irak. Solidaritas dan kasih sayang ini adalah bagian dari berkah mazhab Husaini dan merupakan modal besar bagi umat Islam.
Komentar Anda